Amien Rais Sebut Gibran Sudah Jadi “Kartu Mati”, Mustahil Maju Pilpres 2029

Amien Rais

MAKLUMAT — Amien Rais menilai Gibran Rakabuming Raka sudah tidak memiliki peluang untuk maju dalam Pilpres 2029. Pernyataan itu disampaikannya saat membahas perkembangan polemik pencalonan Gibran serta langkah sejumlah tokoh yang meminta wakil presiden tersebut didiskualifikasi.

Amien Rais mengatakan perbincangan mengenai masa depan Gibran pada 2029 semakin ramai di media sosial. Menurut dia, sebagian publik menilai Gibran semestinya didiskualifikasi apabila kembali maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada Pemilu 2029.

Di sisi lain, Amien Rais menilai Presiden Joko Widodo masih memiliki kepentingan agar Gibran tetap dapat melanjutkan karier politiknya. Ia bahkan mengaitkan masa depan politik Jokowi dengan keberlanjutan karier putranya tersebut.

“Jokowi paham bahwa no Gibran, no Jokowi. Tanpa Gibran jadi wapres atau presiden, Jokowi pasti bablas, punah, amblas,” kata Amien Rais dalam kanal YouTube pribadinya @AmienRaisOfficial, dikutip Ahad (13/9/2026).

Ungkit Sejumlah Tokoh

Amien Rais kemudian mengungkit sejumlah tokoh yang menurutnya terus menyuarakan persoalan tersebut. Ia menyebut Denny Indrayana, Refly Harun, dr. Tifauzia Tyassuma, Roy Suryo, M. Rizal Fadilah, Kurnia Tri Royani, Marwan Batubara, dan Ahmad Khozinuddin.

Ia juga menyebut sejumlah purnawirawan TNI yang tergabung dalam Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPP TNI). Nama yang disebut Amien Rais antara lain Jenderal TNI Purnawirawan Fachrul Razi, Marsekal TNI Purnawirawan Hanafie Asnan, Jenderal TNI Purnawirawan Tyasno Sudarto, serta Laksamana TNI Purnawirawan Slamet Subiyanto.

Menurutnya, FPP TNI telah mengirim surat resmi kepada DPR dan MPR pada 2 Juni 2025. Surat tersebut, kata dia, berisi permintaan agar kedua lembaga tersebut memulai proses pemakzulan Gibran.

Baca Juga  Saiful Mujani Petakan 6 Poros Pilpres 2029, Gibran Bisa Jadi Kejutan?

Amien Rais mengatakan FPP TNI kembali mendatangi pimpinan DPR dan MPR pada Agustus 2025 untuk menanyakan perkembangan tuntutan tersebut. Namun, ia menilai jawaban yang diberikan belum memberikan kejelasan mengenai tindak lanjutnya.

“Jawaban tidak jelas dijanjikan akan dibahas. Belakangan almarhum Pak Try Sutrisno yang pernah jadi wakil presiden ikut bergabung dengan FPP TNI. Nah, lagi-lagi jawaban DPR MPR muter-muter,” ujarnya.

Amien Rais kemudian mengaitkan perkembangan terbaru dengan langkah sejumlah ahli hukum tata negara. Ia menyebut Denny Indrayana telah meninggalkan kehidupannya di Australia untuk kembali ke Indonesia dan terlibat dalam persoalan yang menurut Amien Rais berkaitan dengan kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

Selain Denny, Amien Rais menyebut Refly Harun, Feri Amsari, Bivitri Susanti, hingga Muhammad Taufik sebagai sejumlah tokoh hukum yang menurutnya memiliki pandangan serupa mengenai persoalan Gibran.

Polemik Ijazah Gibran

Amien Rais mengatakan Denny Indrayana bersama sejumlah pihak telah mendatangi Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis, 10 September 2026. Ia menyebut kedatangan tersebut berkaitan dengan permintaan agar Gibran didiskualifikasi sebagai wakil presiden dan tidak diperbolehkan mengikuti Pilpres 2029.

“Deni Indrayana dan kawan-kawan akan datang lagi ke MK dengan melakukan petisi agar Gibran segera didiskualifikasi sebagai wapres ilegal. Nah, wapres ilegal ini istilah saya ya,” katanya.

Dalam pernyataannya, Amien Rais juga menyinggung persoalan ijazah Gibran yang selama ini menjadi bagian dari polemik tersebut. Ia menyebut adanya sayembara bagi pihak yang dapat menunjukkan ijazah asli Gibran.

Baca Juga  Suket Gibran Masuk Penyidikan Bareskrim Polri , Empat Pihak Disorot

Amien Rais menyebut, hadiah dalam sayembara itu pada awalnya bernilai Rp100 juta. Ia kemudian menyebut nilainya telah meningkat hingga Rp10 miliar.

“Lihat sayembara berhadiah untuk siapa saja yang bisa menunjukkan ijazah asli Gibran dengan hadiah yang mula-mula senilai Rp100 juta. Kemudian beberapa hari lalu sudah menyundul Rp10 miliar dan seterusnya,” ujar Amien Rais.

Amien Rais menilai langkah Denny Indrayana dan pihak-pihak yang mempermasalahkan status Gibran telah memengaruhi pandangan publik. Ia bahkan menyebut langkah tersebut telah meyakinkan puluhan juta orang bahwa Gibran tidak memiliki ijazah asli SMA atau yang sederajat.

Amien Rais kemudian menarik kesimpulan mengenai kemungkinan Gibran maju pada Pemilu 2029. Ia mengatakan, sekalipun Gibran masih berada di kursi wakil presiden hingga akhir masa jabatan, dirinya tetap menilai Gibran tidak mungkin mengikuti Pilpres berikutnya.

“Tanpa mendahului takdir Allah Swt, saya bisa menyimpulkan andai kata Gibran tetap saja nongkrong di kursi. Satu hal sudah bisa dipastikan. Mustahil tidak mungkin Gibran bisa ikut Pilpres tahun 2029. Jadi no way, tidak mungkin ya,” jelasnya.

Gibran Jadi Kartu Mati

Amien Rais kemudian menggunakan istilah “kartu mati” untuk menggambarkan posisi politik Gibran. Ia menilai perkembangan persoalan tersebut membuat peluang Gibran untuk kembali maju dalam kontestasi nasional pada 2029 semakin tertutup.

Menurut Amien Rais, kondisi tersebut juga akan berdampak terhadap Jokowi. Ia menilai Jokowi sebelumnya berharap Gibran dapat kembali berpasangan dengan Prabowo Subianto dalam kontestasi politik mendatang.

Baca Juga  Masih Adakah Ruang Kritik di Era Prabowo-Gibran?

Amien Rais mengatakan perubahan situasi tersebut membuat Jokowi tidak lagi bisa mengandalkan Gibran untuk melanjutkan pengaruh politiknya. Ia bahkan menggambarkan Jokowi sedang berada dalam situasi sulit akibat persoalan yang menimpa putranya.

“Karena itulah judul konten video ini Jokowi sedang sedih sesedih-sedihnya. Bisa juga Jokowi sedang bingung sebingung-bingungnya,” ujarnya.

Amien Rais juga menyinggung kemungkinan Kaesang Pangarep maju dalam Pilpres 2029 jika Gibran tidak dapat melanjutkan karier politiknya. Namun, ia menilai kemungkinan tersebut tidak akan menjadi pilihan yang tepat.

“Bagaimana kalau Kaesang Pangarep jadi capres atau cawapres tahun 2029? Wah, itu pasti jadi pilihan geblek segeblek-gebleknya ya,” kata Amien Rais.

Di bagian akhir videonya, Amien Rais kembali mengaitkan perkembangan politik tersebut dengan Jokowi. Ia menyebut mantan presiden itu harus menghadapi konsekuensi dari pilihan politik yang telah dilakukan selama ini.

Amien Rais menggunakan ungkapan Jawa untuk menggambarkan situasi tersebut. Ia menyebut Jokowi sedang “ngunduh wohing pakarti”, yang bermakna menuai hasil dari perbuatan yang telah dilakukan.

Ia kemudian meminta Jokowi berhati-hati menghadapi persoalan hukum yang mungkin muncul. Ia mengatakan Jokowi sebaiknya berdoa agar tidak sampai menghadapi proses hukum.

“Jadi jangan nyalahkan siapapun, Mas Jokowi, berdoalah selalu supaya Anda enggak digelandang ke pengadilan,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki