Dokumen Epstein Sebut Keterkaitan Para Tokoh Dunia Lintas Benua

Dokumen email Epstein ke Presiden AS Donald Trump. (Foto: SS JOC)

MAKLUMAT — Dokumen yang baru dibuka dari pengadilan federal Amerika Serikat (AS) terkait kasus penjahat seksual Jeffrey Epstein, mengungkap nama-nama pemimpin dunia, bangsawan, miliarder, hingga elit global yang disebut memiliki keterkaitan atau muncul dalam dokumen tersebut.

Dokumen lebih dari 3 juta halaman, 2.000 video, serta 180 ribu gambar yang dibuka oleh Departemen Kehakiman (DOJ) AS tersebut memunculkan puluhan tokoh berpengaruh dari berbagai negara.

Dokumen-dokumen itu memuat dugaan hubungan dan jangkauan relasi sosial tinggi Epstein. Sosok asal Brooklyn, New York itu disebut terkait dengan tokoh-tokoh penting dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang, mulai dari pemimpin politik, bangsawan, diplomat, hingga elite korporasi lintas benua.

Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyampaikan bahwa berkas yang dipublikasikan berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein, meski dilakukan penyuntingan untuk melindungi korban, khususnya anak di bawah umur. Tercatat sebanyak 43 nama korban dirilis tanpa disamarkan, termasuk lebih dari 20 orang yang masih di bawah umur saat dugaan pelecehan terjadi.

Tokoh Penting Disebut dalam Epstein Files

Sejumlah tokoh ternama dari Amerika Serikat (AS) disebut dalam dokumen tersebut, di antaranya Presiden AS Donald Trump, CEO Tesla Elon Musk, serta salah satu pendiri Microsoft Bill Gates.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan di portal DOJ, email Epstein memuat klaim yang belum diverifikasi bahwa Gates tertular penyakit menular seksual setelah pertemuan di pulau Epstein. Gates sendiri juga telah membantah seluruh tuduhan tersebut.

Baca Juga  Kecam Invasi Militer ke Venezuela, Rusia–China Desak AS Bebaskan Nicolas Maduro

Selain itu, dokumen tersebut juga menunjukkan adanya undangan Epstein kepada Elon Musk, untuk mengunjungi pulau pribadinya. Sementara Trump, disebut terkait dengan hubungan sosial dan bisnis.

Trump menanggapi dokumen tersebut dengan menyatakan bahwa berkas-berkas itu membersihkannya dari kesalahan dan menyebut dokumen tersebut “bertentangan dengan harapan di kalangan sayap kiri radikal.”

Selain itu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga disebut mengatur kunjungan keluarga ke pulau Epstein pada tahun 2012, meski kemudian menyatakan telah memutus hubungan. Namun, dokumen menunjukkan komunikasi di antara mereka masih berlangsung sampai tahun 2018.

Sejumlah legislator AS, termasuk Alexandria Ocasio-Cortez hingga Thomas Massie, mengkritik pengungkapan yang dinilai belum sepenuhnya terbuka. Mereka menuntut Departemen Kehakiman AS merilis seluruh berkas sebagaimana diwajibkan oleh hukum.

Tak cuma di AS, jangkauan relasi luas Epstein tampak dari dokumen tersebut, yang mengaitkannya dengan mantan Pangeran Andrew (Andrew Mountbatten-Windsor) melalui foto dan email. Termasuk undangan ke Istana Buckingham serta referensi jamuan makan malam pribadi.

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa Pangeran Andrew harus memberikan kesaksian di hadapan Parlemen.

Nama mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Peter Mandelson, juga muncul setelah catatan mengungkap bahwa Epstein melakukan tiga kali pembayaran masing-masing sebesar 25.000 dolar AS ke rekening yang dikaitkan dengannya.

Selain itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga disebut dalam email yang mengklaim dirinya meminta bantuan Epstein terkait persoalan tata kelola.

