Fenomena Begadang Massal Anak Muda di Kota-Kota Besar, Perlukah Negara Hadir?

MAKLUMAT — Di sudut-sudut kota besar Jawa Timur seperti Surabaya, Malang hingga Jember, malam tidak lagi identik dengan waktu istirahat. Ia telah bertransformasi menjadi ruang hidup baru.

Kafe-kafe 24 jam dipenuhi pengunjung, lampu neon tetap menyala dan anak muda berkumpul dengan laptop terbuka dan ditemani kopi dingin serta percakapan yang seolah tak pernah selesai. Dalam lanskap ini, begadang bukan lagi pengecualian melainkan telah menjelma menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat urban yang dianggap wajar bahkan produktif.

Sebagai kota metropolitan, Surabaya bergerak dengan ritme cepat dan kompetitif. Lalu, Malang hadir sebagai kota pendidikan dengan mobilitas mahasiswa yang tinggi, sementara Jember berkembang sebagai kota berbasis kampus yang terus memperluas ruang publik anak muda.

Ketiganya menjadi magnet urbanisasi yang menawarkan kebebasan, fleksibilitas waktu serta tanpa disadari telah melemahnya kontrol sosial keluarga. Dalam konteks ini, kehidupan malam tumbuh masif, kafe 24 jam menjamur, ruang kerja informal meningkat dan budaya “nongkrong produktif” menjadi identitas baru generasi muda.

Begadang tidak lagi lahir dari keterpaksaan, tetapi dari pilihan yang dianggap modern dan kreatif. Namun, di balik romantisme itu, tersimpan realitas yang jarang disadari. Kurang tidur bukan sekedar kebiasaan ringan melainkan persoalan kesehatan serius. Idealnya, remaja dan dewasa muda membutuhkan waktu tidur 8–10 jam per malam.

Baca Juga  Q-Action 1447: LKSA Nurul Husna Jember Salurkan Manfaat Kurban untuk 67 Anak Asuh dan Warga

Faktanya, banyak mahasiswa hanya tidur sekitar 6–7 jam, bahkan kurang. Dampaknya tidak main-main, risiko tekanan darah meningkat, ketidakseimbangan hormon terjadi, rasa lapar bertambah dan kecenderungan mengonsumsi makanan tinggi kalori semakin besar. Dari sisi kognitif, kurang tidur menurunkan konsentrasi, melemahkan daya ingat dan justru menggerus produktivitas belajar.

Di sinilah paradoks itu muncul. Malam dianggap lebih produktif karena suasana tenang dan minim distraksi. Padahal, secara ilmiah kurang tidur justru menurunkan fungsi otak, meningkatkan stres, serta memicu gangguan mental dan fisik.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi melahirkan masalah serius: obesitas, gangguan metabolisme, lemahnya sistem imun, hingga penyakit jantung. Begadang, dengan kata lain “keuntungan semu” di mana terlihat produktif hari ini, tetapi menyimpan kerugian besar di masa depan.

Lebih jauh, fenomena ini tidak bisa hanya dibaca sebagai pilihan individu. Ia merupakan hasil konstruksi sosial yang kompleks. Pertama, berkembangnya night economy menjadikan kafe 24 jam sebagai bagian dari mesin ekonomi kota.

Kedua, tekanan akademik mendorong mahasiswa “mencuri waktu” di malam hari. Ketiga, digitalisasi membuat batas siang dan malam semakin kabur. Dan keempat, terjadi pergeseran nilai begadang yang dulu dianggap negatif kini justru dipersepsikan sebagai simbol produktivitas dan gaya hidup “keren”.

Baca Juga  Film Tumbal Proyek: Horor, Mitos, dan Publik yang Dipelihara dalam Ketakutan

Dalam perspektif sosiologi, ini adalah wajah kapitalisme urban kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Waktu istirahat dipandang sebagai tidak produktif, sementara malam dijadikan ruang baru untuk bekerja dan mengonsumsi.

Anak muda pun berada dalam posisi paradoksal yang merasa bebas, tetapi sesungguhnya terikat pada ritme kota yang menuntut tanpa henti. Karena itu, fenomena ini tidak cukup diserahkan pada kesadaran individu. Ia telah menjadi problem struktural.

Negara dan pemangku kebijakan perlu hadir bukan sebagai “polisi tidur” yang represif tetapi sebagai pengarah yang bijak. Edukasi kesehatan publik harus diperkuat, lingkungan akademik perlu lebih manusiawi, dan narasi sosial harus diubah. Kita perlu menggeser cara pandang: dari “begadang itu produktif” menjadi “tidur cukup adalah bentuk kecerdasan”.

Pada akhirnya, begadang massal adalah alarm sosial. Ia tampak sederhana sekedar kopi, WiFi, dan obrolan malam. Namun di baliknya, tersembunyi potensi krisis kesehatan dan penurunan kualitas generasi muda. Jika dibiarkan, kita mungkin akan melahirkan generasi yang tampak aktif di malam hari tetapi rapuh dalam menghadapi masa depan.