PBNU Diminta Tak Tersandera Konflik Jelang Muktamar ke 35, Tokoh NU Soroti Kriteria Ketum Ideal

bendera NU

MAKLUMAT — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diminta tidak tersandera konflik internal menjelang Muktamar ke-35 NU. Sejumlah tokoh NU menilai kepemimpinan baru harus mampu mengembalikan fokus organisasi pada pelayanan umat, penguatan pesantren, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kaderisasi.

Pesan tersebut mengemuka di tengah menghangatnya bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Ketua PCNU Kabupaten Semarang KH Ahmad Fauzan menyampaikan, aspirasi dari kalangan PCNU Jawa Tengah menginginkan PBNU dipimpin sosok yang mampu meredam dinamika internal dan menjaga soliditas organisasi.

“PBNU jangan sampai tersandera konflik, tetapi harus kembali memperkuat pelayanan melalui pendidikan, pesantren, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi, hingga penguatan organisasi sampai tingkat cabang dan ranting,” ujarnya dikutip, Rabu (22/7/2026).

Menurut Fauzan, kepemimpinan PBNU juga harus tetap berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, Qanun Asasi, serta nilai-nilai para muassis NU.

Sementara itu, Katib Syuriyah PBNU KH Sarmidi Husna menegaskan, figur Ketua Umum PBNU ke depan harus memiliki kedekatan dengan umat dan ikhlas mengabdi kepada organisasi.

Baca Juga  Gus Fahrur Dorong Muktamar NU Dipercepat, Tegaskan Harus Lewat Konbes

“Harus dekat dengan umat dan ikhlas khidmah untuk Nahdlatul Ulama,” kata Sarmidi.

Pandangan senada disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori. Menurutnya, warga Nahdliyin merindukan pemimpin yang rutin hadir di tengah masyarakat sebagaimana teladan para ketua umum sebelumnya.

“NU memang harus dekat dengan umat. Itu yang warga rindukan,” ujarnya.

Yusuf mengingatkan NU tetap harus menjadi mitra strategis pemerintah, tetapi tidak larut dalam kekuasaan sehingga tetap dapat menjalankan fungsi kontrol melalui amar makruf nahi mungkar.

Di sisi lain, Katib Syuriyah PBNU Dr. H. Ikhsan Abdullah menilai Ketua Umum PBNU mendatang harus memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren, berwawasan global, memiliki kemampuan manajerial, menjaga Khittah NU, serta mampu memperkuat kemandirian ekonomi organisasi.

Ia juga mengingatkan proses pemilihan Ketua Umum PBNU tidak hanya mempertimbangkan popularitas maupun kekuatan modal.

“Tugas kita bersama adalah mencari figur yang paling NU, berilmu, berakhlak, berwawasan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa,” tegas Ikhsan.

Muktamar Jangan Terjebak Kontestasi Elite

Menguatnya seruan agar PBNU tidak tersandera konflik menunjukkan besarnya harapan warga Nahdliyin agar Muktamar ke-35 tidak hanya menjadi arena perebutan kepemimpinan. Tokoh-tokoh NU menginginkan muktamar menghasilkan pemimpin yang mampu merajut persatuan, menjaga independensi organisasi, sekaligus mengembalikan fokus NU pada pelayanan umat, penguatan pesantren, dan pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga  ​Gus Irfan: Saya Malu Melihat Dinamika Internal NU Jelang Muktamar 2026

Di tengah dinamika politik internal, isu rekonsiliasi dan penguatan khidmah diperkirakan akan menjadi salah satu tema utama dalam Muktamar NU 2026.