MAKLUMAT — Empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Tim startup TERANGIN sukses menembus posisi Top 4 Global dalam ajang bergengsi Fowler Global Social Innovation Challenge (FGSIC) 2026 yang digelar di University of San Diego, Amerika Serikat, pada 1–3 Mei 2026.
Tim TERANGIN bersaing dengan puluhan finalis dari berbagai negara. Mereka berhasil menyisihkan 43 peserta dari 34 universitas dunia yang berasal dari 10 negara. Tahun ini peserta datang dari berbagai negara seperti Australia, Korea Selatan, Rwanda, Filipina, Ghana, Meksiko, Peru, hingga Indonesia.
Empat mahasiswa ITS yang membawa nama TERANGIN terdiri dari Muhammad Hanif dan Rafi Pradana Panji Irawan dari Teknik Mesin, Rafi Syahputra Lamikan dari Teknik Mesin, serta Diah Ayu Nur Fadilah dari Departemen Statistika. Seluruh anggota tim masih duduk di semester 4.
Keikutsertaan TERANGIN mendapat dukungan penuh dari Pertamina melalui program Pertamuda Seed & Scale 2025.
FGSIC sendiri merupakan kompetisi inovasi sosial tingkat dunia yang diinisiasi University of San Diego dan University of St. Thomas. Kompetisi ini mendorong mahasiswa menciptakan solusi bisnis berbasis dampak sosial dan lingkungan yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.
Inovasi Energi untuk Petani Pelosok
Dalam kompetisi tersebut, TERANGIN membawa inovasi sistem microgrid berbasis energi terbarukan untuk membantu petani di daerah terpencil.
Teknologi itu memanfaatkan turbin angin dan panel surya sebagai sumber energi utama untuk mengoperasikan perangkat pengendali hama tanaman. Sistem tersebut juga dilengkapi rem mekanis otomatis yang bekerja menggunakan dorongan angin ketika putaran terlalu kencang.
Inovasi ini dirancang bukan hanya untuk menyediakan listrik ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
Founder TERANGIN, Muhammad Hanif mengaku kompetisi internasional tersebut menjadi pengalaman besar bagi timnya.
“Kompetisi Fowler Global Social Innovation Challenge mengajarkan kami banyak hal. Kami bertemu calon client internasional dan merasakan persaingan global yang levelnya naik berkali-kali lipat,” ujar Hanif dikutip, Sabtu (9/5/2026).
Keberhasilan TERANGIN menjadi sinyal kuat bahwa inovasi mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level dunia, terutama pada sektor teknologi hijau dan pemberdayaan masyarakat.
“ Terima kasih banyak kepada Pertamina atas dukungannya hingga kami meraih posisi Top 4 Global dalam ajang bergengsi Fowler Global Social Innovation Challenge 2026,” tambah Rafi Syahputra Lamikan.
Anak Muda ITS Buktikan Inovasi Indonesia Bisa Mendunia
Prestasi TERANGIN juga menunjukkan ekosistem inovasi kampus Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih kompetitif. Di tengah isu transisi energi dan ketahanan pangan global, solusi sederhana namun tepat guna seperti yang dikembangkan TERANGIN justru memiliki daya tarik kuat di pasar internasional.
Keberhasilan mahasiswa semester 4 menembus Top 4 dunia menjadi bukti bahwa riset dan kreativitas anak muda Indonesia tidak kalah dibanding kampus-kampus luar negeri. Dukungan industri seperti Pertamina melalui Pertamuda juga mulai memperlihatkan dampak nyata dalam melahirkan startup berbasis solusi sosial.
Dengan capaian ini, TERANGIN tidak hanya membawa nama ITS, tetapi juga mempertegas posisi Indonesia dalam peta inovasi teknologi berkelanjutan dunia.












