Universitas Negeri Malang Lakukan Kajian Topeng Majapahitan di Kediaman Hosnatun Situbondo

Rombongan mahasiswa dan dosen pembimbing dari UM mengikuti Repertoar Jawa Timur di kediaman Hosnatun yang juga Sanggar Wahana Puspa Budaya, Padepokan Topeng Majapahitan, di Situbondo. (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Kediaman Hosnatun alias Pak Tutun yang merupakan Sanggar Wahana Puspa Budaya, Padepokan Topeng Majapahitan, di Situbondo, menjadi pusat kajian budaya saat rombongan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang terdiri dari Dosen Pembimbing dan 34 Mahasiswa melakukan kegiatan Repertoar Jawa Timur, pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.

Mahasiswa UM Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan melakukan eksplorasi dan estetika topeng berbasis sejarah. Dua tarian tradisi yang menjadi fokus penelitian adalah Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran (bersejarah) dan Tari Kreasi Topeng Mongkor sebagai pengembangan dari tradisi topeng berbasis sejarah yang dilestarikan Pak Hosnatun sejak Tahun 1970.

Dosen Prodi Seni Pertunjukan, Departemen Seni dan Desain UM, Dr. Tri Wahyuningtiyas, S.Pd.,M.Si. mengapresiasi dan mengakui dedikasi Hosnatun dalam penguatan seni tradisi topeng di Situbondo.

“Kami tidak salah pilih mendatangi dan melakukan pencantrikan di kediaman Pak Hosnatun di Situbondo. Narasumber Pak Hosnatun atau Pak Tutun memiliki dedikasi yang sangat tinggi dalam pembinaan, pelestarian dan penguatan seni tradisi topeng di wilayah Situbondo dan patut kami apresiasi sebagai maestro di bidang topeng,” ungkapnya.

Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan Hanifah Gheriya Azzahra mengakui memperoleh banyak pengalaman dan wawasan soal Tari Topeng Branyak dan Tari Topeng Mongkor dari kegiatan tersebut.

“Selama mengikuti kegiatan nyantrik di Sanggar Wahana Puspa Budaya, Situbondo, saya memperoleh pengalaman dan wawasan berharga melalui pembelajaran Tari Topeng Branyak dan Tari Topeng Mongkor bersama Pak Tutun. Menurut saya, kedua tarian tersebut bukan hanya sekadar warisan tradisi, tetapi juga menyimpan sejarah dan ikatan emosional yang mendalam. Bertemu dan belajar langsung dari Pak Tutun merupakan pengalaman yang sangat saya syukuri. Terima kasih, Pak Tutun,” ucapnya.

Mahasiswa lainnya, Nandita Auralia, menjelaskan bahwa Tradisi Topeng Branyak Pesisiran merepresentasikan karakter masyarakat lokal yang tegas, lugas, dan berani, dan layak menjadi objek kajian akademis.

“Bagi saya seorang mahasiswa seni, bahwa Seni Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran Situbondo merupakan warisan budaya pesisir yang merepresentasikan karakter masyarakat lokal yang tegas, lugas, dan berani, dan layak menjadi objek kajian akademis. Tari Kreasi Topeng Mongkor merupakan warisan budaya lokal yang sarat nilai historis dan estetika, namun memerlukan strategi pelestarian yang adaptif,” katanya.

“Pemerintah Daerah harus respon terhadap keberadaan seni tradisi topeng khas Situbondo ini. Bapak Hosnatun adalah sosok seniman yang total mendedikasikan hidupnya buat nguri-uri budaya lokal secara swadaya,” tegas Nandita.

Senada, Andika Sahputra dari Prodi yang sama, mengaku memperoleh pengalaman berharga dalam kegiatan tersebut.

“Saya merasa sangat senang dan mendapatkan pengalaman berharga melalui kegiatan pembelajaran seni tradisi Topeng Majapahitan. Saya dapat mengenal lebih dekat keunikan Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran dan Tari Kreasi Topeng Mongkor. Hal yang paling berkesan adalah kesempatan bertemu langsung dengan Pak Tutun yang memiliki pengetahuan dan dedikasi luar biasa. Pesan saya agar kesenian Topeng Majapahitan dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal generasi muda,” kesannya.

