Dua Gempa Bumi Tektonik Guncang Maluku dalam Sehari, M6,0 di Laut Banda Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Bumi Tektonik

MALUKU — Dua gempa bumi tektonik mengguncang wilayah perairan sekitar Maluku pada Jumat (11/9/2026). Gempa pertama bermagnitudo M5,1 terjadi di Laut Timor pada dini hari, sedangkan gempa kedua bermagnitudo M6,0 mengguncang Laut Banda pada malam hari. BMKG memastikan kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Gempa M5,1 di Laut Timor terjadi pada pukul 01.44.46 WIB. Berdasarkan parameter pemutakhiran BMKG, gempa tersebut memiliki kedalaman 36 kilometer dengan episenter pada koordinat 8,74° Lintang Selatan dan 127,85° Bujur Timur.

Episenter gempa berada di laut, sekitar 65 kilometer tenggara Maluku Barat Daya.

Sementara itu, gempa M6,0 di Laut Banda terjadi pada pukul 18.56.24 WIB. Gempa tersebut memiliki kedalaman 148 kilometer dengan episenter pada koordinat 7,58° Lintang Selatan dan 129,14° Bujur Timur.

Lokasi episenter gempa berada di laut, sekitar 162 kilometer timur laut Maluku Barat Daya.

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, kedua gempa tidak berpotensi tsunami. Gempa tektonik terjadi akibat pergeseran atau pelepasan energi secara mendadak yang berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi.

Proses tersebut berlangsung melalui beberapa tahapan. Lempeng bumi terus bergerak secara perlahan. Pada bagian tertentu, pergerakan tersebut membuat batuan saling menekan, menempel, atau bergesekan sehingga energi dan tekanan terakumulasi.

Baca Juga  6 Bandara Ditutup karena Erupsi Anak Krakatau, 373 Penerbangan Terdampak

Ketika tekanan yang terkumpul melampaui kekuatan batuan, batuan dapat mengalami patahan atau pergeseran. Energi kemudian dilepaskan secara tiba-tiba dan merambat dalam bentuk gelombang seismik yang menimbulkan guncangan di permukaan bumi.

Karakteristik gempa tektonik antara lain berlangsung dalam waktu singkat dan memiliki kekuatan yang bervariasi, mulai dari gempa kecil hingga gempa dengan kekuatan sangat besar.

Gempa M5,1 di Laut Timor

BMKG mengategorikan gempa M5,1 di Laut Timor sebagai gempa bumi dangkal yang berkaitan dengan aktivitas deformasi batuan.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

Guncangan gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di Moa Lakor, Pulau Leti, dan Pulau Lakor, Maluku Barat Daya.

Skala IV MMI berarti pada siang hari guncangan dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah.

Hingga pukul 02.05 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa bumi susulan atau aftershock.

Gempa M6,0 di Laut Banda

Gempa kedua terjadi di Laut Banda pada Jumat malam dengan magnitudo pemutakhiran M6,0.

Dengan kedalaman 148 kilometer, BMKG mengategorikan gempa tersebut sebagai gempa bumi menengah yang berkaitan dengan aktivitas subduksi Laut Banda.

Baca Juga  Gempa NTT Belum Reda, Terjadi 1.624 Gempa Susulan, Korban Tewas Tembus 68 Orang

Mekanisme sumber gempa menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault.

Gempa M6,0 tersebut dirasakan dengan intensitas IV MMI di Amahai, Maluku Tengah, serta Damer dan Pulau-Pulau Babar, Maluku Barat Daya.

Guncangan juga dirasakan dengan intensitas III MMI di Kota Saumlaki dan Kota Tiakur.

Skala III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk yang sedang berlalu.

Hingga pukul 19.15 WIB, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa bumi susulan.

Mengapa Kedua Gempa Tidak Memicu Tsunami?

BMKG melakukan pemodelan tsunami setelah kedua gempa terjadi. Hasilnya menunjukkan gempa M5,1 di Laut Timor maupun gempa M6,0 di Laut Banda tidak berpotensi tsunami.

Meski demikian, BMKG tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan dan kemungkinan gempa susulan.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.***