Akidah Islam Berkemajuan

Akidah Islam Berkemajuan

MAKLUMAT — Ketika membaca tema pengajian Ramadan 1447 H tentang “Akidah Islam Berkemajuan”, muncul sejumlah pertanyaan mendasar: mungkinkah Akidah Islam dirumuskan ulang dalam kerangka kemajuan? Apakah Akidah Islam belum mengandung unsur berkemajuan? Ataukah konsep tauhid sebagai inti akidah dapat mengalami perubahan?

Pertanyaan tersebut penting diajukan agar arah diskusi tidak menimbulkan salah paham terhadap substansi tema. Setelah paparan mengenai teologi Islam klasik dan aliran-alirannya, pembahasan kini diarahkan pada model pembacaan, pemaknaan, dan interpretasi terhadap akidah Islam dalam masyarakat kontemporer—yakni masyarakat yang telah bergerak dari pola agraris dan industri menuju masyarakat teknologi digital dalam kerangka negara bangsa modern dengan kompleksitas sosial, ekonomi, dan politiknya.

Dalam konteks ini, pembahasan tentang “Akidah Islam Berkemajuan” tetap relevan, terutama karena Muhammadiyah masih terus mendefinisikan secara konseptual makna kemajuan tersebut. Gagasan Islam Berkemajuan sendiri merupakan proyeksi besar dari gerakan pembaruan Muhammadiyah.

Secara terminologis, perlu ditegaskan beberapa istilah pokok. Akidah adalah keyakinan kokoh terhadap ajaran Islam. Iman adalah keyakinan terhadap aspek-aspek yang wajib diyakini seperti Allah, Rasul, dan kitab-kitab. Tauhid merupakan inti akidah yang menegaskan keesaan Allah.

Dari Mutakallimin ke Tauhid Murni dan Akal Budi

Sebagai inti ajaran Islam, akidah telah menjadi bahan perdebatan berabad-abad lamanya. Formasi teologis umat Islam saat ini tidak terlepas dari proses panjang diskursus para teolog (mutakallimun).

Baca Juga  Prabowo-Gibran Menang di TPS Ketum PP Muhammadiyah Mencoblos

Dalam sejarahnya, teologi Asy’ariyah tampil sebagai narasi teologis dominan yang paling luas dianut, termasuk di Indonesia. Ia mengimbangi bahkan mengalahkan teologi rasional Mu’tazilah yang sempat dominan pada masa Abbasiyah. Sementara itu, aliran seperti Murji’ah, Jabariyah, Kharijiyah, dan Jahmiyah berkembang dalam lingkup yang lebih terbatas.

Seluruh aliran tersebut memperdebatkan persoalan keyakinan, sifat Tuhan, zat, kalam, serta wujud Tuhan. Banyaknya upaya pemurnian akidah juga melahirkan berbagai aliran pemikiran.

Literatur klasik yang memetakan sekte-sekte Islam antara lain al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahrastani dan al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal karya Ibnu Hazm.

Seiring menguatnya arus Sunni, lahir pula karya-karya peneguhan akidah seperti Kitab al-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab serta Kitab al-Iman dan al-Aqidah al-Wasathiyah karya Ibnu Taimiyah yang menekankan kemurnian akidah.

Sebaliknya, Muhammad Abduh melalui Risalah al-Tauhid menekankan pentingnya akal budi dalam memahami tauhid guna membebaskan umat dari taklid dan tahayul.

Muhammadiyah sendiri kerap dipahami menyandingkan semangat pemurnian dan pembaruan melalui konsep tarjih dan tajdid. Kiai Ahmad Dahlan mengenal pemikiran Ibn Taimiyah dan Wahhab, tetapi juga membaca Abduh dan Afghani.

Trilogi Makna Iman: Qalb, Lisan, dan Arkan

Dalam tradisi Islam, iman dimaknai melalui tiga unsur yang saling berkaitan: pembenaran dalam hati (tasdiq bi al-qalb), pernyataan lisan (ikrar bi al-lisan), dan perbuatan nyata (af’al bi al-arkan).

