Belajar dari Andalusia, Abdul Musawir Soroti Rapuhnya Peradaban dari Dalam

Abdul Musawir

MAKLUMAT — Nama Lamine Yamal muncul dalam kajian Majelis Ahad Pagi Kyai Haji Ahmad Dahlan di Masjid At Taqwa, Kota Batu, Ahad (9/8/2026). Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Abdul Musawir Yahya, menyebut pemain sepak bola asal Spanyol itu ketika menjelaskan bagaimana peradaban Islam di Andalusia pernah berkembang selama berabad-abad sebelum akhirnya runtuh.

“Jika dulu Andalusia tidak runtuh, mungkin Lamine Yamal bukan satu-satunya orang Islam yang main di Spanyol saat ini. Mengapa runtuh? Karena individu-individunya mulai tergerus. Ilmu pengetahuan tidak diperhatikan lagi, kebijakan penguasa tidak pro-rakyat, pajak ditinggikan, raja banyak berpesta, dan terjadi pengkhianatan internal,” papar Abdul Musawir.

Menurut Abdul Musawir, keruntuhan Andalusia tidak cukup dilihat sebagai akibat persaingan dengan peradaban dari luar. Ia justru mengajak jamaah melihat kondisi internal umat ketika perhatian terhadap ilmu pengetahuan mulai berkurang dan persoalan dalam pemerintahan semakin berkembang. Kondisi tersebut, menurutnya, ikut melemahkan fondasi masyarakat.

Ia kemudian menghubungkan pengalaman Andalusia dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan keadaan suatu kaum. Abdul Musawir menekankan bahwa perubahan sebuah kaum berkaitan erat dengan perubahan individu yang ada di dalamnya.

Baca Juga  Teh, Kopi, dan Daya Kognitif: Sebuah Renungan dari Ruang Akademik

“Menurut beberapa tokoh tafsir, frasa dalam bahasa Arab idealnya mengembalikan kata ganti kepada kaumnya. Namun, Allah tidak menyebutkan demikian, seakan ingin menegaskan bahwa satuan terkecil dari kaum adalah individu atau nafs,” tegas Wakil Sekretaris LP UMKM PP Muhammadiyah itu.

Dari pemahaman tersebut, ia menjelaskan bahwa perubahan kolektif tidak dapat dipisahkan dari perubahan setiap individu. Perubahan itu mencakup pikiran, perasaan, hingga tindakan. Karena itu, kualitas manusia menjadi bagian penting dalam menentukan apakah sebuah kelompok dapat berkembang atau justru mengalami kemunduran.

Abdul Musawir kemudian membawa gagasan tersebut ke dalam konteks organisasi. Mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu mengatakan lompatan besar dalam persyarikatan perlu dimulai melalui proses penggemblengan kader sejak dini. Ia mengambil contoh dari perjalanan dakwah Rasulullah Saw selama 23 tahun.

Menurutnya, proses dakwah tersebut tidak hanya menghasilkan perkembangan secara kelembagaan, tetapi juga membentuk individu yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam. Ia menyebut Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, hingga Utsman bin Affan sebagai generasi yang lahir dari proses pembinaan tersebut dan kemudian ikut membawa Islam menjadi peradaban yang berpengaruh.

Baca Juga  Pengembangan Dakwah Ekonomi, PDPM Lamongan Akan Launching SM Corner

“Kelompok itu bisa kuat ketika ada sumber daya manusia yang unggul. Dan yang harus diunggulkan untuk membangun peradaban itu adalah ilmu pengetahuan. Mukmin yang kuat jauh lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah,” pungkasnya.

Pesan tersebut kembali ia kaitkan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah fil ardh sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah. Abdul Musawir menilai posisi tersebut membawa tanggung jawab untuk membangun peradaban. Untuk menjalankan tanggung jawab itu, umat membutuhkan sumber daya manusia yang unggul serta kolektivitas jamaah yang kuat.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki