JD Vance Bela Kesepakatan AS-Iran, Kritik Keras Israel: Tak Semua Masalah Diselesaikan dengan Membunuh

Ilustrasi kesepakatan perdamaian AS-Iran. Foto:AI

MAKLUMAT – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membela nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara kedua negara. Di saat yang sama, Vance melontarkan kritik tajam kepada Israel yang terus mendorong Amerika Serikat melanjutkan tekanan militer terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan The New York Times yang diterbitkan Kamis (19/6/2026), sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani MoU, Vance menanggapi kritik sejumlah pejabat Israel terhadap kesepakatan tersebut.

Ia secara khusus menyinggung pernyataan sejumlah tokoh sayap kanan Israel, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang menolak pendekatan diplomatik Washington terhadap Iran.

“Dan saya kira tanggapan saya kepada mereka adalah: Apa proposal Anda sebenarnya? Anda adalah negara dengan sembilan juta penduduk. Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan cara membunuh,” kata Vance.

Vance meminta Israel memberi ruang bagi proses diplomasi yang sedang berlangsung.

“Berikan sedikit penghargaan kepada Amerika Serikat, yang selama ini telah menjadi mitra luar biasa bagi pemerintah Israel,” ujar JD Vance seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (19/6/2026).

Trump Mulai Tekan Israel

Pernyataan Vance menjadi sinyal terbaru perubahan pendekatan pemerintahan Trump terhadap Israel, setidaknya dalam retorika publik.

Baca Juga  Lebih Dari 400 Wanita dan Anak-anak Tewas Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga mulai mengkritik pola operasi militer Israel di Lebanon yang dinilai menimbulkan banyak korban sipil.

Saat menghadiri KTT G7 di Prancis, Trump menyatakan bahwa jumlah korban sipil dalam konflik tersebut sudah terlalu besar.

“Terlalu banyak orang yang tewas. Anda tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di gedung-gedung itu dan tidak semuanya anggota Hizbullah,” kata Trump.

Meski kesepakatan AS-Iran menyerukan penghentian konflik di seluruh lini, termasuk Lebanon, serangan Israel masih terus berlangsung.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dalam dua serangan terpisah Israel pada Kamis. Dua korban tewas dalam serangan pesawat nirawak di dekat Kfar Tebnit, sementara satu korban lainnya tewas di wilayah Zabadin.

Di sisi lain, Hizbullah mengklaim berhasil menggagalkan upaya pasukan Israel untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon selatan selama empat hari terakhir. Kelompok tersebut menyatakan menggunakan drone, roket, dan artileri untuk menghambat pergerakan pasukan Israel.

Tekanan terhadap Netanyahu

Kesepakatan AS-Iran juga meningkatkan tekanan politik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Beberapa politikus dari Partai Likud mendesak Netanyahu mengambil sikap lebih keras terhadap Washington terkait masa depan operasi militer Israel di Lebanon.

Baca Juga  Bertambah 2 Anggota TNI Gugur Usai Terkena Ledakan di Lebanon, Total 3 Personel dalam 24 Jam

“Perdana Menteri Netanyahu perlu mengatakan kepada Trump: cukup sudah,” kata anggota parlemen Likud, Moshe Saada.

Menurut Saada, penarikan pasukan Israel dari Lebanon saat ini justru dianggap membahayakan keamanan nasional Israel.

Sementara itu, militer Israel merilis peta yang menunjukkan posisi pasukannya di Lebanon selatan. Peta tersebut memperlihatkan area operasi yang membentang sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.

Sejumlah pengamat menilai peta itu juga mencakup wilayah maritim Lebanon, termasuk area proyek gas Qana yang hak eksplorasinya dijamin dalam perjanjian perbatasan maritim Lebanon-Israel tahun 2022 yang dimediasi Amerika Serikat.

Vance Klaim AS Menang

Di tengah kritik dari sejumlah politikus Demokrat maupun sebagian kecil anggota Partai Republik, Vance menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran merupakan kemenangan strategis bagi Amerika Serikat.

Menurutnya, perang yang terjadi sebelumnya telah melemahkan kemampuan militer Iran, menekan program nuklirnya, serta memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi Washington dalam perundingan lanjutan.

“Jika Iran tidak mengubah perilakunya, maka kemampuan militer dan program nuklirnya akan tetap hancur. Jika mereka berubah, maka hubungan baru yang transformatif dapat tercipta di Timur Tengah,” ujar Vance.

Baca Juga  Trump Terapkan Tarif Global 10 Persen Usai Mahkamah Agung AS Batalkan Kebijakan Lama

“Itu adalah kemenangan bagi rakyat Amerika dan bagi Presiden Amerika Serikat, apa pun pilihan yang akhirnya diambil Iran.”

Masih Banyak Pertanyaan

Meski demikian, sejumlah isu krusial masih belum terjawab dalam nota kesepahaman tersebut.

MoU memang menjanjikan pencabutan sanksi terhadap sektor energi Iran, pembentukan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS, pencairan aset Iran di luar negeri, serta penghentian blokade ekonomi yang selama ini diberlakukan Washington.

Namun, masa depan program nuklir Iran masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.

Dokumen tersebut juga belum mengatur secara rinci program rudal balistik Iran maupun dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah, dua isu yang selama ini menjadi perhatian utama Israel.

Selain itu, belum ada kesepakatan final mengenai tata kelola Selat Hormuz di masa depan, termasuk kemungkinan penerapan biaya atau tarif oleh Iran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Meski begitu, Vance optimistis perundingan berikutnya dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih komprehensif.

“Kami ingin memastikan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah lagi menjadi titik penghambat bagi perekonomian global,” tegasnya.***