Baca Juga  Salurkan Bantuan dan Perkuat Ekonomi Warga Terdampak Tambang di Wadas, Muhammadiyah Tegaskan Keberpihakan

Pemahaman terhadap tauhid tidak hanya berhenti pada keyakinan, tetapi berimplikasi pada sikap hidup, praktik ritual, serta formulasi fikih.

Identitas keislaman dapat dilihat dari tiga dimensi utama: aspek teologis, narasi filosofis, dan praktik fikih sistemik.

Dalam perkembangan masyarakat modern, muncul variabel baru berupa isu-isu kontemporer yang menuntut pembacaan baru, tajdid, serta inovasi. Persoalan klasiknya tetap berkisar pada hubungan antara teks (nash) dan realitas (waqi’): apakah teks menjadi pusat mutlak, ataukah kebutuhan manusia menjadi basis interpretasi.

Muhammad Abduh menegaskan bahwa ajaran agama tetap dapat dijangkau oleh akal manusia.

Pembacaan Baru dan Pencarian Makna

Perkembangan peradaban manusia menunjukkan perubahan kerangka berpikir:

  • Peradaban teks dalam tradisi Arab-Islam klasik menempatkan teks sebagai sumber utama kebenaran

  • Peradaban akal dalam tradisi Yunani menjadikan rasio sebagai ukuran kebenaran

  • Peradaban ilmu dan teknologi modern

  • Hingga peradaban digital atau Society 5.0

Memahami bentuk peradaban menjadi penting karena ia menentukan cara membaca teks agama.

Sejumlah pemikir modern menawarkan pendekatan baru. Nasr Hamid Abu Zaid memperkenalkan hermeneutika dengan konsep maghza, yakni makna yang lahir dari dialog antara teks dan konteks. Hasan Hanafi melalui karya seperti Turath wa Tajdid dan Min al-Nash ila al-Waqi’ mendorong transformasi teologi dari wilayah teoritis menuju praksis untuk mengubah realitas manusia. Sementara Muhammad Abid al-Jabiri mengembangkan tiga model nalar: bayani (teks), burhani (rasional), dan irfani (intuisi) yang harus saling melengkapi.

Baca Juga  PP Muhammadiyah Serukan Efisiensi, Seluruh Kantor Persyarikatan Wajib Hemat Listrik dan Air

Muhammadiyah: Kemurnian Akidah dan Praksisme

Secara historis Muhammadiyah telah merumuskan konsep akidah murni berbasis tauhid dengan landasan utama Al-Qur’an dan Sunnah sahihah. Namun pada saat yang sama, Muhammadiyah tetap membuka ruang tajdid dengan mengakui peran akal budi, konteks sosial-politik-ekonomi, serta realitas kemanusiaan.

Dalam perkembangan pemikirannya, Muhammadiyah juga telah menggeser tauhid dari sekadar konsep teoretis menuju praksis kemanusiaan.

Hal ini tampak dalam Risalah Islam Berkemajuan yang membahas isu-isu seperti keadilan sosial, kemanusiaan universal, gender, demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan, fikih air, serta kebencanaan. Seluruhnya dibingkai dalam integrasi tauhid, akal budi, dan ilmu pengetahuan.

Konsep amal saleh berjalan beriringan dengan amal usaha sebagai manifestasi tauhid praksis dalam kehidupan nyata.

Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah memastikan bahwa konsep tauhid murni tidak berubah menjadi tradisi yang justru menghentikan tajdid dan pembacaan baru. Tauhid harus terus dipelihara sebagai fondasi kemurnian iman sekaligus sumber energi pembaruan, sehingga tetap relevan dalam menjawab dinamika masyarakat kontemporer.

*) Diadaptasi dari materi pengajian Ramadan 1447 Hijriah, PP Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D.***