MAKLUMAT — Ketua Umum PC IMM Buleleng Muhammad Saiful menyayangkan ketidakhadiran Bupati Buleleng dalam forum dialog yang membahas sejumlah persoalan daerah. Menurutnya, kehadiran kepala daerah penting agar aspirasi mahasiswa dapat dibicarakan langsung bersama pihak yang memiliki kewenangan.
“Kami memahami Bupati memiliki agenda dan tanggung jawab lainnya. Tetapi ketika mahasiswa membuka ruang dialog untuk membicarakan persoalan daerah, tentu kami berharap kepala daerah dapat hadir secara langsung untuk mendengar keresahan dan aspirasi mahasiswa,” ujar Saiful dalam siaran pers yang diterima Maklumat.id pada Senin (21/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Saiful dalam Dialog Publik “Buleleng Cerah” yang digelar PC IMM Buleleng bersama Aliansi Cipayung Plus dan Aliansi BEM Bali Utara. Kegiatan tersebut berlangsung di Lingkungan Laksmi Graha, Titik Nol Singaraja, Buleleng, Ahad (20/9/2026).
Dialog tersebut dihadiri Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman dan Wakil Ketua I DPRD Buleleng I Nyoman Gede Wandira Adi. Pemerintah Kabupaten Buleleng juga mengirim perwakilan melalui Kesbangpol serta sejumlah perangkat daerah, di antaranya Disdikpora dan BPBD.
Saiful mengapresiasi pihak yang hadir dalam forum tersebut. Ia menyebut kehadiran Kapolres Buleleng dan Wakil Ketua I DPRD Buleleng menunjukkan adanya ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang mereka soroti.
“Kami mengapresiasi kehadiran Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman dan Wakil Ketua I DPRD Buleleng I Nyoman Gede Wandira Adi yang telah hadir dan berdialog bersama mahasiswa. Namun, kami juga menyayangkan Bupati Buleleng tidak dapat hadir dalam forum ini,” ujarnya.
Dalam dialog itu, mahasiswa membahas sejumlah persoalan di Buleleng. Beberapa di antaranya menyangkut kekurangan tenaga guru dan infrastruktur pendidikan, khususnya di tingkat SMA. Mereka juga menyoroti kegiatan lapak baca yang dibubarkan pihak DLH serta kebakaran di Bukit Sesar yang berkembang dengan isu terkait puntung rokok.
Saiful juga menyayangkan sejumlah kepala dinas yang sebelumnya diundang belum dapat menghadiri dialog. Menurutnya, keterlibatan langsung perangkat daerah yang memiliki kewenangan diperlukan agar persoalan yang dibahas dapat memperoleh penjelasan dan tindak lanjut yang lebih konkret.
“Kami tidak datang hanya untuk mengkritik. Kami datang untuk berdialog dan mencari solusi. Mahasiswa tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin terlibat dalam proses mencari solusi dan mengawal tindak lanjutnya,” katanya.
Ia menilai waktu dialog yang terbatas membuat sejumlah persoalan belum dapat dibahas secara mendalam. Karena itu, PC IMM Buleleng mendorong adanya pertemuan lanjutan dengan waktu yang lebih panjang dan melibatkan pemerintah, aparat, mahasiswa, serta elemen masyarakat.
Saiful menegaskan “Buleleng Cerah” tidak dimaksudkan sebagai forum yang berhenti setelah kegiatan selesai. Ia berharap pembahasan mengenai persoalan daerah dapat diteruskan dalam pertemuan berikutnya dengan pembahasan yang lebih mendalam.
“Buleleng Cerah tidak boleh berhenti sebagai slogan. Buleleng harus cerah karena persoalannya dibicarakan, pemerintahnya hadir, dan solusi nyata terus diupayakan. Dialog hari ini selesai, tetapi diskusinya belum,” jelasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













