Rahasia Kader Muhammadiyah yang Unggul di Dunia Politik

JIMM Surabaya

MAKLUMAT — Peran kader Muhammadiyah dalam dunia politik kerap menjadi sorotan, terutama karena dinilai memiliki kompetensi dan kinerja yang menonjol di berbagai posisi publik. Tidak sedikit yang penasaran soal apa rahasia di baliknya.

Koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Kota Surabaya, Nadief Rahman Harris menilai kekuatan kader Muhammadiyah di dalam dunia politik sebenarnya tidak muncul secara instan.

Ia menekankan bahwa kualitas itu sudah dibentuk dan diasah jauh sebelum seseorang terjun ke ranah politik, terutama melalui proses perkaderan di Muhammadiyah.

“Iklim perkaderan di Muhammadiyah telah membuat kader-kadernya peduli dengan sesama. Muhammadiyah selalu mendidik kader-kadernya untuk unggul bukan sebagai individu semata, tetapi unggul bersama,” katanya kepada wartawan Maklumat.id pada Senin (4/5/2026).

Nadief menjelaskan, lingkungan perkaderan Muhammadiyah mendorong setiap kader untuk tumbuh dengan semangat kolektif. Organisasi ini tidak membedakan latar belakang keluarga. Siapa pun yang bekerja keras memiliki peluang yang sama untuk berkembang.

Perkaderan di Muhammadiyah

Menurut Nadief, Muhammadiyah sangat baik dalam memfasilitasi kader dalam proses untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Proses itu tentu tidak instan karena setiap kader dibentuk melalui pengalaman yang menuntut kerja keras hingga keikhlasan.

“Semua benar-benar diajari arti kerja keras, ikhlas, dan mengabdi. Tidak ada yang instan dalam proses-proses ini,” ujarnya.

Baca Juga  Mirdasy: Tugas LHKP adalah Mengusir Kabut Hitam Politik

Nadief menyebut, bahwa proses perkaderan tidak hanya menekankan gagasan yang benar, tetapi juga bagaimana mempraktikkannya. Kader dilatih untuk mewujudkan ide-idenya, misalnya melalui berbagai kegiatan organisasi otonom (ortom).

Dari pengalaman tersebut, kader belajar mengelola program secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pencarian pendanaan, hingga evaluasi kegiatan. Menurut Nadief, proses ini membentuk kemampuan manajerial dan tanggung jawab yang kuat.

“Kader selalu diajari bagaimana mewujudkan sesuatu yang ideal, bukan hanya memikirkan apa yang ideal,” jelasnya.

Nadief lalu menyoroti survei nasional bertajuk Muhammadiyah di Mata Anak Muda yang dirilis oleh Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan (PSKP UAD) pada 30 Maret 2026 silam.

“Sebanyak 82,6 persen anak muda menilai kader Muhammadiyah yang menjadi pejabat publik memiliki kinerja yang bagus. Ini menguatkan pandangan bahwa publik sangat mengapresiasi kinerja mereka,” katanya.

Kepercayaan Publik terhadap Muhammadiyah

Ia juga mengamati banyak kader muda yang masuk ke dunia politik tanpa membawa identitas organisasi secara terbuka di awal. Mereka lebih mengedepankan kapasitas pribadi saat bekerja di lapangan.

Seiring waktu, pihak luar akan mencari tahu lebih dalam soal latar belakang mereka setelah melihat kinerja yang menonjol. Dari situ, identitas sebagai kader Muhammadiyah justru menjadi penguat kepercayaan.

“Saya sering mendengar cerita, ketika kapasitas mereka terlihat, orang baru tahu bahwa mereka dibesarkan di Muhammadiyah,” ujarnya.

Baca Juga  Ganjar Pranowo Capres Pilihan Warga Muhammadiyah Jatim versi Survei SSC

Menurut Nadief, pola tersebut justru menjadi salah satu faktor yang membuat kader Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang di dunia politik. Mereka tidak bergantung pada label organisasi, tetapi pada kualitas yang telah dibangun sejak awal.

“Orang-orang seperti ini biasanya berhasil di dunia politik karena kualitasnya yang sudah terlihat sejak awal,” ujar mantan Koordinator Presidium Nasional BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah tersebut.

Kemampuan dan Seni Komunikasi

Sementara itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Kenneth Sulthon Alafi Al Hallaj, menekankan bahwa Muhammadiyah tidak pernah secara khusus memproyeksikan kadernya menjadi aktor politik.

“Selama saya berproses di Muhammadiyah, saya tidak pernah menemukan bahwa kader-kader sejak awal diproyeksikan menjadi sosok yang harus punya posisi di kekuasaan,” katanya.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah justru membentuk individu dengan kapasitas personal yang kuat tanpa orientasi kekuasaan. Dari proses itu, kader-kader memilih sendiri di mana ia akan berkiprah, salah satunya di dunia politik.

Adapun di dunia politik, salah satu faktor yang membuat kader Muhammadiyah kerap dipandang mumpuni adalah kemampuan komunikasi yang terbangun sejak awal. Muhammadiyah sendiri sangat menekankan pentingnya kemampuan ini.

Dosen UMSURA, Kenneth Sulthon Alafi Al Hallaj

Kemampuan komunikasi itu berperan penting dalam aktivitas politik, termasuk dalam membangun relasi dan melakukan lobi. Kenneth menyebut, praktik politik tidak bisa dilepaskan dari keterampilan berkomunikasi yang efektif.

Baca Juga  Akar Rumput Muhammadiyah Masih Terpengaruh Teologi Fir’aun

“Kalau berbicara terkait politik, itu adalah seni melobi, the art of lobbying. Lobi itu bagian dari komunikasi yang penting,” ujarnya.

Egaliter di Muhammadiyah

Kenneth juga menambahkan, kompetensi kader Muhammadiyah tidak hanya terlihat di bidang politik, tetapi juga di berbagai sektor lain. Hal ini tidak terlepas dari cara organisasi tersebut merawat dan mengembangkan potensi individu anggotanya.

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi besar di Indonesia, memberikan ruang yang luas bagi kader untuk berkembang sesuai kemampuan. Prinsip egaliter yang dijaga membuat setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi, tanpa dipengaruhi faktor nonkompetensi.

“Pos-pos yang ditempati kader Muhammadiyah itu bukan karena relasi kuasa atau keluarga, tetapi karena kompetensinya,” jelas Mantan Sekretaris Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya tersebut.

Menurutnya, kualitas kader terbentuk dari persaingan yang bersifat mandiri. Setiap kader dituntut membangun kapasitas diri secara mandiri, bukan bergantung pada jaringan keluarga atau kedekatan tertentu.

Proses itu mendorong munculnya kader-kader yang memiliki daya saing tinggi sekaligus mampu membawa nama organisasi di berbagai bidang, termasuk di dalam dunia politik.

“Kader yang berhasil membangun kualitas dirinya dan relasinya, dialah yang nanti muncul sebagai wajah Muhammadiyah, termasuk dalam bidang politik,” katanya.