Film Lobang Buaya Tayang 1 Oktober, Angkat Teror di Balik Tahun 1964

Film Lobang Buaya

MAKLUMAT— Film horor Lobang Buaya dijadwalkan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026. Mengambil latar Indonesia pada 1964, film ini menghadirkan misteri pembunuhan berantai sekaligus teror yang berkaitan dengan ketakutan kolektif masyarakat terhadap kekuasaan dan kekerasan.

Adhya Pictures dan Dapur Film merilis official trailer dan final poster Lobang Buaya yang disutradarai Hanung Bramantyo. Film tersebut mengajak penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, anggota militer yang mendapat tugas mengungkap motif pembunuhan berantai di Desa Lobang Buaya.

Pembunuhan itu terjadi setiap tanggal 30. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian misteri dan teror yang menjadi inti cerita.

Poster film memperlihatkan tangan misterius yang menembus punggung berlubang seorang perempuan. Visual tersebut memperkuat nuansa horor yang dibangun sepanjang film.

Tayang 1 Oktober Bukan Rencana Khusus

Tanggal penayangan Lobang Buaya pada 1 Oktober ternyata bukan permintaan khusus dari pihak produksi. Jadwal tersebut muncul setelah pihak bioskop menawarkan tanggal tersebut kepada tim film.

“Saya tidak minta tanggal tayang khusus sebetulnya untuk film ini. Tiba-tiba dikasih sama XXI, ‘Mas 1 Oktober bagaimana?’ Saya bilang oke,” ungkap Hanung dikutip, Senin (7/9/2026).

Perwakilan Adhya Pictures menjelaskan, jadwal tayang film sempat mengalami beberapa kali perubahan karena Lobang Buaya mendapat kesempatan tampil di festival film internasional.

Baca Juga  Sutradara Eagle Institute Daniel Rudi Haryanto Dampingi Komunitas Film Aceh

Film ini lebih dahulu diputar di International Film Festival Rotterdam pada Februari 2026. Setelah itu, Lobang Buaya tampil di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) pada Juli 2026.

“Tiba-tiba dapat Rotterdam. Seharusnya kita tayang di pertengahan tahun tapi tiba-tiba dapat BIFAN, jadi mundur, mundur, mundur ternyata dapatnya di 1 Oktober,” jelas perwakilan Adhya Pictures.

Bukan Film tentang G30S/PKI

Meski tayang pada 1 Oktober dan mengambil latar waktu yang berdekatan dengan periode peristiwa 1965, film ini bukan film tentang G30S/PKI.

Hanung meminta penonton tidak menganggap Lobang Buaya sebagai versi baru atau sudut pandang lain dari film mengenai peristiwa tersebut.

“Sabar, ini bukan film tentang 30 September, atau refresh angle, atau remake-nya G30S/PKI. Bukan itu,” tegasnya.

Cerita Lobang Buaya justru mengambil latar setahun sebelum peristiwa 1965. Desa bernama Lobang Buaya menjadi pusat cerita sekaligus ruang untuk menggambarkan ketakutan masyarakat pada masa tersebut.

Horor untuk Menggambarkan Ketakutan

Genre horor dipilih bukan semata-mata untuk menghadirkan teror kepada penonton. Hanung menggunakan horor sebagai cara untuk membedah rasa takut kolektif masyarakat terhadap topik yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.

Baca Juga  Ketika Anies Baswedan Tersentuh dengan Sebuah Film

“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan,” tuturnya.

Menurutnya, ketika masyarakat mendengar tentang peristiwa 1965, salah satu respons yang muncul adalah rasa takut.

Karena itu, film ini menggunakan horor untuk menggambarkan ketakutan yang lebih luas, termasuk yang muncul akibat persoalan kekuasaan, korupsi dan penindasan antarmanusia.

Tampil di Dua Festival Internasional

Keikutsertaan Lobang Buaya dalam dua festival internasional juga menjadi kejutan bagi tim produksi.

Undangan dari International Film Festival Rotterdam datang di luar perkiraan. Sebelumnya, karya sutradara tersebut, Gowok: Kamasutra Jawa, juga pernah tampil di festival yang sama.

Kesempatan berikutnya datang dari BIFAN. Pihak festival menyampaikan apresiasi terhadap perspektif baru yang ditawarkan Lobang Buaya melalui pendekatan horor.

Kesempatan tampil di dua festival tersebut membuat jadwal tayang film di Indonesia beberapa kali bergeser. Setelah melewati rangkaian festival, film akhirnya dijadwalkan masuk bioskop pada 1 Oktober 2026.

Horor Bertemu Sejarah

Lobang Buaya memiliki daya tarik karena memadukan horor dengan latar sejarah yang sensitif. Pemilihan tahun 1964 membuat film ini berada sangat dekat dengan periode penting dalam sejarah Indonesia. Namun, cerita yang ditawarkan bukan rekonstruksi G30S/PKI.

Baca Juga  Kerentanan Mahasiswa Masih Sering Dieksploitasi, Ketua PP Formabu Ingatkan Pelajaran G30S/PKI

Pendekatan horor justru digunakan untuk menggambarkan ketakutan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan, kekerasan dan persoalan yang sulit dibicarakan.

Dengan pengalaman tayang di Rotterdam dan BIFAN, Lobang Buaya tidak hanya menawarkan teror sebagai hiburan. Film ini juga membawa upaya membaca kembali rasa takut melalui perspektif sinema.