Baca Juga  Transkrip Lengkap Pidato Donald Trump Usai Pesawat AS Menjatuhkan Bom ke Fasilitas Nuklir Iran

Dokumen juga memuat kutipan yang dikaitkan dengan Macron serta pertemuan sejak masa jabatannya sebagai Menteri Ekonomi. Hingga kini, Macron juga belum memberikan pernyataan resmi.

Epstein juga disebut terkait dengan Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, yang disebut beberapa kali menginap di apartemen Epstein di New York. Dokumen lain menyebutkan bahwa pada tahun 2016, Barak meminta bantuan Epstein untuk mengatur wawancara dengan Donald Trump bagi media Israel.

Barak sendiri dikabarkan telah mengakui adanya kontak tersebut, namun membantah keterlibatan dalam aktivitas ilegal.

Keterkaitan luas Epstein dengan tokoh-tokoh penting dunia juga sampai ke berbagai negara lain di kawasan Eropa. Selain Inggris, Epstein juga disebut menjalin kontak dengan tokoh-tokoh asal Norwegia, Rusia, Denmark, Swedia, Slovakia, hingga Turki.

Putri Mahkota Norwegia, Mette-Marit menyatakan penyesalan atas kontaknya dengan Epstein dan menyebut hal tersebut “sangat memalukan.” Ia mengonfirmasi pernah mengunjungi rumah Epstein di Florida dan Saint-Barthelemy, namun membantah pernah datang ke pulau pribadinya.

Nama Putri Sofia dari Swedia serta Raja Frederik dari Denmark juga tercantum dalam dokumen. Sofia disebut pernah diundang ke acara pribadi Epstein di New York, sementara Frederik muncul dalam email tahun 2012 yang berkaitan dengan jamuan makan malam bersama rekan-rekan Epstein.

Di Slovakia, nama Miroslav Lajcak, mantan menteri luar negeri sekaligus penasihat Perdana Menteri Robert Fico, muncul dalam dokumen. Lajcak membantah melakukan pelanggaran dan menyatakan pengunduran dirinya bertujuan menghindari ketegangan politik.

Baca Juga  Prabowo, Donald Trump, dan Masa Depan Dunia

Dari Turki, Landon Thomas Jr., anggota dewan Robert College, diketahui mengirim email kepada Epstein pada 2014 untuk meminta saran penggalangan dana dan dukungan bagi institusi pendidikan tersebut. Pertukaran email ini memunculkan kekhawatiran baru terkait pengaruh Epstein di sektor pendidikan dan nirlaba.

Sementara itu, sebuah email menyebut tokoh oposisi Rusia Ilya Ponomarev sebagai sosok yang berpotensi menggantikan Vladimir Putin, serta penyelenggara pemberontakan. Dokumen terpisah juga mencatat pesan yang menyatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy “sedang mencari bantuan” dan digambarkan sebagai “dikendalikan oleh Israel,” sebagaimana tertulis dalam catatan Epstein.

Lebih lanjut, Epstein juga disebut terkait dan menjalin kontak dengan tokoh-tokoh di Asia, terutama di kawasan Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UEA).

Epstein disebut terkait dengan pengusaha Uni Emirat Arab, Sultan Ahmed bin Sulayem, dalam pembahasan penggunaan mantan agen MI6 dan Mossad untuk memulihkan aset Libya pasca runtuhnya rezim Gaddafi.

Selain itu, terdapat diskusi mengenai proyek di Somaliland, termasuk studio film dan ekspor air.

Pengungkapan berkas Epstein tersebut kembali memicu sorotan global terhadap jaringan relasi Epstein dan mendorong tuntutan transparansi penuh atas seluruh dokumen yang masih tersimpan di otoritas Amerika Serikat.

Jeffrey Epstein sendiri merupakan seorang pengusaha besar kelahiran Brooklyn, Amerika Serikat, yang divonis dalam kasus kejahatan dan perdagangan seksual anak-anak. Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan meninggal dunia di selnya dalam aksi bunuh diri.