MAKLUMAT — Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyelenggarakan perhelatan akbar bertajuk Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) di Semarang, pada 2-9 November 2026. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat tata kelola filantropi Islam di Indonesia.
Rangkaian acara MZS ini mencakup sejumlah agenda utama, di antaranya Sekolah Amil, Sertifikasi Amil, Simposium, hingga agenda puncak berupa Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu.
Khusus pada agenda simposium yang dihadiri oleh perwakilan pengurus Lazismu dari seluruh Indonesia, acara menghadirkan Prof. Burhanuddin Muhtadi sebagai narasumber. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan hasil riset terbarunya mengenai peta filantropi di Indonesia yang menunjukkan angka fantastis.
Burhanuddin mengungkapkan bahwa total donasi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) di Indonesia selama setahun terakhir mencapai Rp343 triliun. Dari nilai tersebut, dua pertiga di antaranya berasal dari infak dan sedekah.
Sementara itu, porsi zakat, wakaf, dan kurban hanya mencakup sepertiga atau sekitar 36 persen. Secara rincian, dana tersebut terbagi menjadi kurban (15,2%), wakaf (9,8%), zakat mal (7,9%), dan zakat fitrah (2,5%).
Riset ini juga membedah demografi para penderma. Temuan menarik menunjukkan bahwa donasi ZISWAF paling banyak diberikan oleh Generasi X sebesar 33,2 persen, disusul kaum Milenial sebesar 32,2 persen. Sementara itu, kaum Gen Z menyumbang 17,7 persen dan kelompok Baby Boomers sebesar 16,7 persen.
Burhanuddin juga memaparkan preferensi penyaluran donasi di tengah masyarakat. Berdasarkan survei, para dermawan menginginkan agar dana mereka difokuskan pada program pengentasan kemiskinan (23,9%) dan pendidikan (21,5%). Diikuti oleh bantuan kemanusiaan (17,3%), dakwah (17,3%), pemberdayaan ekonomi (7,4%), dan pelayanan kesehatan (7,0%).
Tak cuma itu, Burhanuddin juga memaparkan temuan evaluatif bagi lembaga zakat formal, yakni rendahnya penyaluran derma masyarakat melalui lembaga formal seperti Lazismu, yang ternyata bukan disebabkan oleh krisis kepercayaan terhadap amil.
Faktor utamanya adalah kurangnya popularitas lembaga di mata publik. Berdasarkan riset tersebut, Lazismu baru dikenal oleh sekitar 29 persen responden, dibandingkan dengan lembaga amil lainnya. Sebab itu, para amil Lazismu didorong untuk mampu mengenalkan dan menyosialisasikan keberadaan lembaga secara lebih masif ke tengah masyarakat.
Merespons hasil riset tersebut, angka dan tren demografi penyumbang yang didominasi Gen X dan Milenial ini harus menjadi pemantik bagi penggerak filantropi di daerah, utamanya Lazismu. Para amil dituntut untuk lebih progresif dan inovatif. Tidak lagi sekadar konvensional, gerakan zakat di Lampung perlu mengadopsi kampanye digital yang kreatif guna menjaring segmen Milenial dan Gen Z, serta mendesain program unggulan yang secara nyata menjawab kebutuhan pengentasan kemiskinan dan pendidikan. Membangun kesadaran publik secara masif, agar potensi ekonomi umat tidak lagi mengendap di saluran informal, melainkan terkelola secara profesional dan berdampak besar.
*) Penulis: Tri Priyo Saputro












