MAKLUMAT — Pendidikan tidak hanya menjadi hak setiap anak, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan. Prinsip tersebut menjadi dasar pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar melalui penguatan pendidikan, pembentukan karakter, hingga pengembangan keterampilan sebagai bekal anak saat kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Subseksi (Kasubsi) Pendidikan dan Latihan Keterampilan LPKA Kelas I Blitar, Sugeng Budianto, mengatakan bahwa pendidikan menjadi program utama yang diberikan kepada seluruh anak binaan. Hal itu dilakukan karena seluruh penghuni LPKA masih berada pada usia sekolah, sehingga tetap berhak memperoleh layanan pendidikan yang layak.
“Program pembinaan yang utama di LPKA itu adalah pendidikan. Karena anak-anak di LPKA batas usianya maksimal 18 tahun, sehingga mereka masih berada pada usia wajib sekolah. Di sini ada pendidikan SD, SMP, hingga SMA,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Selasa (21/7/2026).
Menurut Sugeng, pendidikan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian anak. Pembinaan tersebut diperkuat melalui pendidikan keagamaan, kegiatan sosial, hingga berbagai aktivitas yang mendorong tumbuhnya nilai tanggung jawab dan kedisiplinan.
“Pendidikan ini masih terbagi lagi. Ada pendidikan intelektual, pendidikan kepribadian, kemudian pendidikan kerohaniannya juga ada. Itu semua dikembangkan dalam proses pembinaan,” katanya.
Selain pendidikan, anak-anak juga dibekali berbagai keterampilan yang dapat menjadi modal ketika kembali menjalani kehidupan di masyarakat. Beragam pelatihan diberikan agar mereka memiliki kemampuan praktis sekaligus rasa percaya diri untuk membangun masa depannya secara mandiri.
“Kemandirian itu pembekalan anak agar nanti dia keluar sudah mempunyai bekal untuk hidup mereka. Ada pelatihan handicraft, servis AC, kegiatan hadrah, pramuka, tahfidz, dan berbagai keterampilan lainnya,” jelasnya.
Ia menilai keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh program yang dijalankan di dalam LPKA, tetapi juga dukungan lingkungan setelah anak kembali ke masyarakat. Karena itu, hubungan anak dengan keluarga tetap dijaga sebagai bagian penting dalam proses pembinaan.
“Kita tidak memutuskan hubungan antara orang tua dan anak. Proses pembinaan yang terbaik itu adalah orang tua dan anak,” ungkapnya.
Untuk menjaga kedekatan tersebut, LPKA memfasilitasi kunjungan keluarga maupun layanan panggilan video bagi anak yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Langkah ini dilakukan agar anak tetap memperoleh perhatian dan dukungan emosional selama menjalani masa pembinaan.
“Anak yang tidak bisa dikunjungi tetap kami fasilitasi dengan video call. Intinya, kami tidak memutus hubungan antara anak dengan keluarganya,” tuturnya.
Ia berharap pendidikan, pembentukan karakter, dan keterampilan yang diperoleh selama berada di LPKA dapat menjadi bekal untuk menyongsong masa depan. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
“Yang penting kita di sini berusaha membekali anak agar setelah keluar dari LPKA bisa berubah seperti yang kita harapkan,” pungkasnya.
*) Penulis: Nasywa Athirah













