Anak-anak Korban Bencana Sumatera Trauma Dengar Hujan, DPR Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Psikologis

MAKLUMAT – Bencana alam yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh meninggalkan dampak serius bagi dunia pendidikan. Anak-anak korban bencana kini mengalami trauma mendalam, bahkan ketakutan hanya dengan mendengar suara hujan.

Anggota Komisi X DPR RI, Sabam Sinaga menegaskan pemerintah tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik sekolah semata. Pemulihan psikologis anak harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana.

“Trauma anak-anak ini nyata. Jika tidak segera dipulihkan, mendengar suara hujan saja bisa membuat mereka ketakutan. Pemerintah harus hadir dengan penanganan psikologis yang serius,” kata Sabam dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Politikus Fraksi Partai Demokrat itu memperingatkan risiko hilangnya satu generasi pelajar jika trauma pascabencana dibiarkan berlarut. Ia menilai ketakutan dan tekanan mental menjadi salah satu penyebab utama anak enggan kembali ke sekolah, selain kerusakan bangunan pendidikan.

Tak hanya soal psikologis, Sabam juga menyoroti ancaman meningkatnya angka putus sekolah. Bencana, kata dia, telah melumpuhkan ekonomi keluarga korban sehingga pendidikan anak berpotensi terpinggirkan demi bertahan hidup.

“Struktur ekonomi masyarakat terganggu. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan anak bisa terabaikan dan risiko putus sekolah sangat besar. Pemerintah harus punya langkah konkret,” ujarnya.

Baca Juga  Sebanyak 63 Persen Sekolah Rakyat Telah Beroperasi, Jangkau 9.705 Anak

Sabam mendesak pemerintah melakukan pemulihan cepat dan menyeluruh, mulai dari rehabilitasi sekolah hingga pendampingan psikologis bagi peserta didik. Ia menekankan, keterlambatan pemulihan hanya akan memperpanjang penderitaan anak-anak korban bencana.

“Sekolah harus segera diperbaiki dan anak-anak harus mendapatkan pendampingan. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena negara lambat bertindak,” tegasnya.