Oleh: Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed., Apt. *)
MAKLUMAT — Setiap tanggal 24 Maret, dunia memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia sebagai momentum refleksi sekaligus seruan aksi bersama. Tahun 2026 ini mengusung tema “Yes! We can end TB!”—sebuah optimisme kolektif bahwa tuberkulosis (TB), salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, bukanlah takdir yang tak bisa diakhiri.
Namun, optimisme itu tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi komitmen nyata, kebijakan yang progresif, serta partisipasi aktif masyarakat. Sebab, hingga kini TB masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, termasuk Indonesia.
Data dalam Global TB Report 2025 menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 10,7 juta kasus TB di dunia dengan 1,23 juta kematian. Indonesia bahkan menempati posisi kedua tertinggi setelah India, dengan estimasi 1,1 juta kasus baru dan 134 ribu kematian. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.
Pekerjaan Rumah yang Besar
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target eliminasi TB pada tahun 2030. Namun, jalan menuju target tersebut tidaklah mudah. Masih terdapat berbagai kendala struktural yang menghambat upaya penanggulangan TB.
Pertama, kesenjangan diagnosis. Banyak kasus TB yang tidak terdeteksi sejak dini, sehingga pasien datang dalam kondisi yang sudah parah.
Kedua, persoalan biaya pengobatan yang kerap menjadi beban bagi pasien, berujung pada putusnya terapi di tengah jalan.
Ketiga, keterbatasan akses layanan kesehatan, khususnya di wilayah terpencil.
Keempat, meningkatnya kasus resistensi obat atau multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB), yang membuat pengobatan semakin kompleks dan mahal.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan, khususnya dalam pengembangan metode diagnosis. Penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) menjadi salah satu terobosan penting. Teknologi berbasis PCR ini mampu mendeteksi bakteri TB sekaligus resistensi terhadap obat dalam waktu singkat, bahkan kurang dari dua jam.
Selain itu, metode seperti IGRA (Interferon-Gamma Release Assay) dan uji kepekaan obat turut memperkuat sistem diagnosis yang lebih akurat. Transformasi ini menandai pergeseran penting dalam strategi penanganan TB, dari pendekatan konvensional menuju teknologi berbasis molekuler yang lebih cepat dan presisi.
Namun demikian, teknologi saja tidak cukup. Tanpa akses yang merata dan kualitas layanan yang terjamin, inovasi tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal. Di sinilah pentingnya peran negara dalam memastikan pemerataan fasilitas kesehatan hingga ke pelosok, sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga medis dan laboratorium.
Di sisi lain, pencegahan tetap menjadi kunci utama. Program vaksinasi BCG terbukti efektif melindungi anak-anak dari TB. Sementara itu, pengobatan preventif bagi individu dengan infeksi laten juga harus diperluas. Upaya sederhana seperti penggunaan masker, ventilasi yang baik, serta etika batuk yang benar masih relevan dan perlu terus digalakkan.
Yang tak kalah penting adalah kepatuhan dalam pengobatan. TB bukan penyakit yang bisa disembuhkan secara instan. Ia membutuhkan disiplin tinggi dalam menjalani terapi hingga tuntas. Di sinilah peran keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan menjadi sangat vital untuk memberikan dukungan moral sekaligus pengawasan.
Tanggung Jawab Bersama
Tema “Yes! We can end TB!” sejatinya mengandung pesan mendalam: bahwa keberhasilan mengakhiri TB bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga medis semata, melainkan tanggung jawab bersama. Kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, hingga komunitas akar rumput—menjadi keniscayaan.
Lebih jauh, eliminasi TB juga menuntut pendekatan yang holistik. Faktor sosial-ekonomi seperti kemiskinan, kepadatan hunian, dan gizi buruk turut berkontribusi terhadap tingginya angka kasus TB. Artinya, penanganan TB tidak bisa dilepaskan dari agenda besar pembangunan manusia.
Target World Health Organization untuk mengeliminasi TB pada tahun 2050—dengan menurunkan insidensi menjadi kurang dari 1 kasus per 1 juta penduduk—memang ambisius. Namun, target tersebut bukan mustahil dicapai jika ada keseriusan global dan nasional dalam menanganinya.
Akhirnya, peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 harus dimaknai sebagai titik tolak, bukan sekadar seremoni. Harapan besar telah digaungkan, kini saatnya memastikan bahwa harapan itu berwujud dalam langkah nyata.
Karena pada akhirnya, mengakhiri TB bukan hanya tentang menyelamatkan jutaan nyawa, tetapi juga tentang menjaga martabat kemanusiaan. Dan untuk itu, satu hal yang pasti: kita memang bisa—asal kita benar-benar bergerak bersama.
Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita semua dari berbagai penyakit infeksi termasuk penyakit tuberkulosis. Aamiin. ***












