Wamendiktisaintek Dorong Lulusan UMM Tak Berhenti pada Gelar

MAKLUMAT – Gelar sarjana bukan garis akhir perjalanan pendidikan. Justru setelah wisuda, para lulusan ditantang membuktikan sejauh mana ilmu dan karakter yang diperoleh selama di kampus mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (24/9/2026).

Fauzan mengibaratkan perjalanan lulusan perguruan tinggi seperti transformasi ulat menjadi kupu-kupu. Menurut dia, perubahan tidak cukup hanya terlihat dari bentuk luar. Yang lebih penting adalah perubahan karakter dan kemampuan menghadirkan kebermanfaatan.

“Transformasi atau evolusi dari ulat menjadi kupu-kupu bukan hanya sekadar perubahan bentuk, tetapi perubahan karakter,” ujar Fauzan.

Mantan Rektor UMM periode 2016–2024 itu menilai masa studi 3,5 hingga empat tahun seharusnya menjadi proses pembentukan karakter. Karena itu, ketika memasuki dunia profesional dan masyarakat, lulusan tidak cukup hanya membawa ijazah dan gelar akademik.

Mereka harus mampu menunjukkan kontribusi yang lebih besar.

“Ini adalah Saudara memasuki zaman kupu-kupu. Kelahiran Saudara saat ini adalah ibarat kupu-kupu. Banyak orang yang akan menunggu nilai kebermanfaatan Saudara,” tuturnya.

Baca Juga  UMM dan Kampus Turki Dorong Lahirnya RS Ternak Keberlanjutan

Menurut Fauzan, pesan tersebut sejalan dengan semangat Kampus Berdampak. Perguruan tinggi tidak semestinya hanya menjadi tempat menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, keberhasilan lulusan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau seberapa cepat mendapatkan pekerjaan. Lebih jauh, lulusan diharapkan mampu menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk menciptakan peluang dan memberikan manfaat di lingkungan sekitarnya.

Fauzan juga mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan pihak-pihak yang ikut membentuk perjalanan mereka. Orang tua, dosen, pembimbing, hingga lingkungan kampus merupakan bagian dari proses transformasi tersebut.

Pesan itu ia gambarkan melalui analogi sebuah pensil. Pensil baru dapat menghasilkan tulisan ketika ada yang menggerakkannya. Filosofi tersebut menjadi pengingat agar lulusan tetap rendah hati dan tidak terjebak mengejar tampilan maupun popularitas.

“Bukan hanya sekadar bentuk, tetapi isi,” tegasnya.

Pesan tersebut mendapat penegasan dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. Menurut dia, lulusan perguruan tinggi harus membawa kebermanfaatan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Dia berharap lulusan UMM tidak hanya menjadi talenta yang siap memasuki dunia kerja. Namun juga mampu membuka lapangan kerja dan menghadirkan dampak yang lebih luas.

Baca Juga  Lewati Batas Kelas: Cerita Mahasiswa UMM di Silpakorn Summer School 2025

“Insyaallah yang diwisuda pada hari ini dan empat kali wisuda ini adalah wisudawan yang siap kerja, wisudawan yang mampu mencetak kerja, dan wisudawan yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menyampaikan komitmen serupa. Menurut dia, kualitas akademik harus berjalan beriringan dengan manfaat nyata bagi masyarakat.

Prinsip itu diterapkan UMM melalui continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. Kampus tidak hanya mengevaluasi kualitas proses akademik, tetapi juga melihat sejauh mana pendidikan yang diberikan menghasilkan lulusan yang mampu memberi manfaat.

“Jika kualitas akademik kita tidak menghasilkan lulusan yang memberi manfaat bagi masyarakat, tentu proses ini harus dievaluasi dan diasesmen ulang,” tegas Nazaruddin.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui UMM Excellent Solution Center (ESC). Ekosistem tersebut menjadi bagian dari transformasi UMM dari sekadar penyedia pengetahuan (knowledge provider) menuju institusi yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat (problem-solving institution).

Bagi para lulusan, perjalanan setelah wisuda menjadi fase baru untuk membuktikan proses transformasi tersebut. Gelar akademik menjadi modal awal, sedangkan kebermanfaatan menjadi ukuran yang harus terus dijaga.

Nazaruddin juga berpesan agar alumni tetap menjaga nama baik almamater melalui pengabdian dan kebaikan di tengah masyarakat. Alumni, kata dia, merupakan bagian dari perjalanan panjang UMM dan tetap memiliki ruang untuk membangun jejaring maupun kembali berkontribusi bagi kampus.

Baca Juga  UMM Jadi Tuan Rumah KKI dan Abdidaya yang Digelar Terpadu, Tegaskan Posisi dalam Ekosistem Inovasi Nasional

“Almamater adalah ibu kandung kedua. Anda diharapkan dapat menjaga maruahnya dengan terus mengabdi dan berbuat kebaikan bagi masyarakat luas, yang merupakan kesejatian alumni UMM,” pungkasnya.