MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti MEd menegaskan bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga membangun peradaban melalui sikap, perkataan, dan perilaku yang menjadi teladan bagi peserta didik.
Hal itu ia sampaikan ketika menghadiri kegiatan Baitul Arqom Perguruan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, Ahad (25/10/2026).
“Guru adalah pendidik, yaitu orang yang bekerja untuk membangun peradaban,” tandas Abdul Mu’ti.
Kegiatan Baitul Arqom tersebut berlangsung pada 23-25 Oktober 2026, yang diikuti guru serta karyawan dari unit TK, SD, SMP, hingga SMA. Kegiatan yang dinaungi Bidang Penjaminan Mutu Perguruan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang ini diarahkan untuk menanamkan ideologi Muhammadiyah sekaligus memperkuat profesionalitas tenaga pendidik dan kependidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa peran guru sebagai agen peradaban berkaitan erat dengan kedudukannya sebagai sumber belajar.
Peserta didik, kata dia, tidak hanya memperoleh pengetahuan dari materi yang diajarkan, tetapi juga mengamati sikap dan perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab itu, ia menekankan pentingnya personifikasi, yakni kesesuaian antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang ditampilkan oleh pendidik.
“Guru yang mengajar matematika harus mencerminkan dirinya sebagai seorang ahli matematika. Begitu pun guru yang mengajar di bidang seni, harus bisa menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang menunjukkan nilai-nilai seni, seperti kelembutan dan keindahan,” tandas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Mu’ti menekankan bahwa profesionalitas guru tidak semata-mata pada penguasaan materi dan kemampuan mengajar. Kompetensi juga perlu berjalan beriringan dengan keteladanan agar nilai yang disampaikan di kelas tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat dilihat penerapannya dalam perilaku sehari-hari.
Perkuat Ideologi dan Profesionalitas
Dalam konteks Perguruan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang, pesan tersebut berkaitan dengan dua fokus utama Baitul Arqom, yakni penguatan ideologi Muhammadiyah dan profesionalitas berdasarkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian pembinaan yang membahas kedua aspek tersebut. Ideologi menjadi landasan nilai dalam menjalankan misi persyarikatan, sedangkan profesionalitas menuntut kemampuan menerapkan nilai tersebut dalam pekerjaan.
Keduanya berkaitan dengan praktik pendidikan, mulai dari pelaksanaan pembelajaran hingga tanggung jawab menjaga mutu layanan sekolah.
Pemahaman terhadap ideologi dan profesionalitas, bagaimana pun, perlu diikuti penerapan dalam praktik. Nilai-nilai tersebut diharapkan tercermin dalam perilaku pendidik, hubungan antarkaryawan, kerja sama di lingkungan sekolah, serta pelaksanaan tanggung jawab masing-masing.
Terus Belajar dan Terbuka terhadap Kritik
Master of Training (MoT) Baitul Arqom yang juga merupakan Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Muhammad Dwi Fajri, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Mendikdasmen Abdul Mu’ti, yang disebutnya menjadi kebanggaan bagi penyelenggara dan peserta.
Menurut dia, kunjungan tersebut memiliki arti khusus karena sebagian besar peserta merupakan guru dan karyawan yang sehari-hari bekerja di lingkungan pendidikan.
Dwi Fajri berharap, pesan yang disampaikan Mendikdasmen dapat memperkuat pemahaman peserta mengenai tanggung jawab guru sekaligus pentingnya semangat kebersamaan dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Pesan penting dari Pak Menteri selain mengenai tugas guru adalah tentang pentingnya semangat kerjasama dalam mengurus lembaga yang besar ini, karena tanpa adanya semangat kerjasama ini pasti akan mengalami kerusakan dan kegagalan hingga mengakibatkan hilangnya kelembagaan,” tandas Dwi Fajri.
Menurutnya, kerja sama menjadi unsur penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Tanggung jawab menjaga mutu sekolah tidak hanya berada pada guru di ruang kelas, tetapi juga melibatkan karyawan dan seluruh unsur yang menjalankan fungsi kelembagaan.
Sebab itu, semangat kolektif perlu diwujudkan melalui koordinasi dan pelaksanaan tugas yang saling mendukung.
Dwi Fajri juga menekankan pentingnya keterbukaan terhadap kritik dan pengetahuan baru. Guru tidak seharusnya merasa telah menguasai segala hal hingga menutup diri dari masukan. Perubahan kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia pendidikan menuntut pendidik terus belajar serta mengevaluasi pendekatan pembelajaran.
Dalam kerangka tersebut, peran guru sebagai sumber belajar juga menuntutnya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Keteladanan perlu dijaga melalui pengembangan kompetensi dan perbaikan berkelanjutan.
Menindaklanjuti Hasil Pembinaan
Lebih jauh, Dwi Fajri menjelaskan bahwa Baitul Arqom tidak hanya diarahkan sebagai agenda perkaderan, tetapi juga diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat kontribusi peserta di sekolah maupun dalam kehidupan persyarikatan.
Sebagai tindak lanjut, peserta didorong aktif dalam pimpinan ranting Muhammadiyah dan organisasi otonom (ortom). Keterlibatan tersebut diharapkan mempererat hubungan antara pekerjaan di lingkungan pendidikan dan gerakan dakwah Muhammadiyah di masyarakat.
Di tingkat sekolah, setiap unit juga didorong menyusun agenda inovasi untuk menerjemahkan hasil pembinaan ke dalam program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Agar dapat dilaksanakan secara terukur, agenda inovasi perlu berangkat dari persoalan nyata di sekolah. Setiap unit dapat mengidentifikasi kebutuhan, merumuskan program, menentukan langkah pelaksanaan, dan mengevaluasi hasilnya.
Dengan demikian, tindak lanjut pembinaan tidak berhenti sebagai komitmen umum, tetapi memiliki arah pelaksanaan yang jelas.
Keberhasilan Baitul Arqom, kata dia, tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan selama tiga hari, tetapi juga oleh konsistensi peserta dalam menerapkan hasil pembinaan. Penguatan ideologi, peningkatan profesionalitas, keterlibatan dalam persyarikatan, dan pembaruan praktik pendidikan perlu berjalan beriringan.
Pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti tentang guru sebagai pekerja peradaban menjadi landasan bagi upaya tersebut. Guru diminta tidak hanya mengembangkan kompetensi semata, tetapi sekaligus menjadi teladan bagi peserta didik.
Bagi Perguruan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang, tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan pembinaan ideologi dan profesionalitas menjadi praktik nyata di sekolah dan masyarakat. Baitul Arqom diharapkan dapat menjadi titik awal untuk menguji sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari dapat diwujudkan dalam kerja, keteladanan, dan kontribusi bagi persyarikatan.***
*) Penulis: Salman Ahmad Ridwan












