MAKLUMAT — Umat Muslim di seluruh dunia hampir selalu memulai berbuka puasa dengan kurma. Banyak yang melakukannya karena mengikuti sunah Muhammad SAW. Namun, di balik tradisi tersebut, sains justru menemukan alasan medis yang sangat kuat.
Pulihkan Energi Tanpa Lonjakan Gula Berlebihan
Selama berpuasa, tubuh menggunakan cadangan glukosa untuk mempertahankan energi. Saat waktu berbuka tiba, tubuh membutuhkan asupan yang cepat diserap namun tetap stabil.
Ahli diet terdaftar asal Inggris, Shehnaz Bashir, seperti dikutip dari BBC News, menjelaskan bahwa kurma mengandung gula alami sederhana sekaligus karbohidrat kompleks.
Gula sederhananya memberi dorongan energi instan. Sementara karbohidrat kompleksnya menjaga pelepasan energi berlangsung bertahap sepanjang malam. Kombinasi ini mencegah lonjakan gula darah yang ekstrem sekaligus membuat tubuh tidak “kaget” setelah seharian kosong.
Tak hanya itu, kurma juga mengandung vitamin B6, vitamin A, vitamin K, serta zat besi yang membantu memulihkan stamina lebih cepat.
Bantu Hidrasi Lebih Efektif
Meski bertekstur kering, kurma kaya akan kalium (potasium). Mineral ini membantu tubuh mengatur keseimbangan cairan dengan menarik air masuk ke dalam sel.
Artinya, ketika seseorang mengonsumsi kurma lalu minum air putih, proses hidrasi berjalan lebih optimal. Tubuh tidak sekadar “terisi”, tetapi benar-benar menyerap cairan dengan efektif.
Kendalikan Nafsu Makan, Cegah Overeating
Pola tradisional berbuka—makan beberapa butir kurma, menunaikan salat Maghrib, lalu menyantap makanan utama—ternyata memiliki logika fisiologis yang kuat.
Serat dalam kurma membantu mengirim sinyal kenyang ke otak. Jeda waktu sebelum makan besar memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk “aktif” lebih dulu.
Hasilnya, risiko makan berlebihan (overeating), perut begah, hingga kenaikan berat badan selama Ramadan dapat ditekan.
Lancarkan Pencernaan Selama Ramadan
Perubahan pola makan saat Ramadan kerap memicu sembelit dan gangguan pencernaan. Kurma menawarkan solusi alami.
Kandungan seratnya yang tinggi merangsang pergerakan usus dan membantu melancarkan proses pembuangan sisa makanan. Konsumsi kurma secara rutin saat berbuka dapat menjaga sistem pencernaan tetap stabil meski frekuensi makan berkurang.
Bagi yang kurang menyukai tekstur aslinya, kurma dapat diolah menjadi smoothie, dicampur susu, atau yoghurt tanpa mengurangi manfaatnya.
Berbuka puasa dengan kurma bukan hanya tradisi turun-temurun. Ia merupakan pilihan nutrisi yang presisi dan selaras dengan kebutuhan metabolisme tubuh. Sunah yang dijalankan selama berabad-abad ini ternyata juga mendapat pembenaran dari ilmu kesehatan modern.***













