MAKLUMAT — Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kualitas pendidikan dan pengalaman menjadi dua modal utama yang tidak tergantikan. Dunia saat ini membuka peluang yang jauh lebih luas dibandingkan beberapa dekade lalu. Teknologi, akses informasi, dan berbagai kesempatan belajar tersedia bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk terus berproses. Namun, peluang tersebut hanya akan menjadi milik mereka yang bersedia bekerja keras, belajar secara konsisten, dan terus meningkatkan kapasitas diri.
Tidak semua orang dilahirkan dengan privilese. Ada yang berasal dari keluarga berkecukupan, memiliki jaringan yang kuat, atau mendapatkan kemudahan karena latar belakang orang tua. Di sisi lain, tidak sedikit yang harus memulai dari titik nol tanpa dukungan finansial yang memadai maupun akses terhadap kekuasaan. Bagi kelompok terakhir, pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan bukan sekadar pilihan, melainkan strategi paling rasional untuk mengubah masa depan.
Memperkaya wawasan, meningkatkan kompetensi, dan terus belajar merupakan investasi yang nilainya tidak akan berkurang oleh waktu. Pengetahuan yang terus diasah akan melahirkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta daya saing yang dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Pengalaman yang diperoleh melalui organisasi, penelitian, pengabdian masyarakat, maupun dunia profesional akan membentuk karakter, ketahanan mental, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara nyata.
Karena itu, sudah saatnya generasi muda lebih selektif dalam menggunakan waktu. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan seremonial yang tidak memberikan nilai tambah sebaiknya dikurangi. Sebaliknya, agenda-agenda yang benar-benar mengembangkan kapasitas diri perlu diperbanyak. Mengikuti pelatihan, membaca buku, melakukan riset, membangun jejaring profesional, mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, hingga menjadi ahli pada bidang keilmuan tertentu akan memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi masa depan.
Era kompetisi global tidak lagi hanya mencari individu yang memiliki ijazah, tetapi juga mereka yang mempunyai kompetensi nyata. Soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, manajemen waktu, berpikir analitis, serta kemampuan beradaptasi menjadi pelengkap penting bagi penguasaan ilmu pengetahuan. Ketika hard skills dan soft skills berkembang secara seimbang, seseorang memiliki peluang yang lebih besar untuk menciptakan prestasi sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain.
Di sisi lain, perubahan tidak cukup diwujudkan melalui retorika. Berteriak lantang di ruang publik atau media sosial belum tentu menghasilkan perubahan apabila tidak dibarengi dengan kapasitas, karya, dan solusi. Terlebih lagi, selalu akan ada pihak yang menutup telinga terhadap kritik karena tidak pernah mengalami perjuangan dari bawah atau memilih mengabaikan suara masyarakat. Dalam situasi seperti ini, kualitas diri justru menjadi bentuk perlawanan yang paling bermakna. Prestasi, integritas, dan kompetensi sering kali berbicara lebih keras daripada sekadar slogan.
Namun demikian, mereka yang berhasil bangkit dari bawah juga memiliki tantangan tersendiri. Tidak sedikit yang setelah mencapai posisi tertentu justru melupakan perjalanan hidupnya. Pengalaman pahit yang dahulu menjadi sumber empati perlahan tergantikan oleh kenyamanan dan kekuasaan. Akibatnya, mereka berisiko mengulangi pola yang dulu pernah mereka kritik. Oleh sebab itu, kesuksesan seharusnya tidak hanya diukur dari jabatan, kekayaan, atau pengaruh, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepedulian terhadap mereka yang masih berjuang.
Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi yang menjadikan ilmu sebagai fondasi, pengalaman sebagai guru, dan integritas sebagai pegangan hidup. Pendidikan yang berkualitas harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar sarana memperoleh gelar. Pengalaman harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, bukan hanya daftar pencapaian dalam curriculum vitae.
Pada akhirnya, kesempatan untuk maju memang tidak selalu dimulai dari garis yang sama. Akan tetapi, setiap orang tetap memiliki ruang untuk memperbesar peluangnya melalui pendidikan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah berhenti.
Bagi mereka yang tidak mewarisi kekayaan ataupun kekuasaan, memperkaya ilmu, mengasah keterampilan, dan menjaga integritas merupakan jalan yang paling masuk akal untuk meraih cita-cita sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebab, kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, bukan semata-mata oleh privilese yang dimiliki segelintir orang.
*) Penulis: Abdul Rhosid
Sekretaris PD Pemuda Muhammadiyah Ponorogo













