AI, Akses Pengetahuan, dan Ancaman Imperialisme Intelektual: Global South Didorong Tak Hanya Jadi Konsumen

Kajian Islam Multidisipliner bertajuk “Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars”, yang digelar PSIB dan Prodi Hubungan Internasional UMM, Senin (22/6/2026). (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) bersama Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kajian Islam Multidisipliner bertajuk “Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars”, Senin (22/6/2026).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Aula Masjid AR Fachruddin Lantai 2 Kampus III UMM itu, Akademisi University of Derby, Inggris, Mohammad Ilyas, hadir menjadi narasumber, dengan dimoderatori Kepala PSIB UMM yang juga Guru Besar Ilmu Politik dan dosen Hubungan Internasional UMM, Prof Gonda Yumitro.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) yang semakin mempermudah akses terhadap informasi, namun juga menghadirkan tantangan bagi akademisi di negara-negara Global South berupa ketergantungan terhadap teori, perspektif, dan produksi pengetahuan dari negara-negara maju.

Sebab itu, para akademisi Global South didorong tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga memproduksi gagasan yang berangkat dari pengalaman dan realitas masyarakatnya sendiri.

Ketimpangan Struktur Produksi Pengetahuan Global

Dalam paparannya, Ilyas menyoroti ketimpangan struktur produksi pengetahuan global. Menurutnya, persoalan akademisi di Global South tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap pengetahuan, tetapi juga ketergantungan pada teori, perspektif, jurnal, dan struktur akademik yang banyak berkembang dari pengalaman negara-negara Global North.

Kemajuan teknologi, termasuk AI, memang membuat akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Namun, menurut Ilyas, kemudahan memperoleh informasi tidak secara otomatis membuat masyarakat menjadi mandiri secara intelektual.

“Kita harus bertanya bagaimana pengetahuan diproduksi, siapa yang memproduksinya, dan dari perspektif siapa realitas kita dijelaskan. Akademisi di Global South tidak seharusnya hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi harus mampu menjadi produsen pengetahuan,” sorotnya.

Ia menjelaskan, masyarakat Global South memiliki pengalaman sejarah, sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang tidak selalu dapat dijelaskan secara memadai melalui kerangka yang lahir dari pengalaman Barat.

Ketergantungan tersebut, kata dia, berisiko melahirkan intellectual imperialism, yakni kondisi ketika realitas masyarakat di luar Barat terus dipahami melalui kategori dan perspektif yang dikembangkan pusat-pusat produksi pengetahuan di negara maju.

Baca Juga  Urgensi Label Halal di Tengah Gempuran Produk Global

Bukan Menolak Pengetahuan dari Barat

Meski demikian, Ilyas menegaskan bahwa membangun kemandirian intelektual bukan berarti menolak pengetahuan dari Barat. Pengetahuan tersebut tetap perlu dipelajari, tetapi harus disertai kemampuan untuk mengkritisi dan mengembangkannya berdasarkan konteks masyarakat sendiri.

“Tujuannya bukan menolak pengetahuan Barat. Kita perlu mempelajarinya, tetapi pada saat yang sama kita harus memiliki kemampuan untuk mengkritik, berdialog, dan memproduksi pengetahuan berdasarkan pengalaman dan realitas masyarakat kita sendiri,” ujarnya.

Menurut Ilyas, perkembangan AI membuat persoalan tersebut semakin relevan. Mahasiswa dan akademisi kini dapat memperoleh ringkasan, argumentasi, hingga rancangan tulisan dalam waktu singkat. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan akademik, tetapi tidak semestinya menggantikan proses intelektual manusia.

“Jika Anda ingin menjadi seorang scholar, Anda harus siap membaca, berpikir, mempertanyakan, dan memperoleh pengetahuan. Teknologi dapat membantu, tetapi tidak dapat menggantikan keseluruhan proses tersebut,” tandasnya.

Ilyas menilai, tantangan perguruan tinggi di era AI bukan hanya menyediakan teknologi terbaru, tetapi juga memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan membaca secara mendalam, berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan menghasilkan gagasan secara mandiri.

Ia juga merefleksikan pengalaman zaman keemasan peradaban Islam. Menurutnya, kemajuan ilmuwan Muslim pada masa itu tidak lahir dari sikap menutup diri terhadap pengetahuan luar. Mereka mempelajari dan menerjemahkan berbagai khazanah pengetahuan, kemudian mengkritik, mengembangkan, dan menghasilkan gagasan baru.

Pengalaman tersebut, kata Ilyas, dapat menjadi pelajaran bagi akademisi Muslim saat ini bahwa keterbukaan terhadap pengetahuan global perlu berjalan bersama kemampuan memproduksi pengetahuan yang berakar pada pengalaman masyarakat sendiri.

Memanfaatkan AI, Bukan Memusuhi

Kepala PSIB UMM, Prof Gonda Yumitro, menilai isu tersebut relevan bagi perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, AI tidak semestinya diposisikan hanya sebagai ancaman, tetapi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat penelitian, publikasi, dan pendidikan dengan tetap menjaga kemandirian intelektual.

