Siti Munjiyah: Pelopor Perempuan Progresif dari Rahim Aisyiyah

Siti Munjiyah.

MAKLUMAT — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Jawa Timur bakal mengusulkan enam tokoh besar Persyarikatan yang dinilai telah berkontribusi besar bagi Bangsa Indonesia untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional, salah satunya adalah Siti Munjiyah.

Ketua LHKP PWM Jawa Timur, Muhammad Mirdasy, menilai penting untuk mendorong tokoh-tokoh tersebut untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghargaan negara atas peran serta jasa-jasa besar mereka dalam membangun bangsa.

“Ini penting. Banyak tokoh bangsa yang telah berjuang dan berkontribusi besar bagi tegaknya Indonesia, yang sampai saat ini ternyata belum dianggap secara resmi sebagai pahlawan, karena memang negara belum menetapkan secara resmi gelar Pahlawan Nasional kepada mereka,” ujarnya kepada Maklumat.id.

Sosok Siti Munjiyah, yang menurutnya sangat penting dalam sejarah pergerakan kaum perempuan di tanah air, terutama dalam peranannya di Kongres Perempuan I tahun 1928. Namun, sampai saat ini belum diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

“Misalnya Siti Munjiyah, seorang pejuang perempuan yang luar biasa, orator ulung dari Aisyiyah yang juga berperan penting dalam sejarah pergerakan. Beliau ini salah satu pimpinan Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta,” kata Mirdasy.

Mengenal Siti Munjiyah

Dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia, nama Siti Munjiyah menempati posisi penting sebagai salah satu pelopor dan pejuang yang menautkan antara kesadaran keagamaan, kebangsaan, dan emansipasi perempuan.

Siti Munjiyah bukan sekadar aktivis organisasi karena kiprahnya di Aisyiyah, tetapi juga pemikir dan penggerak yang memperluas cakrawala perjuangan perempuan Muslim di awal abad ke-20.

Lahir pada 1896, Siti Munjiyah tumbuh dalam lingkungan pergerakan Islam modernis yang berkembang pesat di Yogyakarta pada awal 1900-an. Ia adalah anak keenam dari Haji Hasyim Ismail.

Baca Juga  Abdul Mu'ti Minta BPIP Belajar dari Polemik Paskibraka

Siti Munjiyah berada dalam orbit pembaruan yang digerakkan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang kelak menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di tanah air.

Atmosfer intelektual dan semangat tajdid (pembaruan) yang dikembangkan Muhammadiyah memberi ruang bagi perempuan untuk tampil di ruang publik. Dari sinilah Siti Munjiyah menemukan panggilan perjuangannya: membebaskan perempuan dari keterbelakangan pendidikan, ketidakadilan sosial, dan pembatasan peran akibat tafsir keagamaan yang sempit.

Kiprah Awal di Aisyiyah

Sebagai kader awal Aisyiyah—organisasi perempuan Muhammadiyah yang berdiri tahun 1917—Siti Munjiyah tampil sebagai orator dan penggerak yang berani.

Pada masa ketika perempuan masih dipinggirkan dari ruang-ruang diskusi publik, ia telah berbicara tentang pentingnya pendidikan perempuan, kesadaran beragama yang mencerahkan, dan tanggung jawab sosial kaum ibu.

Di forum-forum perempuan, ia menyuarakan bahwa perempuan bukan sekadar “pendamping”, tetapi subjek aktif dalam membangun masyarakat dan bangsa. Pidato-pidatonya menekankan bahwa Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk berilmu dan berperan, bahkan justru mewajibkannya.

Tak cuma itu, ia juga turut memperkuat fondasi Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam modern: mendirikan sekolah, menggerakkan pengajian, membangun kesadaran kesehatan keluarga, serta mengembangkan kegiatan sosial untuk kaum duafa.

Lebih jauh, Siti Munjiyah pada akhirnya juga mendapatkan mandat untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum Aisyiyah pada periode 1932-1937. Menegaskan kiprah pentingnya dalam pergerakan kaum perempuan.

Peran dalam Gerakan Perempuan Nasional

Kiprah Siti Munjiyah tidak berhenti di lingkup organisasi internal Aisyiyah semata. Ia terlibat dalam dinamika gerakan perempuan nasional yang menguat sejak dekade 1920-an.

