MAKLUMAT — Nama Yusuf Alam Romadhon kini menjadi salah satu sosok penting di balik lahirnya Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Namun perjalanan Dr Yusuf FK UMS itu tidak dimulai dari ruang akademik modern atau keluarga elite. Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana di Nganjuk, Jawa Timur.
Malam itu, ruang kerja Yusuf belum benar-benar sepi. Tumpukan dokumen masih terbuka, layar laptop tetap menyala, sementara dirinya bersama sekretaris program studi, Anika Candrasari, berpacu menyelesaikan pemberkasan PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer FK UMS. “September 2025 itu harus selesai,” kenang Yusuf seperti dilansir laman UMS, Senin (16/5/2026).
Saat itu, jumlah dokter spesialis layanan primer di UMS masih sangat terbatas. Bahkan, hampir seluruh proses mulai penyusunan kurikulum, administrasi, hingga pencarian tenaga pengajar tambahan harus dikerjakan oleh tim kecil yang ada. “Awalnya kami hanya dua orang,” ujar Kaprodi PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer FK UMS tersebut.
Dr Yusuf FK UMS Dididik Disiplin sejak Kecil
Kedisiplinan menjadi fondasi hidup Yusuf sejak kecil. Ayahnya yang bekerja sebagai petani desa menanamkan kebiasaan belajar sejak subuh kepada anak-anaknya. “Bapak saya ingin anak-anaknya tidak gagal pendidikan seperti beliau,” tuturnya.
Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, Yusuf tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi pendidikan. Dua kakaknya lebih dulu menjadi dokter dan menginspirasi dirinya mengikuti jalan serupa.
Keinginan menjadi dokter akhirnya membawanya kuliah di Universitas Sebelas Maret hingga meraih gelar doktor di bidang kedokteran. Namun titik balik perjalanan Dr Yusuf FK UMS justru terjadi saat menjalani masa coass di rumah sakit.
Kala itu, ia melihat langsung kerasnya dunia dokter spesialis dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi. Pengalaman tersebut membuatnya tertarik mendalami dunia akademik sekaligus layanan kesehatan primer.
Jadi Generasi Awal Dokter Layanan Primer
Ketika pemerintah mulai mengakui kedokteran keluarga sebagai bagian pendidikan dokter spesialis nasional, Yusuf termasuk generasi awal yang memperoleh gelar Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (Sp.KKLP).
Gelar tersebut diperolehnya melalui mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) berdasarkan pengalaman praktik dan rekam jejak akademik. Sejak 2020, Dr Yusuf FK UMS resmi mengantongi Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai dokter spesialis layanan primer.
Momentum tersebut menjadi titik penting lahirnya Program PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer FK UMS.
Ikut Bangun FK UMS dari Masa Sulit
Perjalanan Yusuf di FK UMS dimulai sejak awal 2000-an ketika kondisi fakultas masih jauh dari stabil. Saat itu, sistem pendidikan belum terintegrasi dan banyak dokter memilih keluar masuk kampus. “Menjadi dosen waktu itu bukan pilihan menarik bagi banyak dokter,” ungkapnya.
Namun Yusuf memilih bertahan dan ikut membangun sistem pendidikan FK UMS dari bawah. Ia menjadi bagian penting transformasi FK UMS ketika kampus harus beralih dari sistem pembelajaran konvensional menuju kurikulum blok terintegrasi.
Bersama tim, dirinya belajar ke berbagai kampus, berdiskusi hingga larut malam, bahkan “nyantri” untuk memahami sistem pendidikan kedokteran modern. Yusuf juga menjadi bagian generasi perintis FK UMS bersama istrinya, Yuni Prastyo Kurniati.
Kala itu, FK UMS masih bergabung dengan Fakultas Ilmu Kesehatan di Kampus 1 Pabelan sebelum berkembang hingga memiliki gedung baru di Kampus 4 Gonilan
PPDS Kedokteran Keluarga Siap Dibuka
Ketika pemerintah mulai mendorong percepatan jumlah dokter spesialis layanan primer sekitar 2019–2020, UMS bergerak cepat menangkap peluang tersebut.
Apalagi, regulasi terbaru mendorong setiap puskesmas memiliki dokter spesialis layanan primer. Melihat kebutuhan itu, UMS membentuk Program PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer.
Tantangannya tidak mudah. Jumlah tenaga terbatas, pengalaman nasional masih minim, hingga tuntutan standar pendidikan yang tinggi. Namun perlahan tim berkembang. “Kini Program PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer UMS siap menerima mahasiswa baru mulai Agustus mendatang,” ujar Yusuf.
Program tersebut memiliki masa pendidikan tujuh semester seperti program dokter spesialis lainnya.
Dokter Tak Hanya Mengobati
Menurut Yusuf, spesialis kedokteran keluarga layanan primer memiliki pendekatan berbeda dibanding spesialis lain. Jika spesialis lain fokus pada organ atau penyakit tertentu, dokter layanan primer melihat pasien secara menyeluruh, termasuk keluarga, lingkungan, hingga pola hidupnya.
Ia mencontohkan penyakit kronis seperti diabetes tidak cukup ditangani hanya dengan obat. “Perubahan perilaku justru menjadi kunci utama,” jelasnya.
Karena itu, dokter layanan primer tak hanya memberi resep, tetapi juga mendampingi pasien memahami kondisi dirinya sendiri. Mahasiswa PPDS pun dilatih melakukan komunikasi terapeutik, konseling, hingga pendekatan berbasis keluarga.
Indonesia Masih Kekurangan Dokter Layanan Primer
Yusuf menilai Indonesia masih membutuhkan sangat banyak dokter spesialis layanan primer, terutama untuk memperkuat layanan kesehatan di tingkat puskesmas. Menurutnya, penguatan layanan primer menjadi kunci penting meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Ia menyinggung Singapura yang memiliki angka harapan hidup mencapai 83–84 tahun. “Itu bukan semata-mata karena rumah sakit canggih, tetapi karena layanan primer mereka kuat,” ujarnya.
Karena itu, Yusuf optimistis masa depan kedokteran keluarga layanan primer di Indonesia akan semakin strategis dalam sistem kesehatan nasional.***













