Privasi Anak Selebritas dan Tantangan Komunikasi Keluarga

keluarga

MAKLUMAT — Media sosial menjadi ruang bagi selebritas untuk membagikan kehidupan keluarga. Namun, popularitas tidak berarti seluruh aspek kehidupan pribadi harus terbuka untuk publik, terutama ketika konten melibatkan anak yang belum mampu menentukan sendiri bagaimana dirinya ditampilkan di ruang digital.

Peristiwa wajah Baby Soso, putri Alyssa Daguise dan Al Ghazali, yang sempat terlihat dalam sebuah vlog keluarga menjadi contoh persoalan tersebut. Alyssa dan Al sebelumnya memilih menjaga wajah anak mereka dari paparan publik. Setelah wajah Baby Soso tersebar di media sosial, muncul diskusi mengenai privasi anak, keputusan orang tua, dan batasan dalam membagikan momen keluarga.

Persoalan ini tidak harus dipahami sebagai pertentangan antara orang tua dan keluarga besar. Kebiasaan mendokumentasikan kebersamaan bukanlah sesuatu yang otomatis keliru. Namun, ketika kebiasaan tersebut berhadapan dengan keputusan orang tua untuk menjaga privasi anak, diperlukan komunikasi yang mampu menyelaraskan kepentingan semua pihak.

Kebiasaan Keluarga dan Kewenangan Orang Tua

Setiap keluarga memiliki kebiasaan berbeda dalam menggunakan media sosial. Sebagian terbiasa membagikan berbagai kegiatan, sedangkan yang lain memilih menyimpan momen tertentu sebagai pengalaman pribadi. Perbedaan ini dapat muncul dalam satu keluarga besar karena setiap anggota memiliki pemahaman berbeda tentang privasi dan penggunaan media sosial.

Bagi sebagian orang, mengunggah foto atau video anak mungkin dianggap sebagai bentuk kebanggaan dan kenangan. Sebaliknya, orang tua dapat memilih untuk tidak memperlihatkan wajah anak demi mempertimbangkan privasi, keamanan, dan jejak digital sejak dini.

Baca Juga  Mewujudkan Politik Kebangsaan yang Berkemajuan dan Berkeadaban

Dalam situasi tersebut, keputusan orang tua perlu mendapat perhatian karena mereka bertanggung jawab atas perlindungan dan kepentingan anak. Meski demikian, hal ini tidak berarti keluarga besar harus meninggalkan kebiasaan dokumentasi.

Keluarga dapat tetap merekam kebersamaan dengan menyepakati batasan, seperti tidak menampilkan wajah anak, memeriksa konten sebelum diunggah, serta membedakan dokumentasi pribadi dari publikasi untuk khalayak luas.

Membaca Kesalahpahaman melalui Pola Komunikasi Keluarga

Persoalan ini dapat dianalisis menggunakan Family Communication Patterns Theory (FCPT) yang dikembangkan oleh Mary Anne Fitzpatrick dan Ascan F. Koerner. Teori ini menjelaskan komunikasi keluarga melalui dua dimensi: conversation orientation, yaitu keterbukaan dalam mendiskusikan persoalan, dan conformity orientation, yaitu sejauh mana keluarga menekankan kesamaan nilai, sikap, dan keputusan.

Kedua dimensi tersebut menghasilkan empat pola komunikasi: consensual, pluralistic, protective, dan laissez-faire. Dalam konteks ini, pola pluralistic dapat digunakan untuk memahami pentingnya keterbukaan dan ruang bagi perbedaan pendapat.

Anggota keluarga tidak harus memiliki pandangan yang sama untuk tetap menjaga hubungan baik. Orang tua dapat menjelaskan alasan menjaga privasi anak, sementara keluarga besar dapat menyampaikan bahwa dokumentasi merupakan bagian dari kebiasaan mereka dalam merayakan kebersamaan.

