MAKLUMAT — Aula SMA Muhammadiyah 3 Jember, pada Jumat (6/3/2026) pagi itu terasa berbeda. Tidak ada riuh siswa yang biasanya memenuhi koridor sekolah. Yang terdengar justru suara pembacaan surat keputusan, diselingi tepuk tangan pelan dari para guru dan pimpinan persyarikatan yang hadir.
Di ruangan itu, tiga nama dipanggil satu per satu. Mereka bukan orang baru di sekolah tersebut. Selama ini mereka dikenal sebagai guru—mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran, menegur siswa yang terlambat, atau menyemangati anak-anak yang mulai kehilangan percaya diri.
Namun pagi itu, peran mereka berubah. Melalui prosesi pelantikan yang berlangsung sederhana, tiga guru tersebut resmi menerima amanah sebagai wakil kepala sekolah SMA Muhammadiyah 3 Jember.
Ummatul dilantik sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan. Alfiyah dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan Humas. Sementara Agung Sedayu mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana.
Pelantikan itu dihadiri Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof. Dr. Khozin, M.Si, serta Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember Dr. Sofyan Rofi, M.Pd, bersama Sekretaris Dr. Bahar Agus Setiawan.
Namun yang paling diingat dari pagi itu bukan hanya pembacaan nama-nama jabatan. Yang membekas justru empat kata.
Empat Kata untuk Memimpin
Dalam sambutannya, Dr. Sofyan Rofi tidak banyak berbicara tentang administrasi sekolah atau program kerja. Ia memilih menyebut empat nilai yang menurutnya menjadi fondasi kepemimpinan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Integritas. Loyalitas. Komitmen. Kolaborasi.
Empat kata itu ia ucapkan perlahan, seolah ingin memastikan setiap orang di ruangan itu benar-benar memahaminya. Menurut Sofyan, jabatan wakil kepala sekolah bukan sekadar posisi struktural dalam organisasi sekolah. Jabatan itu adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Integritas, katanya, menjadi dasar pertama. Pemimpin di lingkungan pendidikan Muhammadiyah harus menjadi teladan dalam kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Tanpa integritas, kepemimpinan hanya akan menjadi jabatan kosong.
Nilai kedua adalah loyalitas. Namun loyalitas yang dimaksud bukan sekadar kepada pimpinan sekolah. Loyalitas itu harus mengarah pada visi pendidikan Muhammadiyah dan misi besar mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian komitmen. Dunia pendidikan, kata Sofyan, membutuhkan kesungguhan yang tidak berhenti pada rutinitas. Komitmen berarti terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan, membina guru, dan membentuk karakter siswa.
Terakhir adalah kolaborasi. Kemajuan sekolah, ia mengingatkan, tidak pernah lahir dari kerja satu orang. Ia tumbuh dari kerja bersama—antara kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat.
Amanah yang Lebih Besar
Bagi sekolah Muhammadiyah, kepemimpinan bukan sekadar mengelola lembaga pendidikan. Ia adalah bagian dari pengabdian kepada persyarikatan dan kepada masyarakat. Di situlah makna pelantikan itu menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Tiga guru yang pagi itu berdiri di depan aula tidak hanya menerima jabatan baru. Mereka menerima tanggung jawab untuk menjaga arah pendidikan, merawat nilai-nilai keislaman, sekaligus memastikan sekolah terus berkembang di tengah perubahan zaman. Di akhir sambutannya, Sofyan menyampaikan harapan sederhana.
Ia berharap para wakil kepala sekolah yang baru dilantik dapat menjadi penggerak yang menghadirkan semangat kebersamaan, inovasi, dan pelayanan pendidikan yang semakin berkualitas.
Sebab di balik setiap sekolah yang maju, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam—memikul amanah yang tidak ringan, tetapi dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Dan pagi Jumat itu, amanah itu berpindah ke pundak tiga orang guru di SMA Muhammadiyah 3 Jember. ***