Seftia Vanesa menyebut, Tradisi Topeng Branyak Pesisiran sangat khas dan unik.

“Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran sangat khas dalam merekam identitas masyarakat pesisir Situbondo. Keunikan ini diteruskan melalui Tari Kreasi Topeng Mongkor sebagai karakter inovatifnya, wujud inovasi kreatif yang tetap berpijak pada pakem sejarah. Bagi saya, Pak Tutun orangnya sangat dedikatif dan inspiratif dalam merawat akar budaya bangsa,” terangnya.

Jenita Tri Wulandari mengaku senang mendapatkan pengalaman dan pengetahuan selama berkegiatan di sanggar tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Tutun dan seluruh pihak yang terlibat. Ia berharap sanggar tersebut semakin maju dan terus melestarikan seni tradisi Situbondo.

Sementara itu, Novy Herlianti mengungkapkan, selama dua hari nyantrik di kediaman Pak Tutun, ia mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan terkait seni tradisi Topeng Majapahitan.

“Saya semakin mengenal keunikan Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran dan Tari Kreasi Topeng Mongkor. Pengalaman paling berkesan adalah bisa mengenal sosok Pak Tutun, seorang maestro yang sangat luar biasa. Saya kagum dengan kecintaan, ilmu, dan dedikasi beliau,” katanya.

Baca Juga  Hemat Bukan Pelit: PRM UM Ajak Terapkan Efisiensi, Efektivitas, dan Produktivitas yang Berkah

Muhammad Haikal Mediyantono Syahputra, mengaku terkesan dengan kedua Tari Topeng tersebut, yakni Tari Banyak Pesisiran dan Tari Topeng Mongkor.

“Pada Tari Branyak Pesisiran dengan gerakan yang sederhana namun juga tegas, serta Tari Topeng Mongkor dengan gerakan unik dan centil. Bagi saya Pak Tutun adalah seorang maestro yang hebat. Semoga Sanggar Wahana Puspa Budaya semakin maju dan selalu menjaga kelestarian karya tari tradisional,” ungkapnya.

Andini Eky Dwi Safitri dari Prodi yang sama menilai, Tari Topeng Branyak Pesisiran memiliki keunikan pada karakter dan gerak tradisionalnya, sedangkan Tari Kreasi Topeng Mongkor menunjukkan pengembangan kreativitas dalam seni tari tanpa meninggalkan ciri khas topeng.

Senada dengan sejumlah mahasiswa lainnya, Sindy Chitra Dewi juga mengakui mendapatkan banyak pengalaman berharga selama dua hari belajar di Sanggar Wahana Puspa Budaya Situbondo pimpinan Hosnatun, khususnya tentang Tari Topeng Branyak Pesisir.

“Terima kasih atas sambutan hangatnya dari masyarakat sekitar. Semoga Bapak Hosnatun sehat selalu dan sanggar semakin jaya, berkembang, dan berprestasi,” ucapnya.

Sementara Dhea Silvya Riska, menilai bahwa Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran memiliki kekuatan pada wirasa di setiap gerak serta karakter yang mencerminkan identitas masyarakat pesisir.

“Sementara itu, Tari Kreasi Topeng Mongkor menunjukkan kreativitas dalam pengembangan gerak dan iringan musik tanpa meninggalkan akar tradisinya. Pak Tutun menjadi sosok yang sangat berkesan bagi saya,” jelasnya.

Azty Bintang Paradigma dari Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan mengaku sangat senang dan bersyukur dapat mengikuti kegiatan nyantrik di Sanggar Wahana Puspa Budaya, Situbondo.

Selama tiga hari dua malam, ia mengaku mendapatkan pengalaman dan ilmu baru mengenai Topeng Majapahitan, khususnya Topeng Branyak dan Mongkor.

“Hal yang paling berkesan adalah dapat belajar langsung dari Pak Tutun serta merasakan keramahan dan kehangatan keluarga sanggar maupun masyarakat setempat,” kata dia.

Sementara Neza Indira Martaningrum, berpendapat bahwa Tari Topeng Branyak Pesisiran memiliki ciri khas yang menarik, terutama dari karakter topeng dan gerakannya yang menggambarkan identitas budaya masyarakat pesisir.

Sementara itu, lanjut Neza, Tari Kreasi Topeng Mongkor menunjukkan bahwa seni tradisi dapat terus berkembang melalui kreativitas tanpa meninggalkan akar budayanya.

Dwi Rahmawati menilai Tari Topeng Branyak Pesisiran memiliki gerak dan karakter yang unik serta pesan mendalam dengan pembawaan penuh penghayatan. Sedangkan Tari Kreasi Topeng Mongkor mengembangkan beberapa ragam gerak Topeng Branyak menjadi sajian tari yang menarik.

“Pak Tutun merupakan sosok yang ramah, asik, dan penuh semangat dalam berkesenian,” ucapnya.

Di sisi lain, Anas Tasya Salsa Billa berpendapat bahwa Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran merupakan tari topeng yang khas, melalui gerak yang tegas dan sederhana tari ini mampu menyampaikan makna yang tersirat dan filosofi di dalamnya tentang peristiwa di zaman masehi awal mula terbentuknya tari topeng ini.

“Dan Tari Topeng Mongkor merupakan tari kreasi yang unik, dimana topeng dipakai pada bagian belakang kepala, namun hal itu menjadi ciri khas tersendiri. Pak Tutun sangat memotivasi, di usia beliau yang sudah lanjut, beliau masih semangat untuk terus melestarikan budaya Indonesia,” terangnya.

Aisah Rizkia Hanudin, melalui pengalamannya selama dua hari nyantrik di kediaman Hosnatun, mengakui banyak menyerap hal baru terkait seni tradisi dan perbedaan tari tradisi dan kreasi secara jelas.

“Mengenal keunikan Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran dan Tari Kreasi Topeng Mongkor menjadi tambahan pengalaman yang berharga. Hal yang paling berkesan adalah bisa mengenal Pak Tutun, seorang pendiri sekaligus seniman praktisi yang sangat luar biasa,” ungkapnya.

Ani Dwi Ayu Safitri menyebut bahwa melalui kegiatan itu ia mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai karakteristik gerak serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam Tari Topeng Branyak Pesisiran dan Tari Topeng Mongkor.

Baca Juga  Dies Natalis ke-72 UM, Wamendiktisaintek Prof. Fauzan Tekankan Inovasi dan Kolaborasi Kampus

“Kesan saya terhadap Pak Tutun, beliau sangat terbuka dalam berbagi ilmu, sabar dalam membimbing, serta mampu memberikan pemahaman tidak hanya mengenai teknik gerak, tetapi juga sejarah dan makna budaya yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Sementara bagi Naslihna Fatimah Az Zahra, kegiatan repertoar di kediaman Pak Tutun memberikan pengalaman dan pengetahuan baru dalam mengenal kesenian Topeng Majapahitan.

“Saya berkesempatan mempelajari karakteristik Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran serta mempraktikkan Tari Kreasi Topeng Mongkor. Terima kasih kepada Pak Tutun dan keluarga besar sanggar atas ilmu, bimbingan, serta sambutan hangat yang diberikan,” ungkapnya.

Bagi Cita Adiratna Wiyata Mahia, pengalaman  tersebut merupakan kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat kesenian tradisional yang sebelumnya belum banyak ia ketahui.

“Melalui Tari Topeng Mongkor, saya belajar bahwa sebuah tarian tidak hanya tentang menghafal gerakan, tetapi juga memahami karakter, keunikan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Keunikan penggunaan topeng pada bagian belakang kepala menjadi pengalaman tersendiri bagi saya sebagai penari,” jelasnya.

Menurut Intan Aulia, Tari Topeng Branyak Pesisiran memiliki keunikan tersendiri dari segi karakter topeng dan gerakannya yang khas. Sedangkan Tari Kreasi Topeng Mongkor menunjukkan bahwa seni tradisional dapat dikembangkan dengan kreativitas tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Asya Indah Ramadhani, berpendapat bahwa Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran memiliki gerakan yang sederhana, tegas, dan penuh energi, mencerminkan karakter masyarakat pesisir.

