​Zat Kimia dalam ASI Ancam Hormon Bayi Sejak Dini

botol asi

​MAKLUMAT– Zat kimia dalam ASI ancam hormon bayi sejak dini, demikian peringatan para ahli kesehatan setelah dua studi medis terbaru mendeteksi puluhan senyawa berbahaya pengganggu sistem endokrin pada ibu menyusui.

​Air Susu Ibu (ASI) sejatinya merupakan standar nutrisi emas bagi bayi sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, tim peneliti dari Italia dan Seattle, Amerika Serikat, menemukan fakta mengejutkan bahwa paparan produk kimia harian yang ibu gunakan dapat berpindah ke bayi melalui ASI dan mengganggu tahap perkembangan kritis mereka.

​Ratusan Sampel Buktikan Paparan Bahan Kimia

​Peneliti asal Italia menganalisis sampel ASI dan urine dari 336 pasangan ibu dan bayi pada usia satu, tiga, dan enam bulan pasca-persalinan. Mereka menguji lebih dari 50 zat dan menemukan jejak bahan kimia pengganggu endokrin (EDC) yang merusak cara kerja hormon dalam tubuh.

​Beberapa temuan krusial dari penelitian tersebut meliputi:

​1.Kandungan BPA dan BPS

Bisphenol A (BPA) dari wadah plastik dan kertas struk terdeteksi pada 51,2 persen sampel ASI di bulan pertama. Paparan ini terus meningkat pada urine bayi seiring bertambahnya usia, mencapai hampir dua pertiga pada usia enam bulan.

Baca Juga  Menyusui Diperkirakan Cegah 8.000 Kematian Anak dan 4.200 Kematian Ibu Tiap Tahun

​2.Phthalates dan Paraben

Bahan kimia pembuat plastik lentur (phthalates) ditemukan di lebih dari 90 persen sampel ASI pada bulan pertama. Pengawet kosmetik (paraben) juga secara konsisten terdeteksi dan kadarnya melonjak tajam pada bayi yang semakin besar.

​3.Zat Buangan Emisi

Senyawa terkait knalpot kendaraan dan pembakaran bahan bakar juga rutin terdeteksi pada urine bayi.

​Sementara itu, tim peneliti di Seattle yang menguji 50 ibu baru menemukan bahwa 92 persen sampel ASI mengandung setidaknya satu jenis bahan kimia pengganggu endokrin. Mereka juga mendeteksi keberadaan PFAS, atau “bahan kimia abadi” yang sulit terurai, serta zat penghambat api.

​Dr. Maria Elisabeth Street, penulis studi dari Italia, menegaskan bahwa masa bayi adalah fase paparan yang paling rentan. “Efek kerusakan hormon ini sangat besar karena seringkali kerusakannya baru terlihat setelah bertahun-tahun kemudian,” ungkapnya.

​Senada dengan hal itu, Direktur Sains untuk Toxic-Free Future, Dr. Ryan Babadi, mendesak adanya perlindungan yang lebih kuat bagi masyarakat. “Temuan ini membuktikan bayi terpapar bahan kimia harian sejak tahap perkembangan kritis. Kita perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi kesehatan publik,” tegasnya.

​Meski demikian, para ilmuwan menggarisbawahi bahwa temuan ini tidak bertujuan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. ASI tetap menjadi pelindung terbaik bayi dari penyakit jangka panjang. Solusi utamanya terletak pada pengurangan kontaminasi lingkungan dan membatasi pemakaian produk beracun oleh para ibu menyusui.

Baca Juga  Perjalanan ASI Jadi Lebih Mudah: 5 Perlengkapan Wajib yang Bikin Ibu Nyaman

​Standar Ganda Keamanan Produk Konsumen

Temuan kandungan zat kimia dalam ASI membuka mata publik tentang betapa masifnya invasi bahan kimia buatan manusia ke dalam ruang biologis paling murni. Ketika WHO terus mengampanyekan ASI eksklusif sebagai nutrisi tak tergantikan, gaya hidup modern—melalui kemasan plastik, kosmetik, hingga polusi udara—justru secara diam-diam “meracuni” sumber makanan utama tersebut.

​Kondisi ini tidak boleh disalahartikan sebagai anjuran beralih ke susu formula, yang juga memiliki risiko serupa lewat penggunaan botol plastik. Sebaliknya, berita ini merupakan teguran keras bagi para pemangku kebijakan. Selama ini, ambang batas aman untuk produk kimia harian (seperti BPA atau phthalates) mungkin dinilai cukup untuk orang dewasa, namun standar tersebut terbukti abai terhadap efek akumulasinya pada bayi.

Pemerintah dan industri harus segera meregulasi pelarangan total “bahan kimia abadi” pada produk konsumsi agar para ibu tidak lagi tanpa sengaja mewariskan racun kepada generasi penerusnya.***