Merawat Kebhinekaan di Era Digital: Gerakan Jempol Baik dan Teladan Aries Marsudiyanto

Penulis: Muhammad Zaki Mubarak. *)

MAKLUMAT — Di era ketika satu sentuhan jari dapat menjangkau jutaan orang, jempol bukan lagi sekadar bagian dari aktivitas sehari-hari. Di ruang digital, jempol telah menjadi instrumen yang mampu membentuk opini, menggerakkan massa, menyebarkan pengetahuan, sekaligus—jika tidak digunakan dengan bijak—memicu konflik dan perpecahan.

Karena itu, menjaga kebhinekaan Indonesia hari ini tidak cukup hanya dilakukan di ruang-ruang fisik. Ia juga harus diperjuangkan di ruang digital.

Pesan inilah yang terasa kuat dalam gagasan Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aries Marsudiyanto, yang menyerukan pentingnya Gerakan Nasional Jempol Baik. Sebuah gagasan sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial.

Kepemimpinan yang Merangkul Generasi Muda

Kepemimpinan modern tidak semata-mata diukur dari ketegasan dalam mengambil keputusan atau kemampuan menghadapi berbagai persoalan pemerintahan. Lebih dari itu, kepemimpinan juga dapat dilihat dari seberapa jauh seorang pemimpin mampu membaca tantangan masa depan dan menyiapkan generasi yang akan mengisinya.

Dalam konteks tersebut, perhatian terhadap karakter generasi muda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda kebangsaan.

Sosok Aries Marsudiyanto menunjukkan perspektif tersebut. Di tengah tanggung jawab besar dalam mengawal akuntabilitas dan efektivitas pemerintahan, perhatian terhadap moral, etika, karakter, serta semangat kebangsaan generasi muda tetap menjadi pesan penting yang dibawanya.

Yang menarik, pesan tersebut disampaikan dengan pendekatan yang terbuka dan dialogis. Bukan dengan bahasa yang menggurui, tetapi melalui komunikasi yang mudah diterima berbagai kalangan.

Kemampuan menjembatani birokrasi, lembaga negara, tokoh keagamaan, organisasi kemahasiswaan, hingga gerakan anak muda di tingkat akar rumput merupakan modal penting dalam membangun komunikasi kebangsaan.

Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Karena itu, kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan dan menemukan titik temu di antara berbagai kelompok menjadi semakin penting.

Baca Juga  Australia Larang Penggunaan Media Sosial untuk Anak, Dosen Unesa: Pelajaran dan Tantangan Indonesia

Tanwir IMM dan Pesan Kebangsaan yang Menyejukkan

Kehadiran Aries Marsudiyanto dalam forum strategis Tanwir DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) beberapa waktu lalu patut diapresiasi.

Bagi kader IMM, kehadiran tersebut bukan sekadar kehadiran seorang pejabat publik dalam agenda organisasi mahasiswa. Lebih jauh, hal itu dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap posisi mahasiswa sebagai bagian penting dari kekuatan moral, intelektual, dan sosial dalam perjalanan bangsa.

Pesan yang disampaikan dalam orasi kebangsaan tersebut juga memiliki relevansi yang kuat dengan tradisi gerakan mahasiswa.

Mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis. Namun, kritik juga harus dibangun di atas rasionalitas, kedalaman intelektual, data, serta semangat mencari solusi.

Di tengah situasi ketika emosi sering kali lebih cepat menyebar daripada fakta, gerakan mahasiswa dituntut untuk menghadirkan narasi yang mencerdaskan, bukan memperkeruh keadaan.

Di sinilah pentingnya ruang digital digunakan sebagai arena pertarungan gagasan, bukan pertarungan kebencian.

Ketika Jempol Menjadi Penentu Arah Peradaban

Kita mungkin tidak pernah menyadari betapa besar dampak dari sebuah unggahan.

Satu komentar dapat memengaruhi persepsi seseorang. Satu video dapat menjadi viral dalam hitungan menit. Satu informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar ke ribuan bahkan jutaan pengguna. Sebaliknya, satu unggahan positif juga dapat memberikan inspirasi, menyebarkan edukasi, mempertemukan orang-orang dalam semangat solidaritas, dan memperkuat persatuan.

Karena itu, gagasan Gerakan Nasional Jempol Baik menjadi relevan.

Gerakan ini dapat dimaknai sebagai ajakan moral agar setiap pengguna media sosial memiliki kesadaran bahwa aktivitas digital memiliki konsekuensi nyata.

Jempol kita harus digunakan dengan akal sehat.

Sebelum membagikan sebuah informasi, kita perlu bertanya: apakah informasi tersebut benar? Apakah bermanfaat? Apakah berpotensi merugikan orang lain? Apakah justru dapat menimbulkan perpecahan?

