MAKLUMAT – Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti menyoroti penurunan capaian numerasi peserta didik meski anggaran pendidikan terus meningkat. Legislator Fraksi PKS itu meminta pemerintah mengevaluasi efektivitas belanja pendidikan agar setiap rupiah anggaran mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Sorotan tersebut disampaikan Reni saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) membahas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) APBN Tahun Anggaran 2025 di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
“ Pembahasan LKPP tidak hanya mengukur tingkat serapan anggaran, tetapi juga harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pendidikan pada pelaksanaan APBN berjalan maupun penyusunan APBN 2027,” tegas Reni dikutip, Senin (20/7/2026).
Ia menemukan adanya ketidaksesuaian data dalam dokumen laporan pemerintah. Pada satu bagian disebutkan capaian literasi dan numerasi meningkat, tetapi data pada bagian lain justru memperlihatkan capaian numerasi mengalami penurunan.
“Di halaman 4 dikatakan adanya peningkatan literasi dan numerasi, tetapi di halaman 5 numerasi justru turun dari 66,42 persen menjadi 62,53 persen,” cetusnya.
Ia mengatakan literasi dan numerasi merupakan indikator utama keberhasilan proses pembelajaran. Karena itu, peningkatan anggaran pendidikan seharusnya diikuti dengan peningkatan hasil belajar peserta didik.
“Ketika anggarannya ditambah, ternyata literasi dan numerasinya mengalami penurunan. Ini harus menjadi perhatian serius,” pinta Reni.
Selain hasil pembelajaran, Reni juga menyoroti tata kelola anggaran pendidikan. Ia mengingatkan masih terdapat dana bantuan yang telah disalurkan, tetapi belum dipertanggungjawabkan hingga akhir tahun anggaran.
Menurutnya, seluruh temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus segera ditindaklanjuti agar tidak terus berulang setiap tahun.
“Kita tidak ingin temuan BPK seperti kaset yang diputar berulang. Harus ada perbaikan agar kualitas pengelolaan pendidikan semakin baik,” kata wakil rakyat dari Dapil I (Surabaya, Sidoarjo) itu.
Anggaran Besar Belum Tentu Berbanding Lurus dengan Mutu Pendidikan
Pernyataan Reni Astuti menjadi pengingat bahwa keberhasilan sektor pendidikan tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang dialokasikan negara. Yang lebih penting adalah sejauh mana dana tersebut mampu meningkatkan kompetensi dasar siswa, terutama literasi dan numerasi yang menjadi fondasi pembelajaran.
Penurunan capaian numerasi di tengah kenaikan anggaran juga menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program, kualitas pembelajaran di kelas, kapasitas guru, hingga sistem pengawasan penggunaan anggaran. Tanpa perbaikan tata kelola dan kebijakan berbasis hasil, peningkatan anggaran pendidikan berpotensi hanya memperbesar belanja tanpa menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan yang signifikan.













