MAKLUMAT — Goebeng Brug atau Jembatan Gubeng merupakan salah satu infrastruktur bersejarah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Surabaya sejak masa kolonial Hindia Belanda.
Membentang di atas Sungai Kalimas, Goebeng Brug tidak hanya menjadi penghubung kawasan Gubeng dengan pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga menjadi bagian penting dari jaringan trem listrik yang pernah menjadi tulang punggung transportasi Kota Pahlawan.
Hampir satu abad sejak diresmikan dalam bentuknya yang sekarang, Goebeng Brug masih berdiri kokoh dan menjadi saksi perjalanan Surabaya dari kota kolonial hingga metropolitan modern.
Berawal dari Jembatan Besi di Atas Kalimas
Sejarah Goebeng Brug bermula pada sekitar tahun 1890-an ketika pemerintah kolonial membangun jembatan besi untuk menghubungkan kawasan yang dipisahkan aliran Sungai Kalimas.
Saat itu Surabaya berkembang pesat sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan penting di Hindia Belanda. Mobilitas barang dan manusia yang semakin tinggi membuat keberadaan jembatan menjadi kebutuhan utama.
Struktur awal Goebeng Brug memiliki karakter serupa dengan Jembatan Merah dan Jembatan Peneleh yang dibangun pada periode yang hampir bersamaan.
Memasuki awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan kawasan Ketabang sebagai pusat pemerintahan modern. Pertumbuhan kawasan tersebut membuat lalu lintas semakin padat sehingga jembatan besi dinilai tidak lagi memadai.
Sebagai gantinya, dibangunlah jembatan beton bertulang yang lebih kuat pada 1923-1924.
Karya Cosman Citroen
Goebeng Brug dirancang oleh Cosman Citroen, arsitek Belanda yang juga dikenal sebagai perancang Stadhuis atau Balai Kota Surabaya.
Pembangunan jembatan tersebut menurut akun Instagram Diskominfo Kota Surabaya dikutip Ahad (21/6/2026), menjadi bagian dari proyek modernisasi Surabaya yang berlangsung pada awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan kota.
Keberadaan Goebeng Brug memperkuat konektivitas antara Stasiun Gubeng, kawasan pemerintahan Ketabang, pusat bisnis Simpang, hingga permukiman yang berkembang ke arah Darmo.
View this post on Instagram
Pernah Menjadi Jalur Trem Listrik
Salah satu peran penting Goebeng Brug adalah menjadi bagian dari jalur trem listrik Surabaya yang sempat berjaya pada masa kolonial.
Dikutip dari Historia, trem mulai beroperasi di Surabaya pada akhir abad ke-19 setelah pemerintah kolonial memberikan izin kepada Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS) pada 1886.
Perusahaan tersebut mulai mengoperasikan jaringan trem pada 1889 dengan trayek awal Ujung-Sepanjang, Mojokerto-Ngoro, dan Gemekan-Dinoyo.
Seiring perkembangan kota, jaringan trem terus diperluas. Antara 1913 hingga 1916, sejumlah jalur baru dibangun untuk menghubungkan kawasan-kawasan penting di Surabaya, termasuk wilayah yang terhubung melalui Goebeng Brug.
Menurut sejarawan Howard W. Dick dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000, warga Surabaya pada masa itu dapat menikmati layanan trem modern dengan frekuensi perjalanan yang sangat rapat.
Untuk mendukung operasionalnya, OJS mengembangkan sistem trem listrik yang dibangun sejak 1911 dan selesai pada 1924. Trem listrik menjadi moda transportasi favorit karena lebih cepat, bersih, dan efisien dibandingkan transportasi lain pada masa itu.
Menggerakkan Ekonomi Kota
Keberadaan trem yang melintasi kawasan Goebeng Brug ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Surabaya.
Pada 1927, tercatat sekitar 11,4 juta penumpang menggunakan trem listrik, sementara 5,2 juta penumpang memanfaatkan trem uap.
Transportasi massal tersebut memudahkan mobilitas pekerja dari pinggiran kota menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Bahkan, perkembangan jaringan trem ikut memengaruhi pergeseran pusat bisnis Surabaya dari kawasan Jembatan Merah menuju Tunjungan yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan baru.
Meredup dan Akhirnya Hilang
Masa kejayaan trem Surabaya tidak berlangsung selamanya.
Kemunculan mobil, bus, taksi, dan kendaraan pribadi membuat trem menghadapi persaingan yang semakin ketat. Krisis ekonomi dunia pada 1930-an dan meningkatnya penggunaan sepeda juga mengurangi jumlah penumpang.
Pada masa pendudukan Jepang, operasional trem sempat terganggu akibat pemboman instalasi listrik yang memasok energi ke Surabaya.
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan trem diambil alih pemerintah melalui Djawatan Kereta Api. Namun buruknya manajemen dan semakin kuatnya persaingan dengan moda transportasi lain membuat trem perlahan kehilangan perannya.
Akhirnya, jaringan trem Surabaya berhenti beroperasi pada dekade 1970-an.
Jalur Trem Masih Tersimpan di Bawah Kota
Meski trem telah lama hilang, jejaknya masih tersimpan di bawah jalan-jalan Kota Surabaya.
Dikutip dari Historia, jalur trem di Surabaya tidak pernah dibongkar secara menyeluruh. Rel-rel lama masih tertanam di bawah aspal, tanah, maupun lapisan material jalan lainnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Surabaya pernah menggagas pembangunan kembali jalur trem modern sepanjang 17 kilometer yang menghubungkan Wonokromo hingga Kalimas dengan memanfaatkan sebagian besar jalur lama yang masih ada.
Saksi Bisu Perjalanan Surabaya
Hingga kini Goebeng Brug tetap berdiri sebagai bangunan cagar budaya yang aktif digunakan masyarakat.
Di tengah lalu lintas modern dan gedung-gedung tinggi yang mengelilinginya, jembatan ini menjadi pengingat bahwa Surabaya pernah memiliki sistem transportasi massal yang maju dan terintegrasi.
Lebih dari sekadar jembatan penyeberangan, Goebeng Brug merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Kota Pahlawan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Surabaya.***













