MAKLUMAT – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama mengunjungi Pondok Pesantren Canga’an di Bangil, Kabupaten Pasuruan, untuk mengenang jejak pendidikan ayahnya, almarhum KH Masykur Hasyim, sekaligus menelusuri sejarah panjang pesantren yang berdiri sekitar tahun 1710 Masehi.
Kunjungan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) itu menjadi perjalanan spiritual, sekaligus mengingat kembali peran pesantren tertua tersebut dalam melahirkan ulama dan menjaga syiar Islam di tengah tekanan kolonial.
Saat memasuki jerambah KH Hasyim Asy’ari, Lia mengaku merasakan ikatan emosional yang kuat. Bangunan itu merupakan tempat sang ayah pernah mengaji ketika menjadi santri di Canga’an.
Perasaan haru semakin terasa ketika ia melihat salah satu kamar santri yang diyakininya pernah ditempati ayahnya selama mondok.
“Pesantren Canga’an bukan hanya bagian dari sejarah Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup keluarga saya. Di sinilah ayah saya pernah menimba ilmu,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia ini kepada maklumat.id, Sabtu (25/7/2026).
Bagi Lia, napak tilas itu bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan bentuk penghormatan kepada mata rantai keilmuan yang diwariskan para ulama kepada generasi penerus.
Untuk diketahui, Ayah Lia, almarhum KH Masykur Hasyim adalah satu dari sekian Tokoh NU terkenal di Jawa Timur. Bahkan ia menjadi salah satu sesepuh NU yang peduli dengan penegakkan khitthah 1926.
Kiai Masykur dikenal sebagai Komandan Banser saat berlangsung Muktamar ke-27 NU Tahun 1984 di Situbondo. Eksis di dunia politik, ia menjabat sebagai Ketua DPW PPP Jawa Timur dan menjadi anggota DPRD Jawa Timur cukup lama (lebih dari 25 tahun).
Kiai Masykur yang juga mantan Anggota Komisi D (bidang Pembangunan) dan Ketua Fraksi Gabungan DPRD Jawa Timur ini menikah dengan Hajjah Aisyah yang merupakan kakak Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Benteng Pendidikan Islam Sejak Masa Penjajahan
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Pesantren Canga’an telah menjadi pusat pendidikan Islam di kawasan timur Pulau Jawa.
Didirikan oleh Syekh Jalaluddin atau Mbah Lowo Ijo sekitar tahun 1710 Masehi, pesantren ini berkembang menjadi tempat para santri dari berbagai daerah di Nusantara menimba ilmu agama.
Di tengah pengawasan pemerintah kolonial Belanda, pesantren tetap menjalankan aktivitas pendidikan, dakwah, dan pembinaan masyarakat. Tradisi pengajaran kitab kuning, ilmu tauhid, serta pembentukan karakter santri terus berlangsung tanpa terputus.
Menurut berbagai catatan sejarah, julukan Mbah Lowo Ijo muncul karena strategi dakwahnya menghindari kejaran penjajah. Ia dikisahkan kerap bertirakat dengan bergelantungan di pohon seperti kelelawar untuk mengelabui pengawasan kolonial.
Dari pesantren inilah lahir mata rantai keilmuan yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, serta keluarga KH Wahab Hasbullah yang berperan penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama.
Hingga kini, Pesantren Canga’an masih mempertahankan tradisi mengaji kitab klasik, penggunaan kitab beraksara Arab Pegon, serta menjaga berbagai peninggalan sejarah, termasuk sumur yang diyakini merupakan peninggalan Syaikhona Kholil Bangkalan.
Pesantren Tak Hanya Mendidik Santri, tetapi Menjaga Identitas Bangsa
Jejak pribadi Lia Istifhama memperlihatkan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi ruang lahirnya karakter dan kepemimpinan. Kisah KH Masykur Hasyim yang pernah belajar di Canga’an menjadi bukti bahwa pesantren telah mencetak tokoh-tokoh bangsa lintas generasi.
Lebih dari itu, sejarah Canga’an menunjukkan pada masa penjajahan, pesantren berfungsi sebagai benteng pendidikan Islam dan pusat perlawanan kultural. Ketika ruang pendidikan masyarakat dibatasi kolonial, pesantren tetap menjaga sanad keilmuan, membangun kesadaran keagamaan, serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Peran historis inilah yang membuat Pesantren Canga’an tidak hanya penting bagi NU, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.














