MAKLUMAT — Hari Wayang 7 November menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat salah satu kekayaan budaya Indonesia. Bagi yang ingin mendalami sejarah, proses pembuatan, hingga menonton pertunjukan wayang, sejumlah destinasi wisata di berbagai daerah bisa dikunjungi. Informasi ini dilansir dari laman Kemenpar, Sabtu (7/11/2026).
Mengenal Hari Wayang 7 November
Hari Wayang Nasional diperingati setiap 7 November. Wayang merupakan karya seni pertunjukan tradisional Indonesia yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Kata “wayang” berasal dari bahasa Jawa yang berarti bayangan. Penonton pada awalnya menyaksikan pertunjukan dari balik layar yang menyoroti bayangan boneka wayang. Ada pula yang menyebut istilah ini berasal dari “Ma Hyang” dalam bahasa Jawa Kuno, yang bermakna jalan menuju roh spiritual, dewa, atau Tuhan (Sang Hyang). Maknanya berkaitan dengan fungsi wayang dalam pemujaan leluhur di masa lampau.
Salah satu catatan tertua tentang wayang ditemukan pada Prasasti Balitung dari abad ke-10, peninggalan Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang Kuno. Prasasti itu menyebut profesi Galigi (artis keliling) yang kerap dipanggil kerajaan untuk mementaskan wayang bagi dewa dengan mengambil kisah Bima dari Mahabharata.
Sejak 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Hari Wayang Nasional setiap 7 November melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018. Penetapan ini menunjukkan wayang diakui secara nasional dan internasional.
7 Destinasi Wisata Wayang di Indonesia
Berikut destinasi wisata wayang yang bisa dikunjungi untuk memperkaya wawasan budaya.
1. Museum Wayang, Jakarta Barat
Museum Wayang berada di kawasan Kota Tua Jakarta, Jakarta Barat. Gedungnya dulu berfungsi sebagai De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Lama Belanda) pada 1640. Pada 1732 gedung itu menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda), lalu hancur akibat gempa bumi pada 1808. Museum ini diresmikan pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
Koleksinya mencakup wayang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, mulai dari wayang kulit, wayang golek, hingga boneka tradisional seperti Si Unyil, Si Manis Jembatan Ancol, dan Dewi Sinta. Pengunjung juga bisa mengikuti kegiatan edukasi budaya, termasuk pertunjukan wayang dan pengenalan proses pembuatan wayang.
2. Gedung Kesenian Paguyuban Wayang Orang Bharata, Jakarta Pusat
Gedung ini berada di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dan menjadi salah satu pusat pelestarian wayang orang sejak 1972. Berbeda dengan wayang kulit, wayang orang dimainkan langsung oleh manusia dengan kostum dan tata rias khas tokoh pewayangan.
Cerita yang dibawakan umumnya terinspirasi dari Mahabharata dan Ramayana, dipadukan dengan seni tari, dialog, musik gamelan, dan tata panggung. Harga tiket pertunjukan berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
3. Museum Wayang Sendang Mas, Banyumas
Museum ini berada di kompleks pusat pemerintahan lama Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, atau Kota Lama Banyumas. Diresmikan pada 31 Desember 1983, museum ini menjadi tempat mengenal sejarah dan perkembangan seni pewayangan. Nama Sendang Mas merupakan singkatan dari Seni Pedalangan Banyumas.
Koleksinya meliputi wayang kulit purwa, wayang golek, wayang beber, hingga Wayang Gagrag Banyumasan sebagai koleksi unggulan. Ada pula perlengkapan pertunjukan tradisional seperti gamelan, calung, dan blencong atau lampu penerangan pertunjukan wayang. Pengunjung juga bisa mengenal tokoh Bawor, ikon pewayangan Banyumas yang hanya ada dalam wayang Banyumasan.
4. Wayang Orang Sriwedari, Solo
Jika Jakarta punya Wayang Orang Bharata, Solo punya Wayang Orang Sriwedari. Pertunjukannya berlokasi di kawasan Taman Sriwedari, Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, dekat Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara.
Pertunjukan menampilkan kisah pewayangan dengan gerak tari, dialog berbahasa Jawa, dan iringan gamelan. Ceritanya umumnya mengangkat Mahabharata dan Ramayana dengan beragam pesan moral. Meski berbahasa Jawa, adegan-adegannya mudah dipahami, interaktif, dan mengundang tawa penonton.
5. Museum Potehi Gudo, Jombang
Museum Potehi Gudo berada di Desa Tukangan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, satu kompleks dengan Kelenteng Tri Dharma Hong Sang Kiong. Museum ini memperkenalkan wayang potehi, kesenian boneka tradisional khas Tionghoa yang telah berkembang di Indonesia selama berabad-abad.
Wayang potehi menggunakan boneka berbahan kain dengan kepala dan tangan yang umumnya terbuat dari kayu. Boneka dimainkan dengan tangan dari balik panggung kecil berornamen Tionghoa, dengan cerita yang biasanya terinspirasi kisah klasik Tiongkok. Museum ini juga menjadi tempat pelestarian dan pembuatan boneka wayang tersebut.
6. Museum Gubug Wayang, Mojokerto
Museum Gubug Wayang di Kota Mojokerto diresmikan pada 15 Agustus 2015. Museum menempati bangunan bergaya kolonial Belanda yang berdiri sejak 1912, dengan dua arca Dwarapala menyambut pengunjung di pintu masuk.
Koleksinya tersebar di tiga lantai, mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang potehi, hingga topeng, keris, dan alat musik tradisional. Salah satu daya tariknya adalah boneka Si Unyil karya Drs. Suyadi atau Pak Raden. Museum ini cocok untuk wisata edukasi bersama keluarga.
7. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Bali
Berlokasi di Kabupaten Gianyar, Bali, tempat ini melestarikan beragam topeng dan wayang dari Indonesia maupun mancanegara. Bangunannya berupa rumah joglo tradisional dengan interior kayu, dikelilingi taman tropis dan pepohonan rindang.
Ribuan koleksinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara di Asia dan belahan dunia lain. Pengunjung bisa menyusuri taman sambil berpindah dari satu ruang pamer ke ruang pamer lainnya, serta menikmati fasilitas pertunjukan seni.
Lestarikan Wayang di Hari Wayang 7 November
Itulah 7 destinasi wisata wayang yang bisa memperkaya wawasan budaya. Momentum Hari Wayang 7 November menjadi pengingat bagi kita untuk turut melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Jangan sampai wayang hanya tinggal cerita bagi anak-cucu kita nanti.***













