MAKLUMAT — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq meminta lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus disiapkan untuk masuk pasar kerja global. Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia vokasi menjadi kebutuhan mendesak seiring perubahan pasar tenaga kerja internasional.
“SMK hari ini tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja di dalam negeri, tetapi harus kita dorong menjadi talenta global yang mampu bersaing di tingkat internasional,” ujar Fajar dalam kegiatan Bimbingan Teknis Bahasa Inggris dan Sertifikasi Uji Kompetensi di Kota Tangerang, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris kini menjadi syarat dasar bagi lulusan SMK yang ingin masuk ke pasar kerja global. Kemampuan komunikasi dinilai menentukan dalam menghadapi lingkungan kerja lintas negara. “Bahasa Inggris itu bukan lagi tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya sertifikasi uji kompetensi sebagai bukti kemampuan yang diakui industri. Standar ini dinilai penting agar lulusan memiliki daya saing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Sertifikasi itu menjadi bukti bahwa mereka memang punya kompetensi,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Fajar, terjadi fenomena meningkatnya tenaga kerja asing di sejumlah sektor strategis di Indonesia. Kondisi tersebut harus menjadi catatan bagi penguatan kualitas tenaga kerja dalam negeri sekaligus peluang untuk belajar.
“Kita harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita, namun di sisi lain kita juga harus menyerap ilmu dan pengalaman yang mereka miliki,” kata Fajar.
Ia mengingatkan, tanpa peningkatan kapasitas, lulusan dalam negeri berisiko kalah bersaing, termasuk di pasar kerja domestik. “Kalau kita tidak segera meningkatkan kualitas lulusan kita, maka kita akan kalah bersaing,” tegasnya.
Mempertajam Kemampuan Bahasa
Diakui atau tidak, SMK telah dikenal memiliki kekuatan pada aspek keterampilan teknis. Namun, aspek bahasa dan kesiapan menghadapi lingkungan kerja global perlu diperkuat agar lulusan lebih adaptif.
“Secara teknis kita kuat, tetapi kita perlu memperkuat aspek bahasa dan soft skills,” ujarnya.
Ia menambahkan, program Bimbingan Teknis Bahasa Inggris dan Sertifikasi Kompetensi harus dijalankan secara berkelanjutan sebagai bagian dari langkah sistemik peningkatan kualitas pendidikan vokasi.
“Ini bukan program sesaat, tetapi harus menjadi bagian dari langkah sistemik,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Fajar didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, serta Direktur SMK, Arie Wibowo Kurniawan. Program ini diikuti kepala sekolah penerima bantuan pemerintah sebagai bagian dari penguatan kapasitas satuan pendidikan vokasi.
Fajar menyatakan program tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan masa depan peserta didik, termasuk peluang kerja di luar negeri. Ia menyebut hal ini akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari upaya menyiapkan talenta muda Indonesia.
“Program ini diarahkan untuk menyiapkan siswa-siswa kita menjadi talenta global,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program akan diukur dari kesiapan lulusan memasuki pasar kerja internasional.
“Kita ingin anak-anak kita benar-benar siap mengambil peluang kerja di luar negeri,” kata Fajar.