Namun, keterbukaan saja tidak cukup apabila tidak diikuti kesepakatan yang jelas. Pola consensual menjadi pembanding karena menggabungkan keterbukaan diskusi dengan upaya mencapai keselarasan dalam keputusan keluarga. Dengan demikian, pola pluralistic menekankan pentingnya ruang untuk berbeda pendapat, sedangkan pola consensual menyoroti perlunya kesepakatan yang dipahami bersama.

Baca Juga  Mewujudkan Politik Kebangsaan yang Berkemajuan dan Berkeadaban

Dalam kasus Baby Soso, wajah sang anak sempat terlihat tanpa sensor dalam vlog Maia Estianty. Video tersebut kemudian dihapus, tetapi potongannya telanjur beredar di media sosial. Peristiwa ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara keputusan orang tua untuk menjaga privasi anak dan hasil akhir publikasi konten. Meski demikian, hal tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa Maia sengaja mengabaikan keputusan Alyssa atau bahwa komunikasi internal keluarga mereka tertutup.

Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana kesepakatan privasi disampaikan kepada pihak yang terlibat, apakah batasannya telah dipahami secara spesifik, dan apakah pemeriksaan video dilakukan sebelum publikasi. Komunikasi tidak berhenti ketika keputusan disampaikan, melainkan pesan tersebut juga harus dipahami dan diterapkan secara konsisten.

Setelah kejadian tersebut, Alyssa menyampaikan bahwa Baby Soso tidak akan lagi muncul dalam vlog orang lain dan hanya akan ditampilkan melalui platform yang dapat dikendalikan oleh dirinya dan Al. Keputusan ini dapat dipahami sebagai upaya mempertegas perlindungan privasi anak ketika kontrol atas publikasi dirasakan belum memadai. Namun, keputusan tersebut tidak cukup untuk memastikan adanya kegagalan komunikasi internal.

Dari Kesepakatan Keluarga ke Tanggung Jawab di Ruang Publik

Kesepakatan keluarga perlu diterjemahkan menjadi tindakan praktis, terlebih karena konten media sosial dapat menyebar di luar kendali pembuatnya. Penghapusan unggahan asli belum tentu menghentikan penyebaran video yang telanjur beredar.

Baca Juga  Mewujudkan Politik Kebangsaan yang Berkemajuan dan Berkeadaban

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, orang tua perlu menyampaikan batasan secara konkret, termasuk apakah wajah anak boleh direkam, ditampilkan, atau diunggah. Kedua, anggota keluarga dan pembuat konten perlu memastikan batasan tersebut dipahami sebelum perekaman dan penyuntingan. Ketiga, video perlu diperiksa sebelum dipublikasikan. Jika wajah anak terlihat tanpa sengaja, pihak terkait perlu segera memperbaiki atau menghapus konten serta mengupayakan agar penyebarannya tidak semakin meluas.

Langkah-langkah tersebut tidak bertujuan menyalahkan salah satu pihak atau menghapus kebiasaan keluarga besar dalam mendokumentasikan kebersamaan. Sebaliknya, kebiasaan tersebut perlu disesuaikan dengan kepentingan anak dan keputusan orang tua.

Dengan demikian, FCPT membantu melihat bahwa komunikasi keluarga bukan hanya tentang siapa yang berhak mengambil keputusan, melainkan bagaimana keputusan itu dipahami dan diwujudkan oleh seluruh pihak. Perbedaan kebiasaan tidak harus dihilangkan, tetapi perlu dikelola melalui dialog, kesepakatan, dan tanggung jawab bersama.

Dalam kasus privasi anak, tujuan akhirnya bukan memenangkan perdebatan antara orang tua dan keluarga besar, melainkan memastikan bahwa kebersamaan tetap terjaga tanpa mengabaikan batasan yang telah ditetapkan.

Komunikasi keluarga yang baik bukan sekadar kemampuan mencapai kesepakatan, tetapi juga kemampuan menerjemahkannya menjadi tindakan nyata. Dengan demikian, menjaga kebersamaan tidak harus mengorbankan privasi anak, dan menghormati keputusan orang tua tidak harus berarti menghapus kebiasaan keluarga besar.

 

*) Penulis: Hakam Ayyusha Putra, S.Ds.

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur