Islamisasi Digital Pelajar Muhammadiyah dan Gerbang Baru Dakwah Nusantara

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi. *)

MAKLUMAT — Pelajar Muhammadiyah hari ini hidup di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Mereka tidak hanya tumbuh di ruang keluarga, sekolah, masjid, dan organisasi, tetapi juga di ruang digital yang setiap hari membentuk cara berpikir, cara belajar, cara beragama, bahkan cara membangun identitas diri. Media sosial, mesin pencari, gim daring, dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari kehidupan pelajar.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta jiwa dengan penetrasi 79,5 persen. Angka ini menegaskan bahwa ruang digital bukan lagi ruang tambahan, melainkan ruang hidup utama masyarakat. Dalam konteks Jawa Timur, BPS mencatat penduduk usia 15-19 tahun pada 2026 mencapai sekitar 2,94 juta jiwa, sedangkan usia 20-24 tahun sekitar 2,98 juta jiwa. Artinya, hampir 6 juta anak muda berada dalam fase penting pembentukan karakter, ilmu, dan orientasi hidup.

Namun besarnya jumlah anak muda dan luasnya akses internet tidak otomatis melahirkan kedewasaan digital. UNICEF Indonesia mencatat hanya 37,5 persen anak yang pernah menerima informasi tentang cara aman saat daring. Sebanyak 42 persen anak pernah merasa takut atau tidak nyaman karena pengalaman daring, dan 50,3 persen pernah melihat gambar seksual di media sosial. Data ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan hanya ruang belajar dan komunikasi, tetapi juga ruang risiko.

Islamisasi Digital Pelajar Muhammadiyah

Di sinilah gagasan islamisasi digital pelajar Muhammadiyah menjadi penting. Islamisasi digital bukan sekadar menempelkan ayat, hadis, atau simbol Islam pada konten media sosial. Ia juga bukan sekadar memperbanyak desain dakwah yang menarik. Islamisasi digital adalah upaya menghadirkan adab, tabayyun, tanggung jawab ilmu, etika bermedia, dan kebermanfaatan dalam seluruh aktivitas digital pelajar.

Baca Juga  Demokrasi Prosedural dan Erosi Kualitas Lembaga Konstitusi

Bagi pelajar Muhammadiyah, transformasi digital harus dipimpin oleh ideologi, bukan oleh algoritma. Jika tidak, cara berpikir pelajar akan lebih banyak dibentuk oleh konten viral daripada tradisi ilmu. Mereka akan lebih cepat mengikuti apa yang ramai, bukan apa yang benar. Mereka akan lebih mudah percaya potongan informasi, bukan membangun pemahaman yang utuh.

Namun, islamisasi digital juga tidak boleh berhenti di layar. Dakwah pelajar Muhammadiyah harus membumi. Artinya, pelajar tidak cukup menjadi produsen konten dakwah di media sosial, tetapi juga harus hadir di masjid, ranting, cabang, sekolah, dan lingkungan sosialnya. Dakwah yang kuat adalah dakwah yang mampu mencerdaskan masyarakat digital sekaligus menghidupkan masyarakat akar rumput.

Jawa Timur memiliki peluang besar untuk menjadi gerbang baru dakwah pelajar Nusantara. Basis anak mudanya besar, tradisi keislamannya kuat, jaringan Muhammadiyahnya luas, dan ruang digitalnya terus berkembang. Tetapi peluang ini hanya akan berarti jika gerakan pelajar mampu menghubungkan dua kekuatan sekaligus: literasi digital dan pengabdian sosial.

Dalam perspektif maqashid syariah, islamisasi digital dapat dipahami sebagai ikhtiar menjaga kemaslahatan pelajar. Ia menjaga agama dengan menghadirkan dakwah yang mencerahkan. Ia menjaga akal dengan melawan hoaks, budaya instan, dan ketergantungan buta pada teknologi. Ia menjaga jiwa dengan membangun ruang digital yang aman dari perundungan. Ia menjaga generasi dari konten merusak dan krisis karakter. Ia menjaga harta dari judi online, penipuan digital, dan perilaku konsumtif. Ia juga menjaga martabat dengan membangun adab bermedia dan menolak fitnah, ujaran kebencian, serta perendahan terhadap sesama.

Baca Juga  Kapal Induk AS dan "Tentara Tinja": Sebuah Peringatan?

Langkah Nyata Islamisasi Digital

Karena itu, gagasan membumikan gerakan dakwah pelajar dan islamisasi digital pelajar Muhammadiyah perlu disatukan dalam beberapa langkah nyata.

Pertama, Madrasah Digital Berkemajuan. Ini dapat menjadi ruang pembinaan pelajar tentang ideologi IPM, Islam Berkemajuan, adab digital, literasi AI, tabayyun, keamanan digital, dan etika bermedia. Tujuannya bukan hanya membuat pelajar pandai menggunakan teknologi, tetapi membentuk pelajar yang mampu menggunakan teknologi secara berilmu dan bertanggung jawab.

Kedua, Laboratorium Dakwah Pelajar. Ruang ini dapat menjadi wadah produksi konten dakwah yang santun, argumentatif, dan mencerahkan. Konten dakwah pelajar tidak boleh hanya mengejar viral, tetapi harus menghadirkan nilai, pengetahuan, dan akhlak. Isu yang dapat diangkat antara lain adab bermedia, anti-hoaks, bahaya judi online, etika AI, fikih pelajar, kesehatan mental, dan nilai Islam Berkemajuan.

Ketiga, Gerakan Tabayyun Pelajar. Pelajar perlu dibiasakan memeriksa informasi sebelum membagikan. Ini penting karena banyak konflik digital bermula dari informasi yang dipotong, disalahpahami, atau dibagikan tanpa verifikasi. Gerakan ini dapat menjadi kontribusi IPM untuk menekan hoaks, fitnah, provokasi, dan polarisasi di kalangan pelajar.

Keempat, Akademi Marbot Pelajar. Marbot pelajar tidak boleh dimaknai sempit sebagai penjaga masjid. Ia perlu dipahami sebagai aktivator masjid: pelajar yang membantu menghidupkan kajian remaja, kultum pelajar, kelas tahsin, publikasi kegiatan masjid, kebersihan masjid, dan kegiatan sosial berbasis masjid. Dengan cara ini, masjid menjadi lebih dekat dengan generasi muda.

Baca Juga  Lebaran 2026: Euforia yang Meredup

Kelima, KDI Mengabdi di Masjid Ranting dan Cabang. Bidang Kajian Dakwah Islam IPM dapat berkolaborasi dengan LPCR, LDK, Majelis Tabligh, PCM, dan PDM. IPM tidak mengambil alih peran lembaga atau majelis, tetapi hadir sebagai energi kader muda yang membantu dakwah Persyarikatan. Dari sisi eksternal, kolaborasi juga dapat dibangun dengan instansi komunikasi dan informatika untuk memperkuat literasi digital, keamanan bermedia, pencegahan hoaks, dan etika penggunaan AI.

Dengan langkah tersebut, islamisasi digital tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjadi gerakan yang menghubungkan layar dan masjid, konten dan pengabdian, literasi digital dan dakwah akar rumput. Pelajar Muhammadiyah tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi subjek dakwah yang mampu memberi arah nilai di tengah derasnya perubahan zaman.

Masa depan dakwah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengikuti teknologi, tetapi oleh siapa yang mampu memimpin teknologi dengan nilai. Karena itu, pelajar Muhammadiyah harus hadir sebagai generasi yang cakap digital, kuat ideologi, matang akhlak, dan nyata pengabdiannya. Dakwah tidak boleh hanya ramai di layar, tetapi harus terasa manfaatnya di masyarakat.***

*) Penulis: Akhmad Hasbul Wafi
Sekbid KDI PD IPM Kabupaten Malang