Buku Islam Ala Prabowo Disorot, Ini Isi Pembahasannya

buku islam ala prabowo

MAKLUMAT — Buku Islam Ala Prabowo tidak sekadar mengulas sosok Prabowo Subianto. Buku tersebut membahas hubungan nilai-nilai Islam dengan kepemimpinan, nasionalisme, politik, kesejahteraan rakyat hingga isu Palestina.

Buku yang diluncurkan Ahmad Muzani dan Anwar Iskandar di Jakarta pada 26 Agustus 2025 itu, kini ramai menjadi sorotan. Sejumlah tokoh turut memberikan pandangan atau menjadi narasumber dalam proses penyusunannya.

Salah satunya Yusril Ihza Mahendra. Namun, Yusril menegaskan bahwa dirinya bukan penulis buku tersebut.

“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” kata Yusril di Jakarta dikutip, Rabu (9/9/2026).

Klarifikasi Yusril menjadi penting karena muncul anggapan bahwa tokoh yang namanya tercantum atau diwawancarai dalam buku otomatis menjadi bagian dari tim penulis.

Dari Kehidupan Keagamaan hingga Kepemimpinan

Secara umum, Islam Ala Prabowo mencoba melihat Prabowo dari perspektif nilai-nilai Islam. Pembahasannya mencakup kehidupan keagamaan Prabowo, hubungan Islam dengan kepemimpinan, nasionalisme, keadilan sosial, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Buku ini juga mengaitkan nilai Islam dengan tanggung jawab seorang pemimpin. Islam tidak hanya ditempatkan dalam konteks ritual dan simbol keagamaan, tetapi juga dalam perilaku, kebijakan publik, kepedulian sosial dan upaya menghadirkan keadilan.

Baca Juga  Dualisme Kepemimpinan PPP Usai Muktamar, Bagaimana Sikap Pemerintah?  

Tema nasionalisme juga mendapat ruang. Buku tersebut membahas hubungan antara nilai Islam, persatuan, kemanusiaan dan cita-cita membangun kesejahteraan rakyat.

Dari sisi politik, buku ini melihat perjalanan serta pandangan politik Prabowo melalui perspektif nilai-nilai Islam.

Relasi Prabowo dengan sejumlah tokoh dan organisasi Islam turut menjadi bagian pembahasan.

Zakat, Pajak dan Cita-Cita Kesejahteraan

Salah satu gagasan yang muncul dalam buku berkaitan dengan optimalisasi zakat dan pajak sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Asep Saifuddin, salah satu pihak yang ikut menulis buku dan menyusun bagian epilog, menyebut peluncuran pada 26 Agustus 2025 memiliki kaitan dengan cita-cita kemerdekaan yang ingin diwujudkan.

“Saya yakin ketika pajak terlaksana dengan baik, zakat terlaksana dengan baik, cita-cita luhur Pak Prabowo untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur akan segera terwujud,” ujar Asep pada 26 Agustus 2025.

Gagasan tersebut menempatkan zakat bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai salah satu instrumen sosial untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Palestina dan Diplomasi Dunia Islam

Buku Islam Ala Prabowo juga menyoroti posisi Indonesia dalam persoalan dunia Islam, termasuk dukungan terhadap Palestina.

Baca Juga  Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas, Kemenag Banyuwangi Gandeng Baznas Santuni 250 Anak

Pembahasan tersebut dikaitkan dengan peran dan pendekatan Prabowo dalam hubungan internasional serta diplomasi Indonesia dengan negara-negara dunia Islam.

Sikap Indonesia terhadap Palestina menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan politik luar negeri sekaligus kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

Dengan demikian, isi buku tidak berhenti pada pembahasan personal mengenai kehidupan keagamaan Prabowo. Buku ini juga mencoba menghubungkan sosok Prabowo dengan isu kebangsaan dan keumatan yang lebih luas.

Yusril: Persoalannya Lebih pada Judul

Setelah membaca buku tersebut secara utuh, Yusril mengatakan tidak menemukan persoalan mendasar pada substansi yang bersumber dari wawancaranya.

Ia justru melihat perdebatan yang berkembang belakangan lebih banyak berkaitan dengan pilihan judul.

Menurut Yusril, judul Islam Ala Prabowo dapat menimbulkan beragam persepsi dan tafsir di tengah masyarakat. Karena itu, perlu dibedakan antara isi buku, posisi narasumber, dan pihak yang benar-benar menyusun maupun menerbitkannya.

Ketika Nama Tokoh Menjadi Perhatian

Polemik buku Islam Ala Prabowo tidak hanya menyangkut isi. Persoalan juga berkembang pada siapa yang menulis, siapa yang diwawancarai, siapa yang terlibat dalam peluncuran, serta dari mana sumber pembiayaannya.

Klarifikasi Yusril menunjukkan pentingnya membedakan narasumber dan penulis. Seseorang yang diwawancarai untuk memberikan pandangan tidak otomatis menjadi bagian dari tim penyusun atau penerbit buku.

Baca Juga  PBB Desak Akses Kemanusiaan Tanpa Hambatan di Gaza, Israel Terus Tolak Misi Bantuan

Begitu pula dengan keterlibatan kelembagaan dalam sebuah acara. Publik tetap membutuhkan penjelasan mengenai bentuk keterlibatan dan sumber dana agar tidak terjadi kesimpangsiuran.

Sebelumnya, BAZNAS RI juga menegaskan pembuatan dan penerbitan buku tersebut tidak menggunakan dana zakat, infak dan sedekah yang dipercayakan masyarakat melalui BAZNAS.

Dengan demikian, pembacaan terhadap Islam Ala Prabowo perlu ditempatkan secara proporsional. Isi buku berbicara mengenai Islam, kepemimpinan, nasionalisme, kesejahteraan, politik hingga Palestina, sementara polemik yang berkembang menyangkut konteks penyusunan, peluncuran dan keterlibatan sejumlah pihak.

Pada akhirnya, publik dapat menilai buku tersebut dari substansinya sekaligus mencermati secara kritis konteks di balik penerbitannya.