Kampus UINSA Disegel Mahasiswa, Perkuliahan Lumpuh

uinsa

MAKLUMAT — Perkuliahan di Kampus Ahmad Yani Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya lumpuh pada Senin (21/9/2026). Puluhan mahasiswa menyegel gerbang utara dan selatan kampus sebagai demonstrasi lanjutan menolak Rektor Akhmad Muzakki.

Berdasarkan pantauan Maklumat.id, penyegelan mulai sekitar pukul 06.00 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 14.00 WIB. Di gerbang utara, massa memasang spanduk putih bertuliskan “Kampus Disegel Sampai Muzakki Turun”.

Spanduk lain di dinding kanan gerbang menyatakan aksi berlanjut sampai Muzakki turun, lengkap dengan tagar #resetUINSA. Di gerbang selatan, spanduk berisi tuntutan kepada Presiden Prabowo Subianto agar segera mencopot Menteri Agama yang mereka nilai tidak kompeten, dan kepada Komisi VIII DPR agar memanggil Menteri Agama.

Spanduk lain mempertanyakan dasar Menteri Agama memilih kembali Muzakki, yang menurut para mahasiswa telah gagal pada periode sebelumnya. Sampai berita ini ditulis, Muzakki dan pihak UINSA belum memberikan tanggapan.

Aksi ini diikuti berbagai elemen mahasiswa, termasuk Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA. Dalam siaran resminya, DEMA mengumumkan aksi di depan Gedung Rektorat pukul 13.00 WIB. Mereka juga membawa tuntuan bertaju Aksi 1+7 dengan tuntutan utama agar Muzakki dicopot secara tidak hormat dari kursi rektor atau mundur secara pribadi.

Baca Juga  Hadirkan PRABOWO, Mahasiswa KKN UINSA Dorong UMKM Desa Mengen Go Digital

Wakil Presiden DEMA UINSA, Fadurrakhman Fazle Purwardana yang akrab disapa Ale, mengatakan mahasiswa juga menempuh jalur lain. Seluruh ketua DEMA dan Senat Mahasiswa (SEMA) tiap fakultas akan menandatangani pernyataan sikap, lalu mengirimkannya ke rektorat dan Komisi VIII DPR RI.

Mahasiswa juga akan mengirim surat audiensi kepada Kementerian Agama. “Kalau nantinya surat terkirim dan tidak ada tindak lanjut, jelas sekali ada rantai politik yang digunakan untuk menguatkan Muzakki,” ujar Ale.

Selama penyegelan, mahasiswa yang menunjukkan kartu tanda mahasiswa atau aplikasi penanda mahasiswa UINSA boleh masuk. Massa aksi tidak mengizinkan dosen dan pegawai masuk, kecuali untuk mengisi daftar hadir secara tertulis atau elektronik. Kendaraan tenaga kependidikan harus parkir di tepi frontage sebelah timur Jalan Ahmad Yani. Sempat terjadi adu mulut dalam situasi itu.

Kuliah di Kampus Ahmad Yani biasanya mulai pukul 07.30 WIB. Sebagian dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang tiba sebelum gerbang disegel sempat menunggu. Gerbang tak juga dibuka sampai tengah hari, dan mereka yang tidak terlibat aksi memilih pulang.

Ale juga menerima laporan bahwa banyak dosen berseberangan dengan kebijakan Muzakki. Ia sudah membuat tantangan terbuka kepada sivitas akademika, terutama guru besar, untuk ikut turun.

Baca Juga  Mahasiswa Serbu DPRD Sidoarjo, Tolak Pengesahan RUU TNI dan Suarakan Permasalahan Lokal

Sampai hari ini tidak ada guru besar yang turun atau menghubunginya. Ale menanggapi kabar bahwa sejumlah dosen ragu karena takut posisinya terancam.

“Kalau mereka resah dan takut mempertaruhkan karier, ya sudah enggak apa-apa. Kami juga tidak ketat mengajak mereka. Posisinya berbeda, dosen yang sudah punya keluarga dan harus bertanggung jawab kepada keluarga. Saya dan teman-teman mengerti hal itu,” kata Ale.

Mahasiswa UINSA sendiri berbeda menyikapi aksi ini. Banyak yang mendukung. Ada juga yang menyetujui tuntutan itu tetapi keberatan dengan cara aksinya. Salah satunya adalah Zenia (bukan nama sebenarnya).

Mahasiswi yang sedang mengejar target skripsi, tidak bisa bimbingan hari ini. Jadwal bimbingannya mundur sebab dosennya tidak dapat masuk ke dalam kampus.

Ahmad, mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, merasa kecewa karena merasa haknya terenggut. Padahal, ia berupaya bekerja maksimal di malam hari agar paginya dapat menikmati perkuliahan.

Ada pula mahasiswa yang sudah merasa berangkat jauh-jauh ke kampus, tetapi akhirnya batal kuliah. Ia kecewa. Padahal, ia sudah berangkat dari luar kota dengan jarak di atas 20 kilometer. “Demo boleh, saya juga sepakat, tapi kalau begini, banyak yang rugi,” ujarnya.

Baca Juga  Perguruan Tinggi Didorong Jadi Motor Peradaban Islam Dunia

 

*) Penulis: M Habib Muzaki/Fatin Azmi Fauziyah