Klaim Didukung Muhammadiyah, PWNU NTB Ajukan Diri Tuan Rumah Muktamar NU 2026

nu

MAKLUMAT— Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026.

Ketua PWNU NTB, Prof. Masnun Tahir menegaskan pihaknya telah menyampaikan kesiapan tersebut secara administratif kepada PBNU melalui surat resmi.

Masnun menjelaskan pencalonan NTB tidak lepas dari kuatnya dukungan internal dan eksternal. Di internal, PWNU NTB mengklaim solid, sementara dari luar NU, dukungan datang dari sejumlah organisasi seperti Muhammadiyah, NW, NWDI, serta pemerintah daerah tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Selain itu, NTB memiliki rekam jejak sebagai tuan rumah kegiatan besar NU, seperti Musyawarah Nasional (Munas) dan Pra-Muktamar, yang dinilai berjalan sukses.

“Kami siap lahir batin menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU,” ujar Masnun di Mataram, dikutip Senin (6/4/2026).

Ia juga menyebut faktor kultural sebagai pertimbangan penting, yakni keberadaan tokoh sepuh NU NTB, TGH Lalu Turmuzdi Badaruddin atau Datok Bagu, yang disebut memiliki harapan besar agar NTB menjadi tuan rumah.

“Beliau secara khusus mendorong kami untuk mengajukan NTB sebagai tuan rumah kepada PBNU,” kata Masnun.

Masnun menegaskan PWNU NTB juga merancang pembukaan muktamar akan dipusatkan di Pondok Pesantren Bagu. Muktamar NU tidak sekadar agenda lima tahunan untuk memilih kepengurusan, tetapi juga momentum strategis agar NU memberi dampak langsung bagi daerah tuan rumah.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Ikhtiar Pemerataan Dokter Nasional

“Kami ingin Muktamar ini memberi manfaat nyata bagi NTB, sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi,” jelasnya.

PWNU NTB optimistis peluang mereka cukup besar. Salah satu alasan utama adalah posisi NTB yang dinilai netral dibandingkan sejumlah daerah lain seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang juga mencalonkan diri.

“NTB berada di luar Pulau Jawa dan relatif netral dalam dinamika internal NU,” tambah Sekretaris PWNU NTB, Lalu Daud Nurjadi.

Ia juga mengungkapkan Rais Syuriah PWNU NTB, TGH Lalu Turmuzi Badaruddin, telah mengirimkan surat dukungan kepada Presiden dan PBNU untuk memperkuat pencalonan NTB.

Pencalonan NTB sebagai tuan rumah Muktamar NU 2026 bukan sekadar soal lokasi, tetapi mencerminkan pertarungan pengaruh dan strategi geopolitik internal NU. PWNU NTB secara tegas mengusung “netralitas” sebagai keunggulan utama. Ini menjadi strategi untuk menarik simpati di tengah potensi polarisasi antar-kubu, terutama jika muktamar digelar di wilayah basis kekuatan tertentu di Pulau Jawa.

Dengan mencalonkan NTB yang terletak di luar Jawa, terdapat dorongan simbolik untuk mengurangi dominasi Jawa dalam panggung besar NU. Ini sejalan dengan semangat pemerataan representasi organisasi secara nasional.

Baca Juga  Bela Sikap Ketum DPP IMM, IMM DKI: Itukan Sikap Individu Saja

Klaim dukungan dari Muhammadiyah, NW, hingga pemerintah daerah menunjukkan bahwa NTB mencoba membangun legitimasi tidak hanya secara internal, tetapi juga eksternal. Ini memperkuat posisi NTB sebagai kandidat serius.

Dorongan dari tokoh sepuh seperti Datok Bagu menambah bobot moral pencalonan. Dalam kultur NU, restu kiai sepuh masih menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan strategis.

Namun demikian, persaingan dengan provinsi besar seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah tetap menjadi tantangan utama. Kedua wilayah tersebut memiliki infrastruktur, basis massa, dan pengaruh politik yang jauh lebih kuat dalam tubuh NU.

Jika NTB berhasil terpilih, maka ini akan menjadi sinyal kuat bahwa NU mulai membuka ruang lebih luas bagi daerah di luar Jawa dalam menentukan arah organisasi ke depan.