Baca Juga  Pakar UMSurabaya: Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Narasi Pasca Kerusuhan

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu sesungguhnya merupakan bentuk tanggung jawab kewargaan di era digital.

Media sosial juga harus dikembalikan sebagai ruang untuk menyebarkan kebaikan. Ruang digital dapat menjadi tempat memperluas pendidikan, memperkuat toleransi, menyampaikan gagasan kebangsaan, dan mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam semangat persatuan.

Dengan demikian, etika digital bukan sekadar persoalan sopan santun ketika menggunakan media sosial. Ia merupakan bagian dari karakter kebangsaan.

IMM dan Tantangan Memasifkan Jempol Baik

Gagasan yang baik tidak boleh berhenti di podium atau menjadi slogan sesaat.

Karena itu, respons DPP IMM untuk mengambil bagian dalam mengkampanyekan nilai-nilai Jempol Baik merupakan langkah yang patut diapresiasi.

Dengan jaringan kader yang tersebar di seluruh Indonesia dan keterhubungan yang kuat dengan lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, IMM memiliki ruang strategis untuk menjadikan etika digital sebagai bagian dari gerakan intelektual dan kaderisasi.

Nilai-nilai Jempol Baik dapat diintegrasikan ke dalam berbagai aktivitas organisasi, mulai dari kaderisasi, diskusi kebangsaan, literasi digital, konsolidasi organisasi, hingga aktivitas media sosial kader.

Kampus juga harus menjadi ruang pembelajaran bagaimana kebebasan berekspresi berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Mahasiswa boleh berbeda pendapat. Bahkan, perbedaan merupakan bagian penting dari kehidupan intelektual. Namun, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan, menyebarkan fitnah, atau menghilangkan penghormatan terhadap sesama.

Jika gerakan ini dapat diterapkan secara konsisten, Jempol Baik bukan hanya menjadi kampanye digital, tetapi dapat berkembang menjadi budaya baru di kalangan generasi muda.

Negara dan Gerakan Pemuda Harus Berjalan Bersama

Salah satu tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah bagaimana memastikan perkembangan teknologi tidak berjalan lebih cepat daripada perkembangan karakter manusianya.

Teknologi terus berubah. Platform media sosial terus berganti. Algoritma semakin canggih. Namun, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, persaudaraan, dan kecintaan terhadap tanah air tetap harus menjadi fondasi.

Baca Juga  Antara Palu, Nurani, dan Langit: Revitalisasi Hakim sebagai Wakil Tuhan di Muka Bumi

Di sinilah sinergi antara negara dan gerakan pemuda menjadi penting.

Negara membutuhkan energi kritis dari mahasiswa. Sebaliknya, gerakan mahasiswa juga membutuhkan ruang dialog dan komunikasi yang sehat dengan negara.

Keduanya tidak harus selalu berada dalam posisi berhadap-hadapan. Dalam isu-isu kebangsaan tertentu, negara dan gerakan pemuda justru dapat berjalan berdampingan untuk mencari solusi terbaik bagi masyarakat.

Kehadiran Aries Marsudiyanto dalam forum Tanwir DPP IMM itu menunjukkan bahwa ruang dialog tersebut masih sangat mungkin dibangun.

Dan dari ruang dialog itulah gagasan-gagasan besar tentang Indonesia masa depan dapat dirumuskan.

Dari Jempol, Kita Menjaga Indonesia

Pada akhirnya, menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, aparat negara, atau para pemimpin bangsa. Menjaga Indonesia juga merupakan tanggung jawab setiap warga negara.

Termasuk melalui apa yang kita tulis, apa yang kita bagikan, apa yang kita komentari, dan apa yang kita pilih untuk tidak sebarkan.

Kebhinekaan Indonesia dapat dirawat melalui tindakan-tindakan sederhana. Salah satunya adalah menggunakan jempol dengan bijak.

Pesan “Jempol Baik” yang diserukan Aries Marsudiyanto menjadi pengingat bahwa peradaban digital juga membutuhkan etika dan karakter.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologinya, tetapi juga oleh seberapa matang manusia yang menggunakannya.

Dari jempol yang bijak lahir percakapan yang sehat, dari percakapan yang sehat lahir saling pengertian, dari saling pengertian tumbuh persatuan.

Dan dari persatuan itulah kebhinekaan Indonesia akan terus terjaga.

Jempol kita mungkin kecil. Tetapi ketika jutaan jempol digunakan untuk kebaikan, ia dapat menjadi kekuatan besar untuk menjaga persatuan dan membangun peradaban digital Indonesia.***

*) Penulis: Muhammad Zaki Mubarak
Sekjend DPP IMM; Mahasiswa S3 Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta