Minyak Jelantah Tak Harus Berakhir di Tempat Sampah, Bisa Diolah Jadi Lilin Aromaterapi

minyak jelantah

MAKLUMAT — Minyak jelantah masih sering berakhir di saluran pembuangan atau kembali dipakai berulang kali untuk memasak. Padahal, limbah rumah tangga itu masih dapat dimanfaatkan menjadi produk lain yang berguna.

Gagasan inilah yang coba diperkenalkan mahasiswa KKN Kelompok 61 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kepada ibu-ibu PKK Desa Pucangro melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi.

“Kami ingin mengajak ibu-ibu melihat bahwa minyak jelantah bukan hanya limbah yang harus dibuang. Jika diolah dengan benar, minyak jelantah masih memiliki nilai guna, salah satunya menjadi lilin aromaterapi yang bermanfaat dan bahkan memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan menjadi usaha rumahan,” ujar Ketua KKN 61 UINSA Desa Pucangro, Muhammad Bimo Wijoyo.

Pelatihan itu berlangsung di rumah Ketua RT 01 RW 04 Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jumat (17/7/2026). Mahasiswa mengajak peserta mengenali tahapan mengolah minyak jelantah agar layak digunakan sebagai bahan baku lilin, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan limbah rumah tangga yang selama ini kerap terabaikan.

Peserta terlebih dahulu memurnikan minyak jelantah menggunakan karbon aktif untuk mengurangi bau, warna pekat, dan sisa kotoran. Setelah itu, mereka mempraktikkan pembuatan lilin dengan mencampurkan minyak bersama bahan pengeras, kemudian menambahkan pewarna dan essential oil sebelum menuangkannya ke dalam cetakan hingga mengeras.

Baca Juga  Kampus UINSA Disegel Mahasiswa, Perkuliahan Lumpuh

“Bahan yang digunakan sebenarnya sederhana dan fleksibel. Selain parafin, ibu-ibu juga bisa menggunakan palm wax, natural wax seperti soy wax atau beeswax, bahkan lilin putih biasa yang dicacah. Yang terpenting, minyak jelantah harus dimurnikan terlebih dahulu agar kualitas lilin menjadi lebih baik,” katanya.

Bagi warga, pelatihan tersebut tidak hanya menambah keterampilan baru, tetapi juga membuka cara pandang lain terhadap minyak jelantah yang selama ini dianggap tidak lagi memiliki manfaat. Hasil olahan itu bahkan dinilai dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun dikembangkan sebagai produk rumahan.

Ketua PKK Desa Pucangro Khoirotun Ni’mah mengatakan lilin aromaterapi yang dibuat dari minyak jelantah memiliki manfaat yang dekat dengan kebutuhan warga. Ia mencontohkan, sebagian ibu-ibu di desanya membuat jaring ikan pada malam hari sehingga membutuhkan penerangan tambahan.

“Kegiatan hari ini sangat bermanfaat bagi ibu-ibu. Lilin ini juga bisa dimanfaatkan, apalagi di sini ada ibu-ibu yang membuat jaring ikan dan membutuhkan penerangan saat merajut. Selama ini kami juga belum pernah belajar membuat lilin dari minyak jelantah, padahal limbah itu selalu ada di setiap dapur,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN menyerahkan bahan-bahan pembuatan lilin aromaterapi kepada Ketua PKK Desa Pucangro. Bantuan itu diharapkan dapat digunakan kembali dalam kegiatan PKK sehingga ibu-ibu dapat terus mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari.

Baca Juga  Pesan Wakil Rektor UINSA kepada IMM: Wadahi Anak Muda dan Perkuat Kaderisasi

“Harapan saya, ibu-ibu PKK nanti bisa mempraktikkan sendiri pembuatan lilin di rumah. Apalagi adik-adik mahasiswa sudah memberikan bahan pembuatannya. Nanti akan saya bagikan kepada ibu-ibu PKK supaya bisa dipraktikkan lagi di rumah dan diteruskan kepada masyarakat,” ujarnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki