4 Fitrah Manusia Menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Untuk Mewujudkan Pendidikan yang Holistik

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan paparannya dalam acara Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur bertajuk "Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan" yang digelar di Aula KH Mas Mansur Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/7/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengajak ekosistem pendidikan Muhammadiyah untuk terus mengembangkan model pendidikan yang holistik, yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur bertajuk “Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan” yang digelar di Aula KH Mas Mansur Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/7/2026).

Menurut Abdul Mu’ti, prestasi akademik memang penting, namun pendidikan juga harus memberi ruang bagi berkembangnya prestasi non-akademik sebagai bagian dari proses pengembangan fitrah manusia.

“Ada banyak prestasi dari anak-anak kita ini yang harus kita tumbuhkan dan kita kembangkan. Prestasi akademik tentu sangat penting, tetapi prestasi non-akademik juga tidak kalah pentingnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses untuk mengembangkan fitrah manusia. Menurut dia, terdapat empat fitrah yang perlu dibina secara seimbang, yakni fitrah beragama, fitrah akal, fitrah hati, dan fitrah fisik.

4 Fitrah Manusia

Abdul Mu’ti menjelaskan, fitrah pertama adalah fitrah beragama (fitrah ad-din) yang menurutnya merupakan tabiat baik yang telah dimiliki manusia sejak lahir.

Baca Juga  Hadir Tasyakuran Kelulusan Siswa Smamda, Mendikdasmen Puji Kontribusi Muhammadiyah bagi Pendidikan

“Fitrah secara bahasa artinya at-tabiah as-salimah. Tabiat-tabiat yang baik, sifat-sifat bawaan yang mulia, karena pada dasarnya manusia itu kan makhluk yang mulia. Manusia itu makhluk yang lahir ke dunia dalam keadaan beragama,” katanya.

Mengutip pandangan ilmuwan Andrew Newberg dalam Born to Believe, ia menjelaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk beragama, sementara perkembangan keyakinannya dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Hal itu, kata dia, selaras dengan hadis nabi.

Fitrah kedua, lanjut Abdul Mu’ti, adalah fitrah akal yang berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia. “Fitrah yang berkaitan dengan kemampuan-kemampuan akliyah. Kemampuan akliyah itu kemampuan yang lebih tinggi dari berpikir,” ujarnya.

Ketiga, merupakan fitrah yang berkaitan dengan hati atau fitratul qalb, yang berhubungan dengan aspek emosi dan batin manusia. “Kalbu itu fungsi-fungsi fitrah yang dimiliki manusia yang berkaitan dengan emosi,” katanya.

Dalam konteks pembelajaran, ia mengingatkan bahwa proses menghafal tetap penting selama dilakukan dengan pemahaman yang bermakna.

“Menghafalkan bukan berarti gak penting, penting tetapi meaningful memory. Jadi menghafal tetapi yang bermakna. Jangan hanya menghafal tapi ‘ora ngerti karepe (tidak tahu maksud atau maknanya)‘,” tandasnya.

Baca Juga  AI dalam Dunia Pendidikan: Peluang Inovasi atau Ancaman?

Kemudian, fitrah keempat adalah kekuatan fisik. Menurutnya, kondisi fisik yang baik menjadi bagian penting dalam membentuk manusia yang utuh.

“Nah karena itu maka pendidikan kita ini harus mengembangkan semuanya,” katanya.

Mendorong Pendidikan Holistik

Abdul Mu’ti mengatakan pendekatan pendidikan yang saat ini dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di bawah kepemimpinannya, diarahkan pada pendidikan yang holistik, integratif, serta memperhatikan kesejahteraan peserta didik.

“Holistik, integratif. Sekarang istilah yang populer itu namanya well-being. Karena manusia itu tidak hanya akalnya saja. Tidak hanya otaknya saja. Tetapi juga fisiknya harus kuat. Kalbunya harus kuat. Spiritualnya juga harus kuat. Dan itu yang ingin kita kembangkan sekarang dalam kebijakan saya di Kementerian Dikdasmen itu,” paparnya.

Menurutnya, arah kebijakan tersebut sejalan dengan amanat Pasal 31 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan tujuan pendidikan nasional.

“Karena itu kita ingin untuk konsisten dengan amanat konstitusi pasal 31 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945 itu disebutkan pendidikan itu adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlat mulia. Itu yang ingin kita bangun. Cerdas, terampil, mandiri, dan seterusnya. Itu adalah gambaran dari manusia yang unggul,” pungkas Mu’ti, yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.

Baca Juga  Kekuatan Besar dari Kebiasaan Kecil