Islam dan Jepang: Cerita Shintya Iftitah Dzikrullah di Tokyo

tokyo

MAKLUMAT — Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga (UNAIR) 2026, Shintya Iftitah Dzikrullah, memanfaatkan kunjungannya ke Tokyo, Jepang, untuk belajar tentang kehidupan masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di negara tersebut.

Melalui Global Experience Program, ia bertemu dengan warga Indonesia dari berbagai latar belakang dan melihat langsung tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Shintya berada di Tokyo pada 23 Oktober hingga 4 November 2026. Ia mengikuti program yang mendapat dukungan dari Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dan Dompet Dhuafa Jepang. Program ini memilih empat dari 55 awardee BAKTI NUSA melalui seleksi nasional untuk mengikuti sejumlah kunjungan kelembagaan sekaligus membangun jejaring dengan komunitas muslim di Jepang.

Selama di Tokyo, Shintya mengikuti kegiatan komunitas muslim Indonesia. Ia bertemu dengan warga Indonesia yang menempuh pendidikan, menjalani perkuliahan, mengikuti program internasional, hingga bekerja di Jepang.

Pertemuan tersebut memberinya kesempatan untuk memahami pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan sebagai muslim di negara yang menempatkan mereka sebagai kelompok minoritas.

“Lebih banyak belajar dari masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di Jepang, mengingat mereka adalah minoritas di sana sehingga banyak tantangan yang mereka hadapi,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Senin (26/10/2026).

Baca Juga  Ketua IKA UNAIR Aceh Dorong Pimpinan Kampus Permudah Akses Siswa Berprestasi untuk Kuliah

Salah satu tantangan yang ia pelajari berkaitan dengan pelaksanaan ibadah sehari-hari. Ketersediaan tempat salat yang terbatas dan waktu kerja yang tidak selalu menyediakan jeda untuk beribadah menjadi persoalan bagi sebagian muslim Indonesia. Mereka juga menghadapi kesulitan menemukan makanan halal sehingga memasak makanan khas Indonesia menjadi salah satu pilihan.

tokyo
Shintya Iftitah Dzikrullah saat bertemu dengan Komunitas Muslim binaan Dompet Dhuafa Cabang Jepang di Matsudo, Prefektur Chiba, Sabtu (24/10/2026). Foto: Dok. Shintya Iftitah Dzikrullah

Di tengah situasi tersebut, komunitas muslim Indonesia berperan sebagai ruang untuk menjaga hubungan sosial dan memperkuat kehidupan beragama. Dompet Dhuafa Jepang menghimpun mereka dalam sebuah perkumpulan yang dibina langsung oleh Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jepang, Ustaz Achmad Firman Wahyudi. Kegiatannya meliputi membaca Al-Qur’an bersama, pengajian, refleksi, dan silaturahmi.

Bagi Shintya, aktivitas komunitas itu memperlihatkan bagaimana warga Indonesia menjaga kedekatan dengan sesama muslim di tengah tuntutan kehidupan di Jepang. Pertemuan rutin tersebut juga memberi mereka ruang untuk kembali menguatkan iman ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebiasaan setempat.

“Perhimpunan muslim Indonesia ini menjadi sarana mereka untuk tetap bisa me-recharge iman di tengah tuntutan hidup di Jepang,” jelas perempuan yang juga adalah kader IMM UNAIR tersebut.

Baca Juga  Setelah Mengenal Jepang, Bagaimana Kita Memandang Indonesia?

Selain berinteraksi dengan komunitas muslim, Shintya mengikuti kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Dalam agenda tersebut, ia berdiskusi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo, Prof. Dr. Amzul Rifin, M.A. Pembahasan mencakup fungsi KBRI dalam melindungi hak warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang.

Diskusi itu juga membahas tumbuhnya rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat Indonesia yang tinggal jauh dari Indonesia. Pengalaman hidup di luar negeri menjadi bahan refleksi bagi mereka untuk memahami kembali hubungan dengan negara asal, termasuk peran perwakilan Indonesia dalam mendampingi WNI di negara tujuan.

Shintya juga mengamati kebiasaan masyarakat lokal selama berada di Tokyo. Ia melihat kedisiplinan dalam mengatur waktu, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan sebagai hal yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

“Jepang sangat bersih, karena tidak ada yang membuang sampah sembarangan, dan tidak ada satu pun yang melanggar,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki