Puasa Ramadan Bukan Sekadar Kewajiban, Ini Penjelasan Medis dan Teologisnya

Puasa Ramadan

MAKLUMATPuasa Ramadan kerap dipahami sebagai kewajiban tahunan umat Islam yang harus ditunaikan agar gugur tanggung jawab syariat. Namun, pemahaman tersebut dinilai belum utuh. Puasa Ramadan sejatinya bukan hanya kewajiban ritual, melainkan kebutuhan mendasar manusia, baik secara spiritual maupun biologis.

Hal tersebut disampaikan dr. Tjatur Prijambodo, Kepala Unit Kedokteran Islam Umsura, dalam kajian reflektifnya tentang makna puasa Ramadan, Kamis (29/1/2026).

Menurutnya, Al-Qur’an telah menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan membentuk kualitas ketakwaan. Puasa menjadi sarana latihan pengendalian diri, kejujuran, empati, serta kesadaran moral di tengah kehidupan modern yang serba berlebih.

“Manusia hari ini hidup dalam kelimpahan makanan, hiburan, dan informasi tanpa jeda. Puasa hadir sebagai jeda ilahiah untuk menata ulang orientasi hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan, puasa yang dijalani tanpa kesadaran makna berisiko kehilangan nilai substansialnya. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa pun selain lapar dan haus, karena puasa hanya berhenti pada aspek fisik.

Diperkuat Sains Modern

Menariknya, pandangan teologis tersebut sejalan dengan temuan ilmiah modern. Dalam dunia medis, puasa dikenal mampu memicu autofagi, yakni proses alami tubuh untuk membersihkan sel-sel rusak dan sisa metabolisme berbahaya.

Baca Juga  Pesan Ramadan, Puan Maharani: Bersihkan Jiwa, Perkuat Iman, Tumbuhkan Kepedulian dan Persaudaraan

Penelitian yang mengantarkan Yoshinori Ohsumi meraih Nobel Kedokteran tahun 2016 menunjukkan bahwa puasa merupakan pemicu kuat mekanisme autofagi. Proses ini berperan penting dalam pencegahan penuaan dini, diabetes tipe 2, penyakit degeneratif, hingga kanker.

Selain itu, puasa Ramadan juga terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan peradangan kronis, memperbaiki profil lemak darah, menstabilkan tekanan darah, serta mendukung kesehatan otak dan fungsi kognitif.

“Dari sudut pandang medis, puasa bukan ancaman kesehatan, justru menjadi masa pemulihan alami bagi tubuh yang terus bekerja,” jelasnya.

Dampak pada Kesehatan Mental

Puasa juga dinilai berdampak signifikan terhadap kesehatan mental. Praktik puasa yang disertai kesadaran spiritual dapat membantu menurunkan stres, kecemasan, serta melatih kemampuan menunda kepuasan (delay gratification). Kemampuan ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan mental dan kecerdasan emosional.

“Puasa mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Ini pelajaran hidup yang sangat penting di era serba instan,” kata dr. Tjatur.

Dari Beban Menjadi Kebutuhan

Ia menegaskan, ketika puasa hanya dipahami sebagai kewajiban, Ramadan mudah terasa berat. Namun jika dipahami sebagai kebutuhan, Ramadan justru menjadi momentum perawatan berkala bagi jiwa dan raga.

Baca Juga  Puasa Bagi Penderita Diabetes, Ini Syarat Amannya

“Perintah puasa bukan beban, tetapi bentuk kasih sayang Tuhan kepada manusia. Seperti dokter memberi resep bukan untuk menyusahkan pasien, melainkan untuk menyembuhkan,” ujarnya.

Puasa Ramadan, menurutnya, bukan sekadar jalan meraih pahala, tetapi kebutuhan esensial manusia untuk membersihkan jiwa, menata ulang hidup, serta memulihkan tubuh dari kelelahan biologis dan mental.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah puasa itu kewajiban, tetapi bagaimana mungkin manusia modern bisa sehat tanpa puasa,” pungkasnya.***