“Kita tentu tidak mungkin menjauh dari AI. Persoalannya adalah bagaimana AI kita gunakan untuk memperkuat kapasitas akademik, bukan justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir. Jangan sampai kita sangat cepat memperoleh informasi, tetapi semakin lemah dalam menghasilkan gagasan sendiri,” kata Gonda.

Baca Juga  UMM Dorong Kewirausahaan Mahasiswa Lewat Kolaborasi dengan BAZNAS

Gonda mengatakan, tantangan akademisi Indonesia adalah membawa pengalaman lokal menjadi bagian dari percakapan akademik internasional. Indonesia dan negara-negara Muslim memiliki kekayaan pengalaman sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Namun, pengalaman tersebut tidak akan memberikan pengaruh luas apabila Indonesia hanya menjadi objek penelitian atau menghasilkan pengetahuan lokal yang tidak dikomunikasikan kepada komunitas akademik dunia.

“Global South memiliki pengalaman yang sangat kaya. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman tersebut kita transformasikan menjadi konsep, teori, artikel, buku, dan berbagai karya akademik yang dapat berdialog dengan pengetahuan global. Kita tidak cukup hanya menjadi pasar bagi teori yang diproduksi orang lain,” tandasnya.

Menurut Gonda, internasionalisasi perguruan tinggi juga tidak cukup dimaknai sebagai upaya mengikuti standar atau perspektif Global North. Internasionalisasi justru perlu membuka ruang lebih besar bagi akademisi Indonesia untuk membawa perspektif Indonesia, Islam, dan Global South ke dalam percakapan global.

Isu Terorisme dan Dua Sisi Teknologi

Lebih jauh, diskusi juga menyinggung isu terorisme sebagai salah satu contoh keterbatasan pendekatan yang terlalu bergantung pada teknologi maupun generalisasi teori.

Ilyas menekankan bahwa terorisme tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor. Kemiskinan, pendidikan, agama, maupun teknologi tidak secara otomatis menyebabkan seseorang menjadi teroris.

Menurutnya, teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan penyebaran pengetahuan, namun pada sisi yang lain justru dapat digunakan untuk propaganda dan penyebaran ideologi ekstrem.

Sebab itu, kata dia, pemahaman terhadap terorisme membutuhkan pembacaan konteks sosial, politik, sejarah, ekonomi, dan psikologis secara lebih mendalam.

Pembahasan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya ilmu sosial dan humaniora di tengah perkembangan AI. Teknologi dapat membantu mengumpulkan dan mengolah informasi, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memahami konteks, memberikan penilaian, serta menentukan bagaimana pengetahuan digunakan.

Baca Juga  Ribuan Sivitas Akademika UMM Ikuti Fun Tahes Rector Cup 2026, Kampanyekan Gaya Hidup Sehat

Ruang Dialog Studi Islam dan Persoalan Kontemporer

Sekretaris PSIB UMM, Diki Wahyudi, mengatakan Kajian Islam Multidisipliner dirancang untuk membuka ruang dialog antara studi Islam dan berbagai persoalan kontemporer, termasuk perkembangan teknologi, politik global, dan ketimpangan produksi pengetahuan.

“PSIB ingin menghadirkan kajian Islam yang tidak berhenti pada diskursus normatif, tetapi berdialog dengan persoalan nyata masyarakat. Perkembangan AI, ketimpangan pengetahuan antara Global North dan Global South, serta posisi ilmuwan Muslim dalam akademia global merupakan persoalan yang perlu kita respons secara serius,” ujarnya.

Ia berharap, forum akademik tidak berhenti pada kegiatan mendengarkan narasumber, tetapi dapat mendorong lahirnya pertanyaan, penelitian, dan produksi pengetahuan baru.

“Forum seperti ini kami harapkan menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali posisi kita sebagai akademisi. Apakah kita hanya menggunakan pengetahuan yang sudah tersedia, atau mulai berani memproduksi pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat kita sendiri,” tandas Diki.

Melalui forum tersebut, para peserta diajak untuk memahami kompleksitas dan tantangan persoalan mengenai masa depan pendidikan tinggi di Global South di tengah perkembangan AI.

Kemajuan akademik tidak cukup diukur dari kecepatan memperoleh informasi atau kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga dari kemampuan membangun perspektif, menghasilkan konsep, menguji argumentasi, dan membawa pengalaman lokal ke dalam perdebatan ilmiah global.

Ia menjelaskan, pengalaman sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap pengetahuan dari luar dapat berjalan bersama proses kritik dan produksi gagasan baru. Dalam konteks AI, semangat tersebut kembali relevan: teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal, tetapi kemandirian berpikir tetap menjadi fondasi.

PSIB UMM berharap, agenda tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun tradisi Islam Berkemajuan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus mendorong kontribusi terhadap persoalan kemanusiaan dan percakapan akademik global.***