Baca Juga  LHKP PWM Jawa Timur Bawa Tiga Program Penting ke Rakernas

Pada masa itu, berbagai organisasi perempuan bermunculan dan membangun kesadaran kolektif untuk memperjuangkan pendidikan, perbaikan hukum perkawinan, dan partisipasi perempuan dalam kehidupan publik.

Dalam pertemuan-pertemuan lintas organisasi, gagasan yang dibawanya memperlihatkan corak khas: emansipasi yang berakar pada nilai-nilai Islam progresif. Ia menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak harus menanggalkan identitas keagamaan, melainkan justru bersumber dari spirit keadilan dalam ajaran Islam.

Pandangan ini menjadi penting karena memperkaya spektrum gerakan perempuan Indonesia—bahwa ada jalur emansipasi berbasis keimanan yang tetap progresif dan berorientasi pada kemajuan.

Siti Munjiyah berperan penting dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928, di mana ia bertindak sebagai Wakil Ketua Panitia.

Tak cuma itu, dalam kesempatan itu Siti Munjiyah juga menyampaikan pidato yang menggugah kesadaran tentang derajat perempuan dan merespons gerakan feminisme liberal yang tengah berkembang. Ia menegaskan bahwa derajat dan kemuliaan kaum perempuan yaitu tinggi budinya, banyak ilmunya, dan baik kelakuannya.

Tampilnya Siti Munjiyah dalam forum tersebut membuka pandangan baru bagi para wanita untuk dapat berperan di dalam masyarakat dan menyingkirkan sekat-sekat tradisional.

Aktivisme Sosial dan Pendidikan

Salah satu fokus utama perjuangan Siti Munjiyah adalah pendidikan. Ia meyakini bahwa kebodohan adalah akar dari berbagai bentuk ketertindasan perempuan. Karena itu, ia aktif mendorong pendirian sekolah-sekolah untuk anak perempuan dan penguatan literasi keagamaan yang rasional.

Melalui Aisyiyah dan Muhammadiyah, ia turut memperluas jaringan pendidikan perempuan yang tidak hanya mengajarkan baca-tulis, tetapi juga kesadaran sosial dan tanggung jawab kebangsaan. Perempuan, dalam pandangannya, adalah pendidik generasi; jika perempuan tercerahkan, maka bangsa pun akan terangkat.

Baca Juga  Wacana Revisi Paket UU Politik, Muhammadiyah Siap Rumuskan Naskah Akademik

Di bidang sosial, ia terlibat dalam kegiatan santunan, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi sederhana yang membantu perempuan keluar dari ketergantungan.

Spirit Kebangsaan dan Keagamaan

Meski bergerak dalam organisasi Islam, perjuangan Siti Munjiyah tidak eksklusif. Ia memahami bahwa kebangkitan perempuan adalah bagian dari kebangkitan bangsa.

Dalam konteks kolonialisme, peningkatan kualitas perempuan berarti memperkuat daya tahan sosial masyarakat Indonesia.

Ia memadukan tiga dimensi gerakan sekaligus, yakni keagamaan yang mencerahkan, emansipasi yang berkeadilan, serta nasionalisme yang inklusif. Perpaduan inilah yang menjadikan kontribusinya relevan dalam sejarah panjang gerakan perempuan Indonesia.

Warisan Pemikiran dan Keteladanan

Warisan terbesar Siti Munjiyah bukan hanya pada jabatan atau struktur organisasi, melainkan pada gagasan dan keteladanan. Ia menunjukkan bahwa perempuan Muslim dapat menjadi intelektual, aktivis, sekaligus pemimpin sosial tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Di tubuh Aisyiyah dan Muhammadiyah, jejak perjuangannya menjadi fondasi penting bagi berkembangnya gerakan perempuan Islam yang berkemajuan hingga hari ini. Semangatnya hidup dalam ribuan amal usaha pendidikan, kesehatan, dan sosial yang dikelola perempuan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Siti Munjiyah adalah representasi generasi awal perempuan Indonesia yang melampaui zamannya—menganyam iman, ilmu, dan keberanian menjadi satu tarikan napas perjuangan.

Dengan kiprah dan kontribusi yang sedemikian besar, terutama bagi pergerakan perempuan, Siti Munjiyah sangat layak untuk dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional.