MAKLUMAT – Era digital membawa perubahan besar pada cara manusia mengonsumsi barang. Harga murah, produk beragam, serta akses mudah tanpa perlu mendatangi toko fisik memicu tantangan baru bagi banyak individu. Tantangan tersebut bernama kecanduan belanja online.
Fenomena belanja kompulsif ini bukan sekadar masalah pemborosan, melainkan tantangan serius bagi kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi belanja ini paling banyak ditemukan pada kelompok mahasiswa dan perempuan.
Apakah Belanja Kompulsif Termasuk Gangguan Mental?
Uswatun, Dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), menjelaskan bahwa kebiasaan belanja yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi kecanduan.
“Perilaku kecanduan dalam hal ini serupa dengan kecanduan lainnya seperti berjudi, game online, hingga narkoba,” ujar Uswatun seperti dilansir laman UMSURA, Selasa (21/4/26).
Meskipun dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) belanja kompulsif belum terdaftar sebagai gangguan mental yang berdiri sendiri, karakteristiknya sangat mirip dengan gangguan kontrol impulsif. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan menahan dorongan untuk membeli barang, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.
5 Ciri Kecanduan Belanja Online yang Perlu Diwaspadai
Menurut Uswatun, ada beberapa indikator utama seseorang telah terjebak dalam siklus belanja kompulsif:
-
Pembelian Impulsif: Sering membeli barang secara spontan tanpa rencana. Ironisnya, banyak barang yang dibeli berakhir menumpuk dan bahkan belum sempat dibuka dari kemasannya.
-
Mengejar Efek Euphoria: Muncul rasa gembira yang luar biasa saat melakukan transaksi. Kebahagiaan ini bukan berasal dari manfaat barangnya, melainkan dari tindakan “membeli” itu sendiri.
-
Pelarian dari Stres: Menjadikan belanja sebagai mekanisme koping untuk mengatasi emosi negatif, kesepian, atau suasana hati yang buruk.
-
Rasa Bersalah yang Salah Alamat: Muncul rasa kecewa saat tidak mendapatkan barang yang diinginkan, yang kemudian dilampiaskan dengan membeli barang lain sebagai “balas dendam.”
-
Ilusi Transaksi Non-Tunai: Penggunaan kartu kredit, debit, atau fitur paylater sering kali membuat seseorang tidak sadar telah mengeluarkan banyak uang karena tidak ada transaksi fisik uang tunai.
Dampak Jangka Panjang bagi Kehidupan
Jika dibiarkan, kecanduan ini dapat merusak berbagai aspek kehidupan. Dampak yang paling nyata adalah masalah finansial akibat pengeluaran yang tidak terencana. Selain itu, penderita sering kali mengalami konflik interpersonal, perasaan malu yang mendalam, serta penyesalan yang terus-menerus.
“Gangguan belanja kompulsif biasanya muncul bersamaan dengan masalah mental lainnya seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan. Umumnya, perilaku ini mulai menguat di usia 30 tahunan saat seseorang merasa sudah matang secara finansial,” tambahnya.
Tips Menekan Kebiasaan Belanja Berlebihan
Untuk memutus rantai kecanduan ini, Uswatun menyarankan langkah pertama adalah identifikasi pemicu. Cobalah untuk jujur pada diri sendiri: apakah dorongan belanja muncul karena butuh, atau karena merasa kesepian dan ingin mencari pengakuan sosial?
Mengenali emosi di balik setiap klik “Checkout” adalah kunci utama untuk kembali memegang kendali atas keuangan dan kesehatan mental Anda. Apakah Anda merasa memiliki ciri-ciri di atas?













