Pentagon Konfirmasi Jumlah Korban AS: 13 Tewas, 365 Tentara Terluka

Pasukan militer AS. (Foto: SS Roya News)

MAKLUMAT — Pentagon mengonfirmasi sebanyak 13 tentara tewas dan 365 anggota militernya terluka dalam operasi “Epic Furry” yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu dan kini telah berlangsung selama pekan kelima.

Dikutip dari Roya News yang melansir CNN pada Sabtu (4/4/2026), seorang sumber Pentagon mengungkap rincian tentara yang menjadi korban, di mana data menunjukkan mayoritas yang terluka berasal dari Angkatan Darat (247 tentara). Kemudian Angkatan Laut melaporkan 63 tentara terluka, Korps Marinir 19 tentara, dan Angkatan Udara sebanyak 36 tentara dilaporkan cedera.

Menurut sumber tersebut, lebih dari 75 persen cedera melibatkan cedera otak traumatis, yang diakibatkan oleh kekuatan eksternal pada kepala dan dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, muntah, atau kehilangan kesadaran. Tingkat keparahan bervariasi tergantung pada dampaknya.

Para pejabat Pentagon mengatakan bahwa anggota militer yang diklasifikasikan sebagai cedera kritis menghadapi kondisi yang berpotensi mengancam jiwa. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Keene mencatat bahwa sebagian besar cedera militer AS disebabkan oleh serangan drone Iran.

Mereka juga memperingatkan bahwa jumlah korban luka maupun korban jiwa dapat terus meningkat lantaran tidak semua anggota militer menerima perawatan medis segera, tergantung pada tingkat keparahan insiden tersebut.

Baca Juga  Mengenal Gangguan OCD dan Penyebabnya, Bersifat Genetik?

Sementara itu, dalam insiden terbaru, Axios melaporkan pada hari Jumat bahwa Iran baru-baru ini menembak jatuh pesawat tempur F-15E milik AS. Pesawat tersebut membawa dua awak, dan upaya pencarian dan penyelamatan sedang dilakukan untuk menemukan salah satu personel yang hilang.

Tak cuma itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran baru-baru ini juga mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tempur A-10 Warthog milik AS, serta menyerang pesawat dan helikopter Black Hawk yang melakukan pencarian dan penyelamatan pasukan AS.

Diketahui, ketegangan di kawasan Asia Barat mencapai titik didih usai AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke sejumlah titik di Teheran dan beberapa kota lain di Iran pada 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi (Rahbar/Supreme Leader) Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Merespons agresivitas AS-Israel, angkatan bersenjata Iran melancarkan gelombang serangan balasan dalam operasi “True Promise 4”, yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer dan aset-aset strategis AS di kawasan yang tersebar di berbagai negara, serta menghujani berbagai target di berbagai kota di Israel dengan salvo drone dan rudal balistik. Hingga Jumat (3/4/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mengumumkan gelombang serangan balasan ke-92.

Baca Juga  Anies Baswedan Soroti Keterlibatan Indonesia di Board of Peace Setelah Serangan AS-Israel ke Iran

Tak cuma itu, Iran juga merespons dengan membatasi akses keluar-masuk Selat Hormuz, jalur vital perdagangan sekitar seperlima minyak dan gas dunia, yang memicu krisis energi global. Sejumlah negara di dunia mulai merasakan dampaknya, yang memaksa kenaikan harga energi terutama Bahan Bakar Minyak (BBM), termasuk di AS sendiri.