MAKLUMAT — Seratus tahun setelah Perang Jawa berakhir, sebuah peristiwa bersejarah terukir. Pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi didirikan sebagai organisasi induk sepak bola nasional.
Perang Jawa adalah perang Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda. Perjuangan bersenjata dari Diponegoro dan pengikutnya sayangnya berakhir dengan kegagalan. Meskipun demikian, perang ini menguras keuangan pemerintah kolonial.
Gagal melalui perjuangan bersenjata, perjuangan politik kebangsaan mulai bergeliat. Sepak bola menjadi salah satunya. PSSI berdiri untuk menyatukan perserikatan sepak bola dari berbagai daerah ke dalam satu payung. Dalam proses kelahiran PSSI tersebut, ada peran tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Muhammadiyah sangat menonjol, terutama melalui dua figur kunci, yaitu Abdul Hamid dan Ir. Soeratin Sosrosoegondo (Suratin).
Abdul Hamid, yang dikenal dengan sebutan Abdul Hamid BKN (Bin Kartoirono), merupakan santri langsung KH Ahmad Dahlan dan kader aktif Muhammadiyah sejak masa awal. Abdul Hamid terlibat dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW) dan turut merintis Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW). Aktivitasnya di Muhammadiyah terus berlanjut hingga dipercaya menjadi Bendahara Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode 1937-1942 di bawah kepemimpinan Mas Mansur. Keterlibatannya di dunia sepak bola tidak hanya terbatas pada tingkat klub, melainkan juga hingga tingkat nasional.
Dalam pendirian PSSI, Abdul Hamid menjabat sebagai bendahara pertama. Abdul Hamid hadir mewakili PSIM Yogyakarta, yang saat itu masih bernama Persatuan Sepakraga Mataram atau PSM. Di sisi lain, Ir. Soeratin Sosrosoegondo, insinyur teknik, menjadi ketua umum pertama PSSI (1930-1940). Meskipun lebih dikenal sebagai pendiri dan pemimpin PSSI, Suratin juga memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan Yogyakarta dan tokoh-tokoh yang mewakili PSIM. Kedua tokoh ini, Abdul Hamid dan Suratin, secara bersama-sama menjadi representasi penting dari PSIM Yogyakarta dalam proses pendirian PSSI.
Selain peran organisasional, Suratin meninggalkan jejak fisik yang abadi. Sebagai insinyur, Suratin dikenang sebagai arsitek di balik pembangunan Lapangan Asri di Wirobrajan, Yogyakarta. Lapangan ini bukan hanya arena olahraga, melainkan juga ruang publik yang digunakan untuk salat Idulfitri dan Iduladha. Karena penggunaanya ini, sering dijuluki “Arena Sholat Riyaya“, atau disingkat Lapangan Asri.
Di lapangan yang sama, PSHW Yogyakarta rutin berlatih dan bermarkas. Lapangan Asri menjadi simbol nyata persinggungan antara olahraga, dakwah, dan aktivitas keagamaan Muhammadiyah.
Peran tokoh Muhammadiyah tidak hanya terbatas di Yogyakarta. Di Solo, hubungan Muhammadiyah dengan Persis Solo sangat erat sejak era prakemerdekaan. Di PSHW Solo, ada figur Soeratman Erwin. Soeratman Erwin, aktif di Muhammadiyah Solo. Jejak pengabdiannya di sepak bola tercatat sebagai ketua Persis Solo pada tahun 1930-an. Soeratman Erwin menjabat sebagai wakil ketua PSSI pada tahun 1938-1941. Saat itu, ketua PSSI, Suratin, pindah dari Yogyakarta ke Bandung pada tahun 1938. Pada saat itu, kantor PSSI akhirnya diputuskan untuk pindah dari Yogyakarta ke Kota Solo.
Jejak sejarah Muhammadiyah dan sepak bola di kota Solo masih terlihat di tahun 1950-an. Saat itu, klub kebanggaan warga Solo, Persis, belum mempunyai kantor resmi. Muhammadiyah menyumbangkan salah satu petak ruangan yang berada di Balai Muhammadiyah di Keprabon, Solo, untuk kantor Persis pada tahun 1954. Sejak 1960, Persis memutuskan untuk berkantor di Balai Persis. Hal ini terjadi karena ketua umum Persis pada tahun 1954 hingga 1959, A. E. Said, berasal dari PSHW Solo.
Warisan itu semakin nyata dengan tetap dilestarikannya PSHW dan Sekolah Sepak Bola Hizbul Wathan (SSB HW) di berbagai daerah. PSHW yang berakar dari gerakan kepanduan Muhammadiyah tetap aktif, baik sebagai klub 4, maupun sebagai sekolah sepak bola Muhammadiyah.
Di tingkat akar rumput Muhammadiyah, entitas Hizbul Wathan dalam konteks sepakbola, telah menyelamatkan nama Hizbul Wathan. Sejak peleburan gerakan kepanduan Hizbul Wathan ke dalam Pramuka pada tahun 1961, Hizbul Wathan menjadi mati suri. Sampai akhirnya hidup kembali di tahun 1999. Selama rentang 1961 sampai 1999, Hizbul Wathan tetap eksis melalui sepak bola.
Sejarah sepak bola Muhammadiyah, adalah sejarah sepak bola Indonesia. Sejarah yang perlu terus dirawat. Lebih dari sekadar dirawat, sejarah sepak bola Muhammadiyah harus disemai agar terus berkembang. Selama masih ada penggerak sepak bola HW, asa untuk merawat dan mengembangkan sepak bola di Muhammadiyah terus menyala.***












