MAKLUMAT– Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino hingga April 2027 mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah antisipasi untuk melindungi produksi cabai dan bawang merah. Pemerintah menyiapkan bantuan pompa air, pemetaan wilayah rawan kekeringan, serta penguatan distribusi guna menjaga pasokan dan mencegah lonjakan harga pangan.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol mengatakan pemerintah mengintegrasikan peta wilayah rawan kekeringan dengan data sentra produksi hortikultura nasional.
“ Pemetaan menjadi dasar pemerintah menentukan daerah prioritas penanganan, mengantisipasi gangguan produksi, dan menjaga ketersediaan komoditas strategis,” kata Freddy dalam keterangannya dikutip, Jumat (6/11/2026).
Kementan juga memperkuat distribusi hasil pertanian dari daerah yang mengalami surplus menuju wilayah yang berpotensi kekurangan pasokan. Langkah ini berjalan beriringan dengan pengembangan kawasan produksi dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Kementan Siapkan Pompa Air untuk Petani
Salah satu langkah konkret pemerintah adalah menyalurkan bantuan pompa air kepada petani di wilayah rawan kekeringan. Kementan mengoordinasikan program tersebut dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) untuk membantu petani mempertahankan ketersediaan air di lahan budidaya.
Selain bantuan sarana pengairan, Kementan melibatkan asosiasi champion cabai dan asosiasi bawang merah dalam upaya mitigasi. Pemerintah juga menyosialisasikan asuransi pertanian agar petani memiliki perlindungan ketika mengalami kerugian akibat gangguan iklim.
“Langkah mitigasi ini diperkuat lewat koordinasi bersama asosiasi champion cabai dan asosiasi bawang merah, serta sosialisasi asuransi pertanian bagi para petani,” ujar Freddy.
Freddy menilai penanganan ancaman kekeringan membutuhkan kerja sama pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan kelompok tani. Pengalaman industri benih, pupuk, serta pestisida juga perlu dipadukan dengan kajian ilmiah agar petani memperoleh rekomendasi budidaya yang sesuai dengan kondisi lapangan.
El Nino Berisiko Menekan Produksi Cabai dan Bawang
Guru Besar Universitas Padjadjaran, Profesor Dedi Ruswandi mengingatkan bahwa El Nino berpotensi memperpanjang musim kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini dapat mengganggu produksi hortikultura yang membutuhkan pengelolaan air secara intensif.
Sejumlah wilayah yang perlu mewaspadai dampaknya meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pergeseran awal musim hujan juga berpotensi mengubah kalender tanam, mengurangi ketersediaan air irigasi, serta menekan produktivitas tanaman.
Dedi menjelaska, cabai, tomat, dan bawang merah termasuk komoditas yang rentan terhadap kekeringan. Sistem perakaran sebagian tanaman hortikultura relatif dangkal sehingga penurunan kelembapan tanah dapat langsung memengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.
Suhu tinggi juga berpotensi mengganggu pembungaan dan pembentukan buah. Pada tanaman cabai, kondisi tersebut dapat menyebabkan bunga gugur atau flower drop. Kekeringan berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan serangan hama pengisap yang menjadi pembawa penyakit virus, termasuk penyakit kuning.
Gangguan produksi di sentra hortikultura dapat memengaruhi ketersediaan pasokan di pasar. Jika kekeringan terjadi secara bersamaan di sejumlah daerah, pasokan cabai dan bawang merah berpotensi menurun dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Petani Perlu Menyesuaikan Kalender Tanam
Dedi menilai pemerintah perlu mengubah pendekatan penanganan kekeringan. Informasi prakiraan iklim tidak cukup hanya disampaikan kepada petani, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sebelum kerusakan tanaman terjadi.
Ia menyoroti persoalan lack of early action atau kurangnya tindakan antisipatif sejak dini dalam menghadapi perubahan iklim.
Karena itu, informasi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terhubung langsung dengan perencanaan produksi pertanian. Petani dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan waktu tanam, memilih varietas, mengatur kebutuhan air, dan mengantisipasi serangan organisme pengganggu tanaman.
Dedi juga mendorong pengembangan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan dan suhu tinggi. Program pemuliaan tanaman, menurutnya, perlu mengutamakan kemampuan varietas mempertahankan hasil panen dalam kondisi lingkungan yang berubah.
Selain itu, pemerintah perlu memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) hingga tingkat kecamatan untuk memetakan risiko kekeringan. Pemetaan yang lebih terperinci akan membantu petani menentukan kalender tanam secara dinamis sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Diversifikasi Tanaman untuk Mengurangi Risiko
Dedi turut merekomendasikan penerapan sistem pertanaman ganda atau multiple cropping, termasuk pola tumpang sari cabai dan bawang merah.
Diversifikasi tersebut dapat membantu petani menyebarkan risiko usaha tani. Dengan menanam lebih dari satu komoditas, petani tidak sepenuhnya bergantung pada keberhasilan satu jenis tanaman ketika menghadapi gangguan iklim.
Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memasukkan mitigasi El Nino sebagai bagian permanen dalam perencanaan pangan nasional.
“Mitigasi El Nino harus dijadikan variabel tetap dalam perencanaan pangan nasional. Ketahanan pangan tidak dibangun saat krisis, tetapi di antara krisis,” tegasnya.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga ketahanan pangan membutuhkan persiapan jauh sebelum kekeringan berdampak pada hasil panen. Kesiapan sarana pengairan, benih adaptif, kalender tanam, dan distribusi pangan menjadi faktor penting untuk melindungi petani sekaligus menjaga daya beli masyarakat.