“Sementara itu, Tari Kreasi Topeng Mongkor memiliki gerakan yang lebih bervariasi dengan dinamika yang naik turun serta iringan musik yang menarik. Pak Tutun merupakan sosok pengajar yang menyenangkan, penuh totalitas, dan sangat perhatian kepada kami,” ungkapnya.

Bagi Nadia Nurshakilah, mempelajari Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran, selain mengetahui sejarah dan detail geraknya yang berulang-ulang, juga mendalami makna yang ada dalam tari tersebut.

“Tari Topeng Mongkor juga sangat menarik dan menjadi pengalaman unik, pertama kali melihat tari topeng yang diletakkan di belakang kepala. Terima kasih kepada Pak Tutun yang sudah menerima kedatangan kami dengan baik,” terangnya.

Anggun Dwi Safira dari Prodi yang sama, menerangkan bahwa Topeng Branyak Situbondo merupakan warisan budaya yang mencerminkan karakter masyarakat lokal serta memiliki nilai sejarah dan identitas daerah.

Menurutnya, kesenian tersebut perlu terus dilestarikan melalui peran generasi muda, baik dengan mengenalkannya melalui media digital maupun kegiatan seni dan akademis.

“Saya dan teman-teman mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hosnatun (Pak Tutun) atas dedikasi dan ketulusannya dalam melestarikan seni tradisi topeng Situbondo,” ucapnya.

Senada dengan mahasiswa lainnya, Nagita Rizkya Fasha menyebut bahwa Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran sangat khas dalam merekam identitas masyarakat pesisir Situbondo.

“Keunikan tradisi ini berhasil diteruskan secara inovatif melalui Tari Kreasi Topeng Mongkor. Secara teknis, keunikan penggunaan topeng di bagian belakang kepala memberikan pengalaman yang impresif sekaligus menantang sebagai seorang penari. Proses belajar ini terasa semakin bermakna berkat dedikasi Pak Tutun yang sederhana, terbuka, inspiratif, dan memiliki kecintaan luar biasa terhadap kesenian daerah,” katanya.

Griselda Serena Zuhrah, mengakui bahwa setelah mengikuti kegiatan Repertoar Jawa Timur melalui kegiatan nyantrik di Sanggar Wahana Puspa Budaya, ia mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru mengenai kesenian tradisional, khususnya Topeng Majapahitan yang berkembang di Situbondo.

“Menurut saya, Pak Tutun merupakan sosok seniman praktisi yang luar biasa. Melalui Sanggar Wahana Puspa Budaya, beliau tidak hanya mempertahankan keberadaan Topeng Majapahitan, tetapi juga mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai sejarah kepada generasi penerus,” tandasnya.

Sementara itu, Nining Atroful Laili berpendapat bahwa Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang memiliki nilai budaya, keunikan gerak, serta mencerminkan identitas masyarakat pesisir.

“Tari Kreasi Topeng Mongkor merupakan karya tari yang menarik karena mengembangkan unsur tradisi menjadi sajian yang kreatif dan memiliki daya tarik tersendiri. Menurut saya, Pak Tutun merupakan sosok seniman dan pelestari budaya yang patut diapresiasi,” ucapnya.

Baca Juga  BBP Jawa Timur Gandeng Multipihak di Kota Malang, Teguhkan Peran Strategis Penguatan Bahasa Indonesia 

Chyntia Yola Hartanti mengungkapkan pengalamannya dapat belajar secara langsung mengenai tari topeng, mulai dari gerak tari, karakter topeng, hingga cara memahami makna yang terkandung di dalamnya, melalui kegiatan nyantrik tersebut.

“Tari Topeng Branyak merupakan bentuk tari yang memiliki ciri khas gerak dan karakter yang mencerminkan budaya masyarakat pesisir. Menari topeng membutuhkan kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, serta kemampuan untuk memahami karakter yang dibawakan. Pak Tutun adalah sosok seniman yang memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam bidang tari topeng,” katanya.

Ajeng Nurmalita Manggarani menyebut Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran memiliki gerakan yang khas yang menggambarkan karakter masyarakat pesisir. Tarian tersebut juga menunjukkan bagaimana tradisi Topeng Majapahitan berkembang dengan ciri khas masyarakat pesisir.

“Sedangkan Tari Kreasi Topeng Mongkor merupakan pengembangan tradisi yang menarik. Pak Tutun, beliau adalah sosok yang ramah, rendah hati, dan sabar,” sebutnya.

Sedangkan Firda Ayuningtyas, menilai bahwa kegiatan Repertoar Jawa Timur melalui proses nyantrik di Sanggar Wahana Puspa Budaya memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Ia berkesempatan mengenal lebih dekat kesenian tradisional yang berkembang di Situbondo, khususnya Topeng Majapahitan.

“Saya tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai seni tari, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberadaan kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat,” ungkapnya.

Safira Intan Nurvitania dari Prodi yang sama, juga mengaku merasakan pengalaman berkesan yang serupa.

“Dua tarian yang menarik perhatian saya adalah Tari Tradisi Topeng Branyak Pesisiran dan Tari Kreasi Topeng Mongkor. Saya sangat mengagumi dedikasi Pak Tutun dalam melestarikan warisan Topeng Majapahitan dan membagikan ilmunya kepada generasi muda,” ungkapnya.

Bagi Onis Teysa Weinena, dua tarian yang ia pelajari melalui kegiatan tersebut memberikan wawasan tentang keunikan gerak, karakter topeng, serta pengembangan seni tradisi tanpa meninggalkan nilai budaya.

Sementara Faihaa’ Mutia Ramadhani, mengaku menikmati kegiatan nyantrik dalam mata kuliah Repertoar Jawa Timur di Sanggar Wahana Puspa Budaya bersama Pak Tutun.

“Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan bertemu dan belajar secara langsung dengan Pak Tutun. Sejak awal kedatangan, kami disambut dengan sangat ramah, hangat, dan terbuka. Sikap beliau yang begitu welcome, sabar, serta tulus dalam berbagi ilmu membuat kami merasa nyaman dan diterima seperti keluarga sendiri,” ungkapnya.

Nandita Rahmawati menyebut, Tari Topeng Branyak Pesisiran merupakan salah satu kesenian khas Situbondo yang memiliki keunikan dan nilai budaya tersendiri.

“Keunikan tersebut terus dikembangkan melalui Tari Kreasi Topeng Mongkor tanpa meninggalkan akar tradisinya. Bagi saya, pengalaman nyantrik di Situbondo menjadi kesempatan berharga untuk mengenal dan mempelajari kesenian daerah secara langsung, termasuk teknik penggunaan topeng di bagian belakang kepala,” katanya.

Sementara itu, Aura Ardelia mengungkapkan bahwa melalui kegiatan Repertoar Jawa Timur tersebut dapat mengetahui dan mempelajari tentang Topeng Branyak Situbondo dan Tari Topeng Mongkor.

Menurutnya, Topeng Branyak Situbondo adalah warisan budaya yang menggambarkan karakter masyarakat setempat, sekaligus menyimpan nilai sejarah dan menjadi bagian dari identitas daerah.

“Kesenian ini harus terus dilestarikan dengan mengikutsertakan generasi muda lewat media digital serta kegiatan seni dan akademis,” tandas Aura.

Altasya Iwanda Kairala dari Prodi yang sama, menegaskan bahwa dirinya yang berasal dari Tulungagung memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru mengenai kesenian tradisional, khususnya Topeng Branyak Situbondo dan Tari Topeng Mongkor.

“Karena asal saya dari Tulungagung dan belum memiliki pengetahuan lebih mengenai tari Topeng, dari kegiatan ini saya memahami bahwa Topeng Branyak Situbondo bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya yang mencerminkan karakter, sejarah, serta identitas masyarakat setempat. Saya beserta teman-teman juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Tutun,” tandasnya.

Penulis: Agus Ariyanto