Dari Anak Petani Menjadi Pembelajar: Ketika Pendidikan Mengubah Batas

petani

MAKLUMAT — Di banyak desa di Indonesia, masih hidup anggapan bahwa anak petani memiliki pilihan hidup yang terbatas. Keterbatasan ekonomi, akses informasi, hingga ruang berekspresi sering kali menjadi penghalang untuk berkembang.

Namun, kenyataannya tidak sedikit anak desa yang justru mampu membuktikan bahwa pendidikan, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat menjadi jalan untuk menembus berbagai keterbatasan tersebut.

Kisah Riska Putri Khoirunisa menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana mimpi dapat tumbuh dari lingkungan yang sederhana. Lahir di Pacitan pada 28 Februari 2006, Riska merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Imam Rofi’i, dan ibunya, Winarsih, bekerja sebagai petani dengan latar belakang pendidikan hingga jenjang SMP.

Keluarga ini berdomisili di RT 001 RW 015, Dusun Mloko, Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Riska memiliki dua adik, yaitu Putri Wulan Safariani dan Aliya Taleetha Ramadhani. Keduanya saat ini masih tinggal bersama orang tua.

Putri Wulan Safariani baru saja lulus dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) 03 Ketro dan sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan di STKIP PGRI Pacitan.

Sementara itu, Aliya Taleetha Ramadhani masih menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) III Kalikuning dan saat ini duduk di kelas 2. Keduanya memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.

Pesan yang paling membekas dalam ingatan Riska datang dari kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah menuntut keberhasilan yang muluk-muluk. Harapan mereka sederhana, yakni agar anak-anak belajar dengan sungguh-sungguh dan memperoleh pendidikan yang lebih baik dibandingkan orang tuanya.

Baca Juga  Bertemu PM Modi di Sela KTT G20, Prabowo Perkuat Kerjasama Pendidikan dan Kesehatan dengan India

Bagi keluarga petani, keberhasilan anak mengenyam pendidikan merupakan kebanggaan yang tidak dapat diukur dengan materi. Cara mendidik yang diterapkan keluarga ini juga menarik. Pendidikan formal selalu menjadi prioritas utama.

Aktivitas di luar sekolah baru akan memperoleh izin apabila benar-benar memiliki manfaat yang jelas. Tidak jarang perbedaan pandangan muncul antara orang tua dan anak. Namun, perbedaan itu tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan karena dibangun melalui komunikasi dan argumentasi yang saling menghargai.

Di sisi lain, pola asuh tersebut membentuk karakter Riska menjadi pribadi yang terbiasa mempertanggungjawabkan setiap keputusan. Ia belajar bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, melainkan harus diperoleh melalui sikap, kedisiplinan, dan konsistensi.

Sejak kecil, kehidupan Riska tidak jauh dari membantu orang tua bekerja dan menjaga kedua adiknya. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan pedesaan dengan berbagai keterbatasan. Namun, keterbatasan itu tidak menghalangi rasa ingin tahunya terhadap dunia yang lebih luas.

Ketika menempuh pendidikan dasar hingga menengah, ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pramuka, drumband, Tapak Suci, organisasi pelajar, jurnalistik, hingga olahraga atletik. Pengalaman tersebut perlahan mengubah sosok yang semula kurang percaya diri menjadi pribadi yang berani tampil di depan umum.

Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak kesempatan yang harus dilewatkan karena belum memperoleh izin dari orang tua. Ada pula kegagalan yang sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan diri. Bahkan, rasa takut untuk menyampaikan pendapat pernah menjadi hambatan terbesar dalam proses bertumbuh.

Baca Juga  Soal Bimtek Kemendikdasmen, Legislator PKB: Tak Perlu Khawatir, Semua Mitra dapat Kesempatan Sama

Namun justru dari berbagai pengalaman tersebut muncul pelajaran penting bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Kini Riska menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pacitan. Pilihan jurusan tersebut membuka ruang baru bagi kecintaannya terhadap dunia literasi. Ia mulai aktif menulis, membaca, melakukan penelitian sederhana mengenai budaya lokal, hingga mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan.

Salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika mengikuti bimbingan teknis penulisan esai budaya lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan. Di tengah keraguan karena harus bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang, naskah yang ditulisnya berhasil terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi.

Pencapaian tersebut membuktikan bahwa kesempatan tidak hanya dimiliki mereka yang telah berpengalaman, tetapi juga terbuka bagi siapa pun yang bersedia belajar dengan sungguh-sungguh.

Di luar kegiatan akademik, Riska juga aktif dalam berbagai organisasi, baik di lingkungan sekolah, kampus, maupun organisasi otonom Muhammadiyah. Aktivitas tersebut memperluas jejaring, melatih kepemimpinan, memperkuat kemampuan komunikasi, serta mengajarkan pentingnya manajemen waktu.

Tentu, perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi sering kali menguras energi. Bahkan, ia mengakui pernah beberapa kali mengalami kelelahan akibat kurang memperhatikan kesehatan. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa prestasi hanya dapat dipertahankan apabila diimbangi dengan kemampuan menjaga kondisi fisik dan mental.

Baca Juga  Cegah Perundungan di Institusi Pendidikan, Begini Empat Langkahnya Menurut Pakar

Kisah ini juga memperlihatkan bahwa keluarga bukan hanya tempat seseorang dilahirkan, tetapi juga ruang pertama pembentukan karakter. Ayah yang selalu mendukung kreativitas anak selama dapat dipertanggungjawabkan, serta ibu yang disiplin dalam mengajarkan prioritas, pengelolaan waktu, dan kesehatan, menjadi kombinasi pendidikan keluarga yang membentuk pribadi mandiri.

Di tengah derasnya arus digital dan berbagai tantangan generasi muda saat ini, keteladanan semacam ini layak mendapatkan perhatian. Tidak semua keberhasilan lahir dari fasilitas yang lengkap. Banyak di antaranya justru tumbuh dari keluarga sederhana yang memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan.

Indonesia membutuhkan semakin banyak kisah seperti ini. Bukan untuk membandingkan siapa yang paling berhasil, melainkan sebagai pengingat bahwa latar belakang ekonomi bukan penentu masa depan seseorang. Anak-anak petani, nelayan, buruh, maupun pekerja informal memiliki peluang yang sama untuk berkembang apabila memperoleh dukungan keluarga, akses pendidikan, dan kemauan belajar yang kuat.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar akademik. Pendidikan adalah proses membangun karakter, keberanian, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu berjalan beriringan, maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

Perjalanan Riska Putri Khoirunisa menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak diperjuangkan. Mungkin langkahnya dimulai dari sebuah desa kecil di Pacitan. Namun, selama semangat belajar terus dijaga, tidak ada batas yang benar-benar mampu menghentikan seseorang untuk terus bertumbuh.

 

*) Penulis: Edi Susanto