MAKLUMAT — Layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah pada musim haji 2026 didukung 23 dapur katering, untuk memenuhi kebutuhan makan jemaah selama berada di Kota Nabi. Selama sekitar sembilan hari di Madinah, jemaah akan mendapatkan total 27 kali makan, masing-masing tiga kali sehari.
Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja Madinah, Beny Darmawan menegaskan seluruh penyedia katering telah lolos proses seleksi pemerintah.
“Seluruhnya sudah diseleksi secara ketat oleh Kemenhaj Republik Indonesia,” ujar Beny dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Rabu (22/4/2026)
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memastikan cita rasa makanan tetap familiar. Seluruh bumbu didatangkan langsung dari Indonesia dalam bentuk pasta siap pakai agar lebih efisien dan konsisten.
“Setiap dapur juga wajib menghadirkan tenaga koki asal Indonesia, minimal dua juru masak utama dan empat asisten,” katanya.
PPIH memberi perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia. Menu yang sama dapat disesuaikan, terutama dari segi tekstur.
“Untuk lansia, nasi bisa dibuat lebih lunak atau menjadi bubur agar lebih mudah dicerna,” jelas Beny.
Ia mengungkapkan pengawasan makanan dilakukan di tiga titik, yakni kantor Daker Madinah, Klinik Kesehatan Haji Indonesia, dan sektor pemondokan jemaah. Selain itu, petugas konsumsi di hotel melakukan pengecekan akhir sebelum makanan disajikan.
Secara substansi, skema 27 kali makan menunjukkan kesiapan logistik yang matang. Namun tantangan utamanya tetap pada distribusi dan konsistensi layanan di lapangan.
Jika pengawasan berlapis ini berjalan efektif, layanan konsumsi bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan haji 2026. Jika tidak, angka “27 kali makan” hanya akan jadi klaim administratif tanpa dampak nyata.














