MAKLUMAT — Masyarakat Indonesia lebih banyak melakukan perjalanan wisata di dalam negeri sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dalam periode tersebut, jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 737,85 juta perjalanan atau tumbuh 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan peningkatan perjalanan wisatawan nusantara menjadi salah satu penopang pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia hingga Juli 2026.
“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha, serta manfaat ekonomi di destinasi,” ucapnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (11/9/2026).
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri justru mengalami penurunan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, perjalanan ke luar negeri tercatat 5,26 juta perjalanan atau turun 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari perbandingan tersebut, Indonesia mencatat surplus 3,71 juta perjalanan. Angka ini menunjukkan besarnya aktivitas perjalanan masyarakat di dalam negeri dibandingkan perjalanan ke luar negeri.
Pada periode yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara juga masih mengalami pertumbuhan. Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 8,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juli 2026, meningkat 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Hal ini penting, karena pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah orang yang melakukan perjalanan,” kata Ni Luh Puspa.
Pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara terutama terlihat dari sejumlah pasar Asia. Kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69 persen, Asia Tenggara 7,32 persen, dan Oseania 7,26 persen.
Kementerian Pariwisata juga mencatat mulai membaiknya kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah seiring membaiknya situasi di kawasan tersebut. Sementara pasar Eropa masih mengalami kontraksi, meski menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Aktivitas perjalanan wisata tersebut turut tercermin pada industri akomodasi. Tingkat okupansi hotel sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat 49,13 persen, meningkat 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan perjalanan wisatawan juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan sektor pariwisata. Pada semester I 2026, devisa pariwisata mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp145,13 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,88 persen dibandingkan semester I 2025 yang mencapai 8,20 miliar dolar AS.
*) Penulis: M Habib Muzaki














