MAKLUMAT — Bayangkan jika kamu hidup di sebuah kota metropolitan yang dilengkapi dengan ketenangan. Kota yang maju, cepat, canggih, tapi menyimpan ketenangan bagi siapa pun yang hidup di dalamnya. Bisa menemukan mall dengan berbagai produk branded tanpa harus khawatir uang habis untuk bayar PPN, jalanan tanpa klakson kendaraan dan kemacetan, udara yang sejuk, dan hidup tanpa orang-orang yang ramai ketika kamu memakai baju belum tersetrika.
Aku menemukan hidup yang tenang itu di sebuah kota metropolitan di Jepang. Kota yang katanya semua hal berjalan dengan cepat melebihi kecepatan di Jakarta. Pusat barang branded semua ada di kota Tokyo, yang kemudian ketika dibawa ke negara lain akan berkali-kali lipat lebih mahal harganya. Salah satu ibu kota negara maju di dunia yang sama sekali tidak pernah aku temui kemacetan di setiap sudut jalanannya.
Udara yang begitu sejuk dan lingkungan yang bersih, bahkan sekedar bungkus permen pun aku tidak menemukannya. Hingga orang-orang di sekitar yang tidak peduli apakah baju yang kukenakan sudah tersetrika atau belum, mereka hanya fokus pada dirinya masing-masing.
Menjadi Tokyo bagi Indonesia seperti kalimat utopis semata. Berkali-kali narasi yang bermunculan di artikel, konten sosial media, hingga video edukasi hanya berambisi mendoktrin masyarakatnya.
Doktrin bahwa ketidakcintaan masyarakat pada produk lokal, kemacetan disebabkan oleh volume kendaraan masyarakat, polusi asap rokok dan sampah berserakan disebabkan oleh kecerobohan masyarakat, tontonan acara televisi gosip menjadi kecenderungan masyarakat, sehingga semua ketidakteraturan yang terjadi seolah-olah adalah salah masyarakatnya.
Namun pernahkah sistem dan kebijakan yang dibuat selama ini menjadi fokus dari kausal semua ketidakteraturan yang terjadi? Fluktuasi mata uang yang tidak stabil, infrastruktur yang tidak cukup memadai, hingga aturan atau kebijakan yang kurang efektif.
Berbicara soal Tokyo di negara Jepang, yang membuat banyak orang sering bertanya-tanya akan tertibnya perilaku hidup di sana itu bukan hanya dari aspek masyarakatnya saja, namun kualitas sistem yang dibuat menjadi krusial dari ketertiban yang tercipta.
Kota Tokyo membuat saya cukup takjub. Dengan kepadatan penduduknya, Tokyo jarang mengalami kemacetan. Hal tersebut disebabkan karena fasilitas transportasi umum yang sangat memadai. Berbagai jenis kereta api dengan lapisan rel atas dan bawah tanah yang mampu menampung mobilitas kepadatan masyarakat Tokyo, dan ada juga fasilitas bus umum yang dapat digunakan.
Hal yang cukup unik adalah bagaimana orang Jepang selalu berjalan cepat dan terlihat sangat disiplin, tentu bukan tanpa alasan. Salah satu motivasi dan perilaku yang terbentuk berasal dari sistem kereta api sebagai transportasi umum utama yang cukup cepat jadwal keberangkatannya. Jarak antara satu stasiun ke stasiun rata-rata hanya membutuhkan waktu 5-10 menit, dan durasi pemberhentian kurang dari 1 menit.
Jika tertinggal satu kereta saja maka harus menunggu kereta dengan jurusan yang sama selama 10 menit, dan jika salah turun di stasiun pemberhentian maka harus mengulangi rute yang cukup panjang. Itulah alasan mengapa orang Jepang terlatih untuk berjalan cepat dan sangat disiplin akan waktu.
Dari cerita tentang kereta api di Jepang, dapat diambil kesimpulan bahwa sistem dan kebijakan menjadi penting untuk membentuk kualitas perilaku hidup masyarakat. Bukan melulu menyalahkan kebiasaan masyarakatnya saja, tetapi evaluasi terhadap sistem dalam setiap aspek kehidupan juga harus diperhatikan. Sistem yang adil, efektif, dan relevan terhadap kebutuhan masyarakat.
Jika Indonesia ingin berbenah, maka antara masyarakat dan para pemangku kebijakan juga harus saling kooperatif. Cukup disudahi perilaku saling menyalahkan menggunakan akun-akun buzzer itu. Jika Indonesia banyak kurangnya, mari kita pikirkan bersama, gagasan apa yang membuat Indonesia bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Dari kisah Tokyo ini kira-kira sudah sesiap apakah Indonesia memindahkan pola kehidupan Tokyo ke negaranya sendiri?
*) Penulis: Shintya Iftitah Dzikrullah
Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga 2026











