MAKLUMAT — Ramadan bukan hanya bulan untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum strategis untuk mengembangkan ekonomi umat Islam.
“Sudah seharusnya Ramadan dijadikan gerakan ekonomi. Banyak dari kita masih berbicara sebatas ibadah, padahal banyak peluang ekonomi yang sangat dibutuhkan jarang disentuh,” ungkap Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Ustaz Assoc Prof Dr Dian Berkah SHI MHI saat di SD Muhamadiyah 4 (Mudipat) Pucang, Rabu (25/2/2026).
Mengutip kitab Al-Tafsir Al-Ikhtisadi Al-Quran Al-Karim karya Rafiq Yunus al-Misri, Ustaz Dian Berkah menegaskan bahwa momentum Ramadan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi individu maupun masyarakat luas, sekaligus menegakkan prinsip keadilan sosial.
“Orang yang bertakwa itu adalah orang yang ketika ada masalah, dia diberikan solusi oleh Allah, dan mendapatkan rezeki dari-Nya. Kesadaran ini harus menjadi dasar kita menjodohkan ibadah dengan penguatan ekonomi,” sebutnya.
Ia juga menyoroti masalah ekonomi Ramadan yang kerap muncul, yang tidak hanya bersumber dari sistem, tetapi juga dari etika spiritual umat.
“Dari sisi etika spiritual, banyak pemahaman kita yang belum menyentuh ibadah sebagai persoalan ekonomi. Sehingga Ramadan terkadang hanya sebatas ibadah, padahal aspek sosial ekonomi juga penting,” jelas pria yang juga menjabat Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PWM Jawa Timur itu.
Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menciptakan keadilan ekonomi. “Pemerintah tentu berperan, tetapi masyarakat juga harus aktif, peduli secara finansial dan sosial, agar akses ekonomi dapat dinikmati lebih banyak orang,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Ustaz Dian Berkah menandaskan bahwa Ramadan dapat menjadi momentum yang tidak hanya memperkuat spiritual, tetapi juga memperkuat ekonomi umat Islam melalui partisipasi aktif, kebijakan yang tepat, serta keadilan